Blogging versus Microblogging

Blogging versus Microblogging

Perbedaan mendasar dalam blogging dengan microblogging tentu saja yang jelas ada di batasan karakter per aksi. Blogging tidak membatasi jumlah maksimal tulisan sedangkan microblogging membatasi jumlah karakter sebesar 140 karakter per post.

Pengaruh positifnya adalah pelaku microblogging dituntut bisa menerangkan dengan jelas poin yang dimilikinya pada batasan 140 karakter. Pun karena pendek dan tool yang tersedia menfasilitasi dengan aksesibilitas yang mudah, microblogging bisa dilakukan dalam waktu sangat singkat. Akibatnya persebaran berita terjadi relatif jauh lebih cepat dari blogging.

Tidak sebatas itu saja, ada lagi yang menjadi perbedaan mendasar antara blogging dan microblogging. Yaitu pola pertemuan dan pencarian teman. Blogging, jika tidak dimulai dengan niat komersial atau benar-benar ingin membentuk komunitas, tidak akan mewajibkan pemiliknya untuk bersusah payah mencari pembaca baru atau teman-teman lamanya. Sementara itu, untuk microblogging (misal: Plurk, twitter) sedari awal telah memaksa penggunanya untuk mencari teman. Baik teman lama maupun baru.

Tanpa mencari teman-teman lama atau baru, timelinenya tidak akan terisi. Dan penggunapun tidak akan bisa melakukan interaksi. Akibat tuntutan inilah terjadi pergeseran atau penimbangan kembali tentang konsep “trust”. Sekarang, pengguna microblogging harus berinvestasi trust demi menemukan teman baru. Berusaha menanggapi noise sebagai signal yang tertunda dan kemudian mengevaluasinya setiap saat. Trust pun diberikan seperti proses perekrutan pegawai. Ada masa probasi yang akan menentukan seeorang akan diikuti atau tidak. Dan tiap beberapa periode akan dievalusi performanya. Jika orang tersebut lolos dalam proses seleksi “teman”, besar kemungkinan dia bahkan bisa menjadi teman baru di dunia offline.

Benar-benar “seronok”, Anda bisa mencari teman-teman baru baik dekat di Indonesia ataupun sejauh Chicago dan London! Bagaimana dengan Anda, mana yang Anda pilih?

Comments are closed.