Seth Godin: The Dip

The Dip
Yes, kita kembali mengulas buku Seth Godin. Kebetulan saya punya beberapa bukunya yang sudah terbeli namun belum selesai dibaca. Kali ini buku yang hendak diulas adalah The Dip.

The Dip membahas tentang seni berhenti. Ya, berhenti itu ada seninya. Tidak sebarang waktu kita boleh melakukannya ataupun melanggarnya. Hal ini akan menentukan apakah kita bisa menjadi yang terbaik atau tidak.

Long Tail mengatakan bahwa menjadi yang terbaik itu relatif tidak terlalu penting, karena ada banyak sekali value yang bisa diperoleh di posisi-posisi selain yang terbaik. Tapi yang tidak boleh kita lupakan adalah seperti apa perolehan antara yang terbaik dan yang tidak terbaik. Seth Godin memberikan contoh berupa produk es krim dan film box office. Ternyata produk terbaik nomor satu memiliki pendapatan/omset yang jauh lebih tinggi daripada produk terbaik kedua. Produk terbaik kedua dan selanjutnya hanya memiliki selisih yang tidak kontras.

Seth menulis, ada beberapa hal yang menghalangi kita menjadi yang terbaik – menjadi yang dicari oleh banyak orang yang hanya memiliki satu kesempatan untuk memilih. Yang pertama adalah isu ketidakterbatasan. Pasar begitu terbuka saat ini sehingga menjadi medan yang sangat susah untuk dikuasai seluruhnya. Ketidakterbatasan ini terlalu banyak sampai-sampai membuat orang sering keliru mengambi keputusan. Dari yang tidak jadi membeli karena panik akan banyaknya pilihan atau yang tak ambil pusing dengan memilih market leader.

Kedua, “Is this the best thing you can do?”. Banyak perusahaan yang puas dan lengah karena telah menjadi tingkatan cukup baik. Cukup memperoleh revenue, merasa besar dan kuat, cukup diterima pasar, bersikap santai, dan berhenti memperbaiki sesuatu sebelum mencapai tahap luar biasa. Akhirnya banyak di antaranya yang gagal karena tidak tahu kapan harus berhenti atau tetap berlari.

Ketiga, “Kita ‘salah’ belajar di sekolah”. Tentunya masih kita ingat, bahkan mungkin sampai jenjang pendidikan terakhir kita bahwa kita harus selalu menjadi yang terbaik di semua mata pelajaran. Saya cukup stress karena saya tak pernah bisa dapat nilai bagus dalam pelajaran olahraga. Akan tetapi, jika kita lihat saat ini lowongan kerja ternyata hanya mencari yang terbaik saja di bidangnya. Sysadmin yang dicari tentunya yang punya kungfu tinggi dalam mengetik di terminal dan tahu direktif yang mana yang harus di-enable dalam setting untuk meningkatkan performa server. Bisa naik kuda, mahir golf, dan mampu memanjat pohon tidak akan diperhitungkan dalam proses rekrutmen. Well, tentu saja, allround person masih dicari dengan batasan allround yang masuk akal.

Lalu apa sebenarnya The Dip? The Dip adalah sebuah cekungan yang harus Anda lalui sebelum mencapai puncak bukit. Dalam definisi Seth Godin, The Dip adalah tarikan panjang antara permulaan dan penguasaan.

Dip adalah kombinasi antar birokrasi dan kegiatan yang merepotkan – yang harus Anda lakukan untuk memperoleh sertifikat menyelam. Belajar menyelam mungkin adalah yang menyenangkan. Sewaktu bisa menyelam, tentunya Anda mengalami excitement yang luar biasa. Tapi saat Anda mengurus sertifikat menyelam, kadangkala Anda seperti ingin menyerah begitu saja.

Dip adalah tarikan panjang antara keberuntungan pemula dan pencapaian sesungguhnya.

The Dip adalah salah satu dari tiga kurva yang memisahkan Anda dari posisi terbaik. Dua kurva lainnya adalah Kuldesak dan “Bukit Terjal”.

Kuldesak adalah bahasa perancis yang berarti jalan buntu. Dalam kurva ini, tak peduli betapa banyaknya usaha yang Anda lakukan dan tak peduli berapa lama Anda melakukannya, Anda tak akan bisa maju ke mana pun. Anda jaan di tempat. Ketika hal ini terjadi, tentunya kita harus berhenti dan berfokus pada hal lain yang bisa mengantarkan kita ke posisi terbaik.

Kurva yang terakhir adalah “Bukit Terjal”. Dalam kurva ini segalanya tampak indah. Memang ada sedikit tantangan daam perjalanan namun semakin Anda berjalan semakin menyenangkan pula hasilnya. Sayangnya Anda tidak tahu bahwa ujung bukit tersebut adalah jurang. Anda terlalu bersemangat untuk berlari dan tidak bisa berhenti sampai Anda jatuh dan semuanya berantakan. Contoh riilnya mungkin saat Anda bermain saham.

Jadi, kapan kita harus berhenti dan kapan kita harus terus berjalan? Yang mana yang bisa kita anggap Dip dan mana kurva yang menyesatkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya Anda mulai membaca bukunya :)

Menurut Anda, NavinoT berada di kurva yang mana?

5 comments
Richard Fang
Richard Fang

navinot kayaknya masih di awal2 deh hehehe blom menurun tuh kurva nya, mari kita dukung terus! lanjutkan!

deniardians
deniardians

Bagi para pemain forex,buku ini kayak nya wajib di baca,saat nya memasang Stop loss..

Robertus Bria
Robertus Bria

yang jelas navinot bukan kuldesak, karena memiliki tujuan dalam ngeblog:).
Makasih sekali infonya navinot. Ini bisa dijadikan pelajaran dalam menghadapi tantangan kehidupan ini:)

BudiTyas
BudiTyas

Seni berhenti microsoft : ragu2. Encarta:agak telat. Cuma 1%an marketshare...,telat nutupnya. Xp, tutup buku, lalu buka lagi. Foxpro..., gmana kbar foxpro?

Toni
Toni

Hahaha, The Dip tidak pernah menyingung soal pemain Forex loh :p. Lebih umumm tentang when to stop or keep running. Walau sebenarnya Seth Godin sendiri sering mengkaitkan dengan dunia marketing :)