Semua Ide Anda Payah!

Beberapa waktu yang lalu. JPG Magazine mengucapkan “selamat tinggal”. Adalah mengejutkan karena konsep yang dibawa JPG Magazine sebenarnya sangat hebat. Bayangkan saja, sebuah majalah yang isinya disumbang oleh pembacanya (User Generated Content). Dan mereka bisa terbit! Konsep mungkin mirip dengan konsep majalah indie, tapi yang ini lingkupnya adalah internasional. Tidak disangkal internet membawa pengaruh besar bagi terwujudnya hal semacam ini.

JPG Magazine tidak diedarkan secara gratis. JPG Magazine diterbitkan secara profesional dan komersial. Ya, mereka juga membuat spot iklan. Coba bayangkan. Isi majalah tidak perlu mencari karena mendapat kontribusi dari pembaca. Tidak perlu banyak keluar biaya pencarian konten. Setelah itu, spot iklan juga dijual. Jelas, pasti neraca selalu berat di income bukan? Tapi kenapa JPG Magazine yang begitu cespleng konsepnya ternyata malah harus “bongkar lapak”?

Robert Scoble mendaftar 5 poin mencerahkan, mencoba menganalisa kegagalan JPG Magazine. Jujur, banyak di antaranya yang menghantam idealisme saya. Contoh paling jelas:

Jika Anda punya majalah fotografi, apa yang akan Anda pakai sebagai gambar sampul? Oh, saya yakin banyak di antara Anda yang akan berseru: “Tentu saja. Jelas. Foto paling menarik atau kontroversial dalam majalah itu.”. Benar?

Sadarkan Anda, walau memajang gambar terbaik akan mengundang pembaca, transaksi tidak akan banyak terpancing. Kok bisa? Well, kira-kira apa yang bisa pengiklan jual jika pembaca hanya tertarik pada gambar sampul yang menawan? Mungkin penjual kamera bisa pasang iklan di sana. Tapi penjual iklan ini akan ragu, bukankah yang membeli majalah hanya tertarik pada gambarnya? Belum tentu pembaca akan membeli. Coba jika gambar sampul diganti dengan gambar kamera dan aksesorisnya yang tercanggih. Tentunya yang membeli majalah jelas-jelas pembaca setia, dan orang-orang yang tertarik dengan kamera canggih di gambar sampul itu bukan? Ya, peluang transaksi/konversi di strategi kedua ini lebih menjanjikan. Inilah yang akan menarik pengiklan untuk membeli spot di dalam majalah tersebut.

Hayo, coba kita lihat lagi. Mana di antara ide kita yang terlalu idealis, terlalu sempurna, tapi justru jadi tong nyaring tapi kosong dan tidak ada uangnya? I told ya, it’s like a slap — a waking up call. Oleh karena itu marilah tidak lupa menjadi pribadi yang realistis. Semua ide Anda (dan termasuk juga ide saya) payah. No big idea is big until you can make money out of it. Tidak ada ide yang benar-benar besar sampai Anda berhasil mendapatkan uang darinya.

Simak 5 poin selengkapnya di blog Robert Scoble. Mudah-mudahan Anda juga tertampar seperti halnya saya :D