Bangun dengan Opensource

Bangun dengan Opensource

Minggu ini mungkin adalah minggu yang sibuk bagi semua orang. Tidak hanya di sini tapi juga di luar sana. Betapa tidak, kita lihat saja hari Rabu kemarin. Nokia, yang tahun lalu membeli Trolltech, mengumumkan bahwa Qt akan menambahkan lisensi dari hanya GPL ke GPL dan LGPL. Ini perubahan besar dan mungkin sudah direncanakan dan juga tak terelakkan bagi Nokia.  Selain berganti lisensi demi keramahan terhadap dunia bisnis, source Qt juga akan dibuka secara lebih transparan.

Apa arti peristiwa tersebut? Bergantinya lisensi Qt ke LGPL berarti source code aplikasi yang diturunkan dari Qt tidak diharuskan memasang lisensi GPL. Pemain komersil tidak akan lagi ragu untuk memanfaatkan Qt seperti yang terjadi sebelumnya. Tanpa perubahan ini, Qt tak akan pernah jadi populer di dunia komersil. Tentu saja, dengan kepopuleran Qt, Nokia mengharapkan terciptanya pasar bagi produk-produknya yang lain.

Tidak hanya Nokia saja yang membuat berita. Hari kamis kemarin, Google mengumumkan penutupan pengembangan Google Notebook, penutupan Dodgeball, dan segera menutup fasilitas upload Google Video. Tidak berhenti sampai di situ saja, Google juga menutup Jaiku. Ya, jaiku yang baru saja dibeli dan belum pernah diluncurkan terbuka. Khusus untuk Jaiku, Google punya rencana lebih. Google akan membuat Jaiku menjadi proyek opensource.

Apa yang bisa kita sikapi atau simpulkan dari langkah Google ini? Tentu saja, nomor satu adalah perampingan. Google berusaha mengurangi pengeluaran berupa biaya pemeliharaan dan pengembangan layanannya yang kira-kira masih terlalu lama bisa dimonetisasi. Ya, mungkin Google pun bisa clueless.

Bagaimana dengan Jaiku? Kenapa Jaiku dijadikan proyek opensource? Apa Google ingin melepas Jaiku sambil merusak pasar Twitter dan clone-nya? Motion? Memastikan tak seorangpun akan menelikung Google di masa resesi ini?

Lalu bagaimana kira-kira kita bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari peristiwa ini? Hmm, Jaiku adalah perangkat lunak yang tidak main-main. Kondisinya yang selama ini sengaja ditutup adalah salah satu pertanda bahwa ada sesuatu yang besar dibaliknya. Jaiku, dalam hal fitur sepertinya sudah setara dengan Twitter. Integrasinya dengan Short Message Service adalah a killer-feature. Khususnya untuk wilayah Indonesia dan Asia yang hobi mengirimkan SMS.

Nah, alat sudah tersedia. Kini tinggal memutar otak dan melihat peluang-peluang yang dulunya tak masuk akal. Hayo, siapa yang paling cepat belok di tikungan 2009?

PS:

  1. Anda tidak dilarang loh untuk mencoba menjawab berbagai pertanyaan di atas?
  2. Anda bisa menagih Ivan untuk menulis soal sisi ekonomi dan marketing dari peristiwa ini ;). He can dig deeper, I believe. Mungkin sesuatu yang berjudul Bubble Burst 2.0 😉

Update:

Layanan Jaiku sendiri masih akan aktif. Hanya pengembangannya secara internal, Google akan cease. Thanks LouCypher.

Comments are closed.