The User-Experience

The User-Experience

Kemarin pikiranku tergeletik, bukan untuk berpikir kritis, tapi untuk memberi kritikan. Sebagaiseorang self-proclaimed internet addict, saya merasakan bahwa situs administrasi pengacara imigrasi yang saya bayar mahal tidak berfungsi seperlunya dan tampilannya yang masih era 90-an membuat mata ini gatal. Yang paling mengganggu adalah untuk menjawab suatu pertanyaan yang cukup berupa satu kalimat, saya harus melewati jalus pendaftaran dan log in masuk ke sistem mereka. Walaupun pertanyaan yang dilontarkan bukan suatu yang sensitif. Inilah user-experience yang buruk yang tidak menambah nilai suatu layanan, tapi malah menjatuhkan citra yang selama ini dibangun. Lalu mengapa saya koq mengumpat disini? bukankah ini blog tentang IT?

User experience merupakan salah satu aspek yang berkembang pesat di era Web2.0 ini. Jika dahulu kala suatu situs bisa bertahan karena fungsi yang istimewa, namun hal ini sudah bukan lagi ujung tombak yang bisa diandalkan. Dalam beberapa minggu terkahir, saya sudah beberapa kali mendengarkan keluh kesah para netprenuer yang kelabakan karena merasakan aplikasi yang dibangunnya kurang cantik atau user-friendly. Hal ini menunjukan bahwa pengguna juga telah menghargai penampilan, tidak hanya kebutuhan akan fungsi.

Hal ini juga berlaku dalam perkembangan iklan, yang tadinya mengandalkan kelap kelip animasi untuk menarik perhatian, kini malah menjadi hal negatif yang kelak dihindari oleh para pemilik situs yang memperhatikan pengalaman penggunanya. Iklan kini telah berevolusi dengan memberikan sedikit uji coba tentang produk yang ditawarkan, tidak hanya janji2 yang menarik perhatian.

Apa yang berubah hanya medianya atau hal yang disodorkan? Bukan, yang banyak berubah justru penggunanya. Pengguna yang tadinya belum terbiasa dengan banner penuh animasi yang menarik perhatian mata, kini sudah mahir dan tidak lagi tertipu dengan kelap-kelip banner, termasuk janji2 cepat kaya. Namun bukan berarti semua pengguna telah maju, kelengahan manusia dan rasa ingin tahu masih tinggi, maka hal2 ini masih juga dijalankan.

Dari sisi lain, pendekatan ke konsumen bisa melalui jalur kreatif. Membuat orang lain tertawa tentunya juga mengambil hati sang pengguna atau konsumen, yang bisa dilanjutkan dengan perkenalan produk lebih lanjut.

Untuk urusan aplikasi, menampilkan screenshot bisa memberi bayangan pengguna sebelum proses registrasi. Proses registrasi yang tidak berbelit juga mengurangi persentase pengguna yang menyerah di tengah proses registrasi. Masih banyak lagi hal2 yang perlu diperhatikan demi kepuasan pengguna.

Sudahkan anda memikirkan kembali experience dari produk atau layanan anda?

Comments are closed.