API: Penyelamat Bisnis Surat Kabar?

chainlink

API, atau Application Programming Interface, adalah hal umum di era web2.0 ini. Dengan layanan API, para pengembang aplikasi bisa mengakses data induk dan melakukan serangkaian proses lewat aplikasi buatannya sendiri.

Penggunaan API pada sudah terbilang lazim untuk aplikasi web, tapi masih merupakan hal baru bagi penyedia layanan berita. Boleh dikata, berita adalah barang dagangan pokok yang tidak semua orang bisa menikmati secara gratis.

Langkah New York Times untuk menyediakan API telah membuahkan berbagai macam aplikasi unik. Tidak lama, koran The Guardian juga tidak mau ketinggalan. Tapi apakan API merupakan salah satu cara bisnis surat kabar untuk selamat di dunia maya?

API Membangun Pendukung Baru

Secara tidak langsung, dengan adanya pihak ketiga (pengembang aplikasi), surat kabar telah diuntungkan dalam urusan publisitas. Secara tidak langsung, aplikasi dari para pengembang bisa diibaratkan sebagai dukungan terhadap produk utama. Tentunya para pengembang juga ingin aplikasinya populer dengan mempromosikan ke teman-temannya.

Kredibilitas Sudah Ada

Surat kabar sendiri tentunya sudah mempunyai kredibilitas mantap sebagai sumber berita terpercaya. Tanpa pikir panjang, pembaca sudah percaya dengan kualitas berita. Lain dengan tulisan para blogger baru yang masih meragukan. (Domain name saja masih pakai yang gratis :( )

Materi Tidak Selalu Berupa Berita

Dengan banyaknya penulis independen semacam blogger, surat kabar jadi kalah saingan dan kalah cepat. Lagi pula, materi yang dinikmati tidak selalu harus berupa berita. Namun bisa berupa tutorial, interaksi sosial, dan kontribusi pengguna.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Bisnis surat kabar di Indonesia masih terbilang subur, karena pengguna internet masih terbilang sedikit. Namun dengan pertumbuhan pengguna internet yang cepat dan turunnya biaya akses internet, tidak ada salahnya surat kabar untuk mulai mempersiapkan strategi-nya. Yang penting tidak menganggap enteng media baru ini. Sudah waktunya sewa desainer, tidak hanya programmer dan penulis.

Perlu API? Tidak ada salahnya untuk berbagi. Bukankah berbagi itu indah? Sebetulnya langkah semacam API belum terbukti menguntungkan untuk surat kabar lokal. Selain menambah beban infrastruktur, juga tidak menambah jumlah halaman. Dengan kata lain tidak bisa dipasangi iklan. Bahkan New York Times sendiri belum menikmati hasilnya dari sisi revenue. Jadi saya rasa tidak perlu melangkah sejauh ini dulu.

Akses Premium?

Dengan koleksi data yang luas dan kredibilitas, langkah selanjutnya adalah layanan API berbayar. Lebih cocok untuk kepentingan komersial yang lebih mampu membayar premium.

Ada pandangan lain tentang API dan surat kabar?

via ReadWriteWeb

13 comments
Gek
Gek

KAyaknya gak terlalu susah tergantung dari publishernya sendiri...trial n error mah dah biasakan...
dari trial n error itulah sesuatu hal jadi bisa lebih sempurna...:)

edwar
edwar

Tetap ada segemen pasar untuk orang yang senang membaca koran ...

suprie
suprie

*glek*

masuk ke API bisa berarti rombak ulang sistem, belum lagi trial and error, jadi mungkin masih lama.

Rommi Ariesta
Rommi Ariesta

Wah nyingung saya ni bilang masih ada yg pake domain gratis. hehehehe

BudiTyas
BudiTyas

Demand 1 saja cukup jika itu bisa mengcover dana buat bikin API sekaligus buat blueprint function2nya. Misal ga ngecover semua, paling tidak cukup buat start projectlah, dgn asumsi stelah jadi bs ditawarkan ke banyak pihak. Klo ada peminatpun pasti memilih situs berita yg terbaik dulu. Jika yg terbaik ini deal 1 aja ga dapet, ya scr bisnis blom layak eksekusi dong. Klo yg lain mo duluan gpp, berarti dia mau rugi uang dan waktu utk peminat yg belum tentu ada. API kan layer berisi kumpulan fungsi utk akses dbase, lha klo peminat blum request masa dikarang2 dulu function2nya. Boundary projectnya jadi ndak ada. Tambah aneh kan?

paris
paris

saya pro API untuk surat kabar lokal ini, dari segi dunia pendidikan dan penelitian banyak yang bisa dimanfaatkan dengan adanya API ini.

Herman Saksono
Herman Saksono

Membuat API, tidak sekadar butuh kemauan tapi juga butuh dana. Nah ini kembali ke strategi tiap penerbit, mau nggak investasi ke OpenWeb saat ini.

BudiTyas
BudiTyas

Berangkat dari peminat. Demand dulu, kalo negonya co2k, baru situs berita bikin API nya. Kalo ternyata demand banyak, ya malah kebetulan. Tinggal APInya dikomersialkan masal. Klo di indo ada yg minta sama kompas utk dispesialkan biar leluasa akses data pasti kompas bikin API yg sesuai, itu klo duitnya co2k. Klo nda ada yg minta, ndak ada yg butuh buat apa bikin API segala.

Billy Koesoemadinata
Billy Koesoemadinata

API di indonesia? hmm.. kaya'nya pasar masih ada.. dan bisa diciptakan.. tapi, apa surat kabarnya mau?

Toni
Toni

Kalau masih bisa dijual, ngapain digratisin? Dipermudah dengan API malah, ah ngerepotin pemilik data saja.

Dan pemain pun lokal akan mengaktifkan mode tunggu sampai ada cerita sukses. Kemudian kita tiru. Strategi ini masih maknyus untuk dipakai, jadi ya tidak usah diganti mencoba yang aneh-aneh lah. Haha :D

PS: Saya pro API. Mix and match selalu lebih meriah daripada es krim satu rasa yang dimakan tiap hari.

wapman
wapman

kelihatannya begitu arahnya....peralihan dari media cetak ke media digital tampaknya sudah terasa di Indonesia.

dulu kompas dan detik coba memajaki pengguna konten kompaswap dan detik wap, sudah 'menyerah' sekarang dengan tambahan 'm.' kompas dan detik bisa diakses gratis. kompas/kontan malahan menyediakan e-paper, hanya saja model bisnis apa yang bisa menggantikan pendapatan iklan dari media cetak dengan pendapatan iklan dari media digital, belum ada data resmi ataupun pembanding....barangkali mas ivan/toni bisa menyajikan data dari NYT

Toni
Toni

Strategi 101 ya? offer follows demand. Tapi sekarang ini kalau tidak cepetan, pada saat kita kasih offer ternyata konsumen tidak demand lagi akibat terpenuhi oleh yang lain :D. Gimana dong?

Mungkin tinggal lihat proporsi demandnya kali ya? Ada ambang batas tertentu mungkin yang bisa dipakai ini demand yang profitable atau tidak :D