Politik Menggunakan Social Media?

Politik Menggunakan Social Media?

Kesuksesan Barack Obama untuk menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika merupakan perjalanan yang penuh tantangan. Namun kesuksesan ini merupakan hasil kerja keras dengan perencanaan yang sangat matang, bahkan juga di dunia maya.

Strategi penggunaan media internet dalam kampanye Barack Obama sangatlah tertata rapi dan patut diacungi jempol. Tidak heran bila internet sebagai media komunikasi baru mulai mendapat perhatian lebih, bahkan bagi para pelaku politik di Indonesia. Oleh karena itu, bersiap-siaplah menerima ajakan berteman lewat jalur social networking seperti Facebook atau Friendster, dan tak luput juga layanan microblogging yang lagi nge-tren seperti Plurk atau Twitter.

Kita di sini bukan untuk berbicara politik, tapi untuk menganalisa pemanfaatan internet dan social media untuk kepentingan politik yang benar. Apakah pantas untuk diterapkan di Indonesia?

Apakah masyarakat Indonesia siap?

Bila dibanding Amerika, penetrasi pemakai internet di Indonesia masih tertinggal jauh. Namun jumlah pengguna yang kecil ini termasuk golongan intelektual yang patut dipertimbangkan, karena mereka punya suara.

Mulai dari mana?

Bila kita melihat situs Barack Obama, sudah jelas ini adalah garapan profesional. Mulai dari logo, tatanan sampai konten, semua terlihat profesional dan teratur. Apa saja yang bisa dilakukan lewat markas besar kampanye ini?

  • Perkenalan – Ini merupakan kesempatan bagi para (calon) pendukung untuk lebih mengenal sosok yang didukungnya. Dari latar belakang sampai riwayat hidup bisa dijadikan bahasan.
  • Permasalahan – Membahas permasalahan yang sedang terjadi, termasuk gagasan dan solusi.
  • Media – Dalam bentuk foto atau video kampanye yang membantu menunjukan keterlibatan di masyarakat yang tentunya membantu membangun citra.
  • Tindakan – Ajakan untuk bergabung, mulai dari dukungan moral sampai berupa donasi.
  • Blog – Sarana komunikasi bagi para pendukung untuk ikutan menyumbangkan suara.

Kita sekarang di mana?

Partisipasi partai politik di Indonesia sudah mulai tampak di dunia maya, namun masih dijalankan dengan setengah hati. Terbukti dari profil resmi di layanan jejaring sosial Fupei, terlihat sangat sedikit yang membenahi profil partainya dengan benar. Parahnya malah menjadi ajang cibiran karena pengguna pada bingung karena banyaknya partai.

Apakah strategi Obama akan berhasil di Indonesia?

Untuk ini saya sangat setuju dengan pendapat Pak Nukman, yang mengungkapkan bahwa strategi yang sama tidak akan berhasil. Selain tingkah laku pengguna internet Indonesia yang berbeda, penerapan kampanye lewat dunia maya memerlukan keahlian khusus. Bila melihat apa yang sedang terjadi sekarang, tampaknya kita masih jauh tertinggal.

Walaupun dijalani dengan benar dan teliti, pengorbanan waktu dan tenaga masih belum sepadan dengan potensinya, karena jumlah pemakai internet yang masih sedikit.

Lalu apa maksud artikel ini?

Untuk mengingatkan para juru kampanye yang mulai merambah jejaring sosial dengan ajakan berteman tanpa alasan jelas. Yup! Sudah 2 orang korban penolakan saya. 🙂

Comments are closed.