Cloud Break Down: Masihkah Cloud Bisa Dipercaya?

Cloud Break Down: Masihkah Cloud Bisa Dipercaya?

3145969738_e5bce9b298

Sudah tak terhitung sepertinya seberapa banyak kita bergantung pada cloud computing. Beberapa dari kita lebih suka menyimpan e-mail di gmail, yahoo, atau hotmail karena bisa diakses dari mana saja. Kita juga menyimpan foto di cloud untuk mempermudah proses berbagi. Bookmark juga kita simpan di cloud demi portabilitas dan berpartisipasi dalam social bookmarking.

Beberapa hari yang lalu, Magnolia, salah satu penyedia layanan social bookmark mengalami data loss (Friday Failure). Layanan pun harus dimatikan sementara dalam rangka melakukan data recovery. Pengguna pun tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti update proses recovery lewat twitter, dan berharap semoga layanan tersebut segera pulih kembali.

Kasus terbaru adalah Google, yang sempat error dan menganggap semua URL sebagai referensi malware. Faktor kesalahan manusia diklaim sebagai penyebabnya. Benar atau tidak, ini salah satu bukti bahwa sistem cloud bisa juga mengalami kegagalan.

Richard Stallman tidak percaya pada cloud karena sifatnya yang mirip proprietary software. Data Anda dipegang orang lain dan Anda hanya bisa berpangku tangan saat terjadi masalah.

Saya sendiri saat ini tidak punya banyak data di cloud. Meskipun demikian, jika layanan berbasis cloud ini gagal saya ngeri membayangkan dampak kolateralnya. Bayangkan saja jika Gmail tiba-tiba down. Begitu banyak yang memakai layanan ini, dan secara domino pasti berefek ke banyak orang dan mungkin sektor.

Mungkin di sinilah layanan offline benar-benar bersinar. Google Docs offline, GMail offline, dan lain sebagainya. Mungkin di sinilah juga value sinkronisasi bookmark Firefox ke Delicious atau Opera dengan Opera Sync-nya. Ketika cloud gagal, paling tidak kita masih punya data offline-nya.

Bagaimana dengan Anda? Di mana posisi Anda tentang pemakaian layanan berbasis cloud. Sepenuhnya percaya, setengah percaya ataukah menghindarkan diri dari cloud?

Comments are closed.