Kenapa ada Simpati, Halo dan As

Seseorang perlu memahami kenapa suatu hal terjadi. Kenapa suatu langkah aneh diambil, dan apa yang menjadi dasar pemikirannya. Termasuk desain, kenapa Yahoo tetap bertahan dengan desain landing page yang padat dan Google tidak pernah tergoda menambahkan hal apapun di halamannya yang super melompong itu.

Karena membuat keputusan dan melangkah memerlukan banyak pertimbangan. Mengetahui satu hal secara detil memang perlu tapi tidak cukup baik. Bisa membuat aplikasi web yang sangat keren tidak berarti aplikasi web tersebut bisa langsung dikomersialisasikan. It’s whole another different story.

Termasuk di dalam dunia marketing, mengetahui kenapa Telkomsel meluncurkan banyak variasi kartu GSM adalah hal yang menarik dan perlu. Akan tetapi, bukankah mengambil fokus adalah yang terbaik. Jika ingin menjual Halo, kenapa harus diributkan dengan soal Simpati atau As?

Tergantung seberapa jauh Anda ingin maju dan menguasai pasar. Tergantung seberapa banyak profit yang ingin diciptakan. Rupanya di sini Telkomsel mengerti, ada banyak ragam kebutuhan akan layanan komunikasi dalam pasar Indonesia. Ada berbagai macam sifat dan kemampuan beli konsumen. Tua, muda, remaja. Eksekutif, anak sekolahan, warga pedesaan. Price oriented consumer dan value oriented consumer.

Telkomsel rupanya ingin memenuhi kebutuhan beberapa profil konsumen tersebut. Lalu kenapa harus membuat produk baru? Kenapa tidak membuat Halo A, Halo B atau Halo C? Karena di sini kita berbicara tentang brand/merek. Merek adalah segel janji. Setiap orang yang membeli suatu barang atau jasa dengan segel tertentu berarti dia membeli jaminan bahwa dia akan mendapatkan semua yang dijanjikan oleh produsen barang atau jasa tersebut.

Telkomsel ingin menjaga merek Halo. Sengaja tidak dibuat variasi dari merek ini supaya merek ini tidak rusak dan membuat pelanggan pergi. Jika boleh dikatakan, Halo adalah produk bagi value-oriented consumer. Harga tidaklah jadi masalah. Oleh karena ini, untuk memenuhi kebutuhan price-oriented (biggest bang for the buck) consumer, diluncurkan Simpati dan As.

Jawaban sama juga bisa didapatkan dari pertanyaan kenapa ada Lexus. Contoh ini bahkan lebih memukau karena Lexus sama sekali tidak memakai embel-embel Toyota. Lexus adalah produk untuk merambah segmen mobil mewah, jauh dari image-image produk yang dikembangkan Toyota sebelumnya. Tujuannya adalah supaya bisa bermain di pasar BMW yang identik dengan mobil mewah.

Dan masih ada banyak lagi jawaban dari mengapa ada berbagai macam merek. Coba saja baca buku On Segmentation (Hermawan Kartajaya).

Menarik bukan? Nah, siapa yang tertarik untuk memakai trik yang sama demi menjual produk atau blog-nya? Yang sudah pakai ayo mengaku di sini!

PS: Artikel eksklusif tentang brand akan menyusul tampil di NavinoT. Jangan ketinggalan, subscribe saja RSS-nya ;)

18 comments
hokya
hokya

menurut saya, semua memiliki fitur dan 'harga' yang berbeda dan disesuaikan dengan keperluan dan perekonomian konsumennya

purnomo
purnomo

damn.. that's right.. i always pay a lot for HALO,..
even if i send about 50 smses and call few people.. i have to pay more than 120.000/months...

Dian
Dian

gw pk esia :P
tp imho lexus walaupun positioningnyua mobil mewah dia belum sekelas macam mercy ma beemer bukan? macam nissan teana aja, walopun dia kelas mewahnya nissan, tetep aja dia dianggap kelas murahnya barang mewah

Aditya Ase
Aditya Ase

indomie..sarimie..and supermie...
^^ something like that.!!!.
hehehe sebenernya kalo layanan seluler saat ini seh..
orang dah ga liat merek lage...selama itu murah bwt telp or sms,,sikat aja dah...
pa lage bwt yang suka ganti2 nomor,,,
mo merek m3, mentari, as, pede or apa kek..selama lancar bwt "phone date"...

ceria jogja
ceria jogja

Kalo dari opini saya sih seperti yg saya ungkapkan sebelumnya, skema opsi fasilitas. Dan yg paling menarik adalah pemilihan fasilitas khusus via voucher tanpa ganti kartu dan merupakan produk, bukan promo.

Contohnya saja IM3 dengan voucher SMSnya. IM3 SMS bagaikan sebuah brand tersendiri padahal sekedar voucher. Semenjak opsi varian voucher diberlakukan di IM3, loyalitas penggunanya naik. Dibanding produk lain, turnnya paling rendah. XL juga melakukannya via XL Xtra, cuma lebih menarik IM3 SMS. IM3 SMS lebih fokus di SMS, tanpa mempengaruhi pulsa utama atau masa aktif pulsa utama. Fokus brand mendatang seharusnya di situ.

Kartu As jg sebenarnya melakukan hal yg sama, opsi SMS murah via *899#, cuma dia tetap terbatas SMS. Benar2 pengkotakan brand yg menyebalkan. Tadinya saya pengguna As, tapi buat net amit - amit susahnya, mahal lagi. Skr lagi penjajagan IM3. Paling tidak semua ada. Layanan suara, SMS yg bisa pilih2 vocer, dan tarif internet yg masuk akal. Hanya gara2 susah & mahal buat net yg bikin saya sebal sama kartu As.

Menurut saya sih utk tetap survive di jaman tarif murah ini kuncinya di kelengkapan & opsi layanan. Pengkotak2an brand via perdana semestinya sekedar menjadi kenangan sebuah keserakahan masa lalu, saat kita dicocok hidung jadi korban kartel 3 operator. Three & Axis tdk mungkin melakukan hal yg sama. Jaman sudah berubah.

Toni
Toni

@ceria jogja
Menarik sekali. Memang benar sih, pengguna Simpati mungkin merasa terjebak karena tidak ingin pindah nomor walaupun kena charge mahal. Mungkin mirip dengan keluhan pengguna kartu Halo yang iri dengan fitur-fitur di Simpati.

Menurut Anda sendiri, apakah memang perang tarif itu tak terhindarkan? Perang apakah yang mungkin terjadi setelah perang tarif?

ceria jogja
ceria jogja

Pada dasarnya, brand & fokus brand tetap ada dan dibangun, hanya saja bukan dalam kaitannya dengan kartu perdana, tapi lebih ke jenis/penamaan vouchernya.

Dulu, brand disematkan ke kartu perdana memang untuk meningkatkan profit. Telkomsel mengeluarkan kartu As untuk menggaet pengguna baru, sementara pengguna Simpati dibiarkan terjebak dan tersiksa dengan tarif tinggi karena sayang dengan nomor yang sudah lama mereka gunakan (meski sebagian diantaranya sebenarnya lebih suka dgn tarif kartu AS). Dalam kondisi demikian, Telkomsel jelas diuntungkan dengan brand beda - nomor perdana beda.

Sekarang kondisinya sangat berbeda. Kini adalah era perang tarif dan perang layanan. Pengkotakan layanan via brand yg tersemat di kartu perdana justru pemborosan. Baik pemborosan di sisi iklan, SDM, dlsb. Tidak ada lagi nilai tambah yg bisa diambil. Justru melemahkan brand itu sendiri krn layanan yg kurang lengkap (dgn dalih agar lebih fokus).

Toni
Toni

@ceria jogja
bagi pengguna memang praktis akan tetapi bagi produsen hal ini mungkin akan jadi relatif tidak menguntungkan karena brand-nya tidak bisa fokus. Menyasar semua konsumen dengan satu merek sepertinya memang menguntungkan karena tampak bisa menggaet semua jenis konsumen. Akan tetapi jika benar-benar dihitung dan dipertimbang, menyasar masing-masing konsumen dengan pricing tersendiri bisa jauh lebih menguntungkan. Selisih harga dan perbedaan fitur tidak akan membuat konsumen mudah marah karena mereka tidak digabungkan dalam satu kelompok.

ceria jogja
ceria jogja

Untuk ke depan, saya berharap hanya ada 1 kartu perdana dari telkomsel, yaitu kartu telkomsel. Simpati atau as berubah wujud menjadi voucher saja, jadi kita bisa pilih kapan saja sesuai kebutuhan kita.

ceria jogja
ceria jogja

Pemisahan brand seperi itu seharusnya sudah menjadi masa lalu. Idealnya pemisahan layanan dilakukan via voucher. Dengan voucher beda - beda fasilitas, pelanggan tidak harus berganti nomor saat kebutuhannya berubah sehingga loyalitas terhadap brand meningkat tinggi.

Komunikasi adalah bisnis jasa dimana nomor sangat terikat dgn penggunanya. Pengkotak - kotakan jenis layanan untuk selular seharusnya ada di sisi pelanggan via voucher, bukan di sisi operator.

Saya yakin, andapun lebih setuju jika layanan yg anda inginkan semuanya dapat anda pilih via voucher drpd harus gonta ganti kartu n gonta ganti nomor. bukan begitu?

ferro
ferro

mantap analisanya, thanks

nono
nono

saya pake provider yg laen...

jimmy
jimmy

wah saya malah gak kepikiran mensegmentasi blog.. satu blog untuk kalangan tertentu dan blog lain untuk kalangan lain, mungkin kalau di blog itu identik dengan niche ya..

podelz
podelz

Yups segmentasi adalah bagian dari bauran marketing. Itu sangat membantu company untuk memasarkan barangnya ke arah market yang lebih spesifik, sehingga tujuan dari produk/brand itu sendiri akan lebih mudah di capai.

Sebenernya Telkomsel mengeluarkan juga produk2 seperti yang anda sebut HALO A, HALO B atau HALO C, namun itu disebutnya sebagai paket halo (seperti halo hybrid, halo bebas komunitas, dll), karena mereka memiliki target market sendiri-sendiri dan segment di masyarakat luas untuk target market ini masih relatif kecil, makanya tidak dibuatkan product melainkan di include kan. Sama layaknya mobil BMW dengan serinya masing-masing...

VHA
VHA

BETUL ituw!! wat Herman Saksono,, buang aja sampah-sampahnya di TONG SAMPAH vha.. hue.. hue..

Anjar Priandoyo
Anjar Priandoyo

Wordpress untuk trafik Indonesia yang hit-nya tinggi dan mencoba membuat dotcom sendiri untuk trafik luar negeri. So far baik-baik saja sih dengan positioning demikian.

Herman Saksono
Herman Saksono

Saya memakai blog saya untuk menulis isu2 yang (pada umumnya) serius, dan plurk untuk menuangkan sampah-sampah.