Rasa Buku: Black Swan

Rasa Buku: Black Swan

Black Swan

Penemuan angsa hitam menggambarkan betapa terbatasnya pembelajaran yang kita peroleh dari pengamatan-pengamatan dan pengalaman-pengalaman serta betapa rapuh pengetahuan kita selama ini.

Bukannya semua angsa itu putih? Sebagian besar dari kita, termasuk saya, hanya senang membaca buku dan mencari informasi yang ingin menegaskan apa yang sudah kita ketahui. Jarang-jarang, dan mungkin malah kita enggan untuk melakukan pembelajaran untuk menegaskan apa yang tidak kita ketahui. Hal ini menghalangi kita untuk melihat Black Swan meskipun si angsa hitam ini muncul di depan kita. Ah, itu kan penyimpangan genetik semata.

Black Swan adalah sebuah peristiwa yang mempunyai tiga sifat sebagai berikut. Pertama, peristiwa tersebut lain dari pada yang lain dan datangnya tidak diharapkan karena tidak pernah kejadian di masa lampau yang dapat menunjukkan kemungkinan terjadinya peristiwa ini. Kedua, peristiwa tersebut mempunyai efek yang ekstrim. Ketiga — yang paling dahsyat – walaupun peristiwa ini berbeda sama sekali dengan yang lain, sifat dasar manusia mendorong kita membuat penjelasa-penjelasan atas peristiwa tersebut setelah peristiwa itu terjadi. Dan membuatnya seolah-olah dapat diterangkan dan diprakirakan.

Black Swan ini bisa berupa hal yang tidak menyenangkan atau justru hal yang kita tunggu-tunggu. Dalam konteks entrepreneurship, hal ini bisa berupa naiknya harga BBM, atau tiba-tiba turunnya suku bunga bank, atau krisis global. Hal-hal ini dikaitkan dengan momentum, kecepatan reaksi dan strategi akan menjadi penentu siapa yang akan bertahan dan memimpin di depan.

Kita selalu mencoba memahami peristiwa sesuai apa yang kita inginkan dengan rumus-rumus yang lebih kita percayai. Tidak, buku Black Swan tidak membahas isu kekurangan informasi, namun lebih pada tingkah laku manusia dalam proses pemilahan dan penyikapan terhadap informasi.

Sejarah tidak merangkak, melainkan melompat. Sejarah berpindah dari satu serpihan ke serpihan lain.

Cuplikan di atas juga salah satu hal yang enggan dipercayai. Dan masih banyak hal lagi yang menghalangi kita untuk melihat Black Swan. Ketidakmampuan untuk melihat Black Swan bisa disamakan dengan salah analisa yang tentu saja membuat proses pembuatan keputusan menjadi tidak efektif.

Nah, sekarang bagaimana tulisan ini harus saya tutup? Siapa yang mengangguk-anggukkan kepala (nodding)?

PS:

  • Saya belum selesai membaca buku Black Swan ini, bahkan belum selesai satu bab. Meskipun demikian pengantar buku ini cukup menggugah dan mengingatkan bagaiamana kita bertingkah laku.
  • Bagi yang sudah membaca buku ini, silahkan menambahkan atau mengkoreksi. Saya yakin bahwa buku adalah cermin yang mampu memantulkan berbagai hal. Efeknya bagi tiap orang tidak akan sama.
  • Rasa Buku bisa disingkat RaBu. Mudah-mudahan bisa konsisten seperti halnya JuTek (Jumat Tekno) 😀
Comments are closed.