5 Tanda Tim yang Disfungsional

5 Tanda Tim yang Disfungsional

Teamwork

Hari ini resensi bukunya libur dulu supaya teman-teman tidak bosan. Sebagai gantinya akan kita bahas bersama hal menarik terkait teamworking. Tentunya kita seringkali bekerja dalam tim. Apakah tim kita telah bekerja secara efektif dan benar-benar menjalankan fungsi teamworking?

Tanda pertama dari tim yang tidak berfungsi (disfungsional) adalah the absence of trust. Ketiadaan rasa saling percaya adalah gejala mendasar dalam tim yang tak berfungsi. Hal ini sangat berbahaya karena menyumbangkan lenyapnya bond/ikatan dalam tim. Bagaimana mungkin tim yang setiap komponennya memegang share dalam pencapaian tujuan ternyata tidak percaya satu sama lain. Mungkin waktu akan habis dengan memikirkan kecemasan daripada benar-benar bekerja mencapai tujuan.

The absence of trust mengerucut menjadi  fear of conflict. Karena tidak saling percaya, anggota tim menjadi lebih enggan untuk berinteraksi dengan anggota tim yang lain. Keengganan ini muncul karena anggota tim tahu bahwa apapun yang dikemukakan akan memicu konflik dengan anggota lain. “I don’t trust your idea, mine is better” atau “I don’t know if my idea is better but I’m sure yours is not” adalah hal-hal yang ditakuti.

Fear of conflict berujung pada ignorance. Tingkat kompromi sangat tinggi, namun komitmen sama sekali tidak ada. Ketidaksetujuan yang ada pada tiap-tiap anggota tim tidak pernah muncul atau bergesekan, namun tetap terbawa dalam bentuk lack of commitment. Kata setuju memang bisa dicapai tapi tanpa esensi karena “setuju” yang muncul adalah sekedar demi mengeliminasi konflik.

Lack of commitment berimbas pada avoidance of accountability atau penghindaran tanggungjawab bersama. Goal tim seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Namun avoidance of accountability membuat anggota tim careless terhadap yang lain. For the sake of “setuju” dan sekedar berkomitmen, anggota tim pun sekedar menjalankan bagian tugas dia saja tanpa peduli tugas-tugas anggota tim yang lain.

Avoidance of accountability akhirnya membuat tim menjadi semakin disfungsional karena tiap anggotanya tak lagi peduli pada hasil akhir yang ingin dicapai (inattentive to result). Tim pun  gagal karena tak pernah bisa mencapai tujuan kenapa tim tersebut dibentuk.

Kelima faktor di atas bisa disusun sebagai piramid yang dimulai pada the absence of trust dan berpuncak pada inattentive to result. Mudah-mudahan tim kita tidak terjebak pada hal-hal di atas. Jika iya, kita sudah sama-sama tahu apa yang harus dilakukan bukan? Mulailah menghilangkannya.

PS:

Terimakasih pada yang merasa membagikan ilmu ini 🙂

Comments are closed.