Strategi monetisasi yang mana lagi?

Strategi monetisasi yang mana lagi?

Pownce segera ditutup, bukan berita baru. Bahkan minggu yang lalu EQO juga sudah tercium akan segera melangkah ke kolam yang sama, yaitu “The Deadpool”. 

Ada apa ini? Sekedar dampak resesi atau ada alasan lain?

Dugaan aman adalah berkat dua-duanya. Akibat resesi, yang mungkin telah melambungkan biaya operasional. Serta akibat lain misalnya kurang cepat termonetisasi. Another bubble burst? Bisa jadi, walau mungkin meletusnya bubble ini tidak diakibatkan oleh hal yang sama di era bubble burst yang pertama.

Resesi tak dapat diramal. Well, tidak untuk setahun dua tahun sebelumnya. Apalagi jika Anda seperti saya, yang jelas-jelas bukan senator atau anggota parlemen yang punya akses ke kondisi finansial negara. Oleh karena itu monetisasi harus selalu jadi prioritas utama dalam mensetup sebuah startup.

LOL. Mungkin tidak juga. Robert Scoble pada tahun 2006 bilang bahwa Google Map diluncurkan tanpa strategi monetisasi yang jelas. Dan sepertinya sampai saat ini kita belum mengetahui bagaimana Google memonetisasi Google Map. Walau fiturnya sekarang sudah terlalu canggih untuk sekedar digratiskan. Sementara yang lain sudah mati-matian membuat business model dan mulai menarik biaya langganan konsumen, Google malah menambah fitur tanpa meminta imbalan apapun. Gila?

Gigya, per berita Techcrunch, memilih strategi membuat layanan widget dengan brand di samping layanan gratis yang sudah dipunyainya. Gratis tidak bisa diubah menjadi berbayar. Namun gratis tak bisa juga di-shutdown karena hal tersebut adalah penarik pengguna. Pengguna adalah pasar. Ini strategi subsidi silang.

Apple ? Tidak ada yang namanya gratis. Kenapa harus gratis jika semua mau membayar? Pengguna rela membayar karena mereka tahu, mereka akan mendapatkan uang mereka kembali dalam produk yang mereka terima. Kok bisa? Bukankah semua orang suka dan menghendaki gratis?

Lalu, mana strategi yang terbaik. Apa yang harus Anda pakai untuk memonetisasi aplikasi web Anda? Anda mungkin kesal, kenapa tidak dijawab saja pertanyaan ini. Well, karena tidak ada peluru perak atau strategi super jitu yang bisa dipakai semua orang. Setiap orang melihat dirinya sendiri, kekuatan dan kelemahannya kemudian menyusun strategi.

Google Map tidak langsung dimonetisasi karena Google Map lebih penting untuk kepentingan brand. Meskipun kita tak pernah tahu apakah Google menjual teknologi map-nya di level corporate. Gigya tahu, mereka tak bisa hidup selamanya dengan menggratiskan layanan. Karena itulah Gigya membuat versi komersial dari layanannya (branded widget). Apple? Apple know it has a hell lot crazy users. LOL. Apple tahu mereka punya produk yang bagus. Produk yang benar-benar bisa mereka jual langsung.

Sekarang giliran Anda. Pilih strategi yang mana? 😉

Comments are closed.