Bisnis Cetak Masih Bisa Selamat?

Bisnis Cetak Masih Bisa Selamat?

newspaper

Banyak yang menganggap bisnis media cetak sudah di ambang kepunahan, atau tinggal tunggu waktu saja. Dengan tarif internet yang semakin turun dan jumlah pengguna yang semakin bertambah, sudah jelas ini ‘ancaman’ yang tidak bisa dianggap remeh bagi para pelaku bisnis media cetak.

Tapi, di tengah kecemasan tersebut, ternyata masih ada saja sejumlah bisnis cetak (majalah) yang menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya. Magazine Publishers of America menyatakan bahwa 28 majalah (dari 249 publikasi yang dipantau) di Amerika mengalami pengingkatan.

Bukankah ini suatu nada merdu bagi bisnis media cetak? Anehnya, Hallmark Magazine malah memutuskan untuk menghentikan publikasi.

Apa betul peluang masih ada?

Bila ada apa yang seharusnya kita lakukan? Coba perhatikan sejenak daftar majalah yang mengalami peningkatan. Dari sana bisa kita ambil beberapa kesimpulan:

1. Topik harus (sangat) niche – Layaknya majalah, topik yang diambil cenderung lebih sempit dari sura kabar. Tapi dari daftar tersebut, banyak yang menarget wanita atau ibu rumah tangga dengan topik khusus, seperti berkebun atau majalah keluarga. Mengingat pengguna internet sebagian besar adalah pria (meskipun wanita juga sudah menyusul), pantaslah bila topik tersebut punya kemungkinan sukses yang lebih besar.

2. Semakin niche, semakin susah dipasarkan – Karena topik yang dipilih lebih sempit, menemukan pembaca juga jadi lebih susah. Dengan kata lain pemasaran harus ditarget langsung ke komunitas, seperti penggemar Motocross atau Golf.  Bukankah Golf juga termasuk olah raga orang tua?

3. Faktor personality – Ada kalanya seseorang tertarik untuk berlangganan karena daya tarik bintang idolanya, atau star factor, seperti Tante Paula Deen si jago masak.

4. Menjauhlah dari bahasan teknologi – Internet identik dengan perkembangan teknologi, oleh karena itu pengguna yang ramah teknologi sudah terbawa ke media baru. Konsekuensinya, media tradisional lebih cepat ditinggalkan, seperti majalah PC Magazine.

5. Tambahkan analisa, kurangi berita – Salah satu kelemahan media cetak adalah faktor periode penerbitan yang harus menunggu, sehingga tidak bisa adu cepat dengan internet. Tapi, ulasan berbobot, atau laporan khusus, seperti di majalah Fortune masih menarik minat pembacanya. Ada juga faktor exclusive yang hanya tampil di versi cetak saja.

6. Pindah ke media online? Jadikan premium! – Tapi strategi ini perlu dipikiran dengan matang, karena artikel yang disajikan harus 100% exclusive. Pastikan juga artikel yang disajikan tidak didapat di situs sebelah, alias pasaran.

Bagaimana Dengan Pasar Indonesia Sendiri?

Bila diamati beberapa tahun terakhir, banyak pelaku bisnis cetak mulai bergerak ke arah media online. Tapi saya pribadi masih meragukan tujuan mereka yang sebenarnya. Apakah langkah antisipasi karena media baru? Atau ngiler iri dengan tarif iklan Detik.com?

Satu lagi yang jadi pertimbangan, yaitu apakah versi cetak akan bentrok dengan versi online? Mengingat jumlah pengguna internet yang masih relatif kecil (meskipun tidak bisa diremehkan begitu saja), Indonesia masih belum sepenuhnya melek teknologi. Sehingga versi cetak tidak akan banyak terganggu dengan versi online.

Coba pikirkan sejenak? Kapan kira-kira bisnis cetak mulai terancam? Dan apa ada hal lain yang bisa didapat dari laporan Magazine Publishers of America?

Comments are closed.