Belajar dari Kesalahan

Belajar dari Kesalahan

Bunga Mawar di Kafe Oyot Godhong, Mirota Batik

Weekend kemarin saya berlibur ke Yogyakarta. Sambil berjalan di sepanjang jalan Kaliurang km 5 saya mencoba mengingat bangunan-bangunan yang kini sudah banyak digantikan dengan yang baru. Ada sebuah bangunan lama yang saya ingat, masih sama persis seperti terakhir kali saya di Jogja. Warung ini menarik, karena bangunan yang ditempati dulunya adalah tempat warung lain yang sudah sukses. Tapi tampaknya warung ini tak sesukses pendahulunya. Setiap saya lewat, warung ini pasti sepi.

Saya coba amati, kenapa kira-kira warung tersebut sepi. Kesalahan apa yang kira-kira dilakukannya.

Bebek Kremes. Semua tahu, bebek kremes dan varian kremes lainnya adalah menu yang sempat boom beberapa waktu lalu. Ya paling tidak di Jogja. Saat boom, semua orang punya ekspektasi tinggi untuk rasa. Sekaligus punya toleransi dan energi untuk mencoba berbagai tempat yang menawarkan menu kremes demi mencari penjual kremes terenak. Tapi itu dulu. Tampaknya warung ini gagal dalam memanfaatkan momen. Tidak berhasil menggaet hati customer pada kondisi yang sangat kondusif. Sekarang kremes bukan menu yang dicari-cari, semua orang telah mencobanya. Dan semua orang bisa membuatnya. Jika kita ingat Seth Godin, mungkin warung tersebut hanya setengah-setengah dalam membuat menu kremes sehingga tidak bisa jadi Purple Cow. Ingat, it’s either number one or no one.

Cable TV. Cable TV juga pernah boom ditawarkan di tempat-tempat makan sebagai fasilitas eksklusif. Tapi itu sebelum tv kabel jadi murah dan bisa dikonsumsi banyak orang. Warung ini masih memasang tivi cable, dengan parabola yang terlihat dari jalan. Tapi agaknya useless karena bukan lagi sesuatu yang spesial. Beda dengan hotspot yang tampaknya masih diminati karena jumlah pemilik laptop yang makin bertambah.

Closed building. Warung ini punya desain modern dengan kaca dan ornamen pop. Namun model bangunannya tertutup. Pintu ada di samping, tidak ditempatkan pada sisi yang bisa ditengok dari jalan. Pemilik yang lama tampaknya lebih bisa appeal dengan bangunan berdingin bambu yang berkesan tradisional. Saya yakin bentuk bangunan yang terbuka akan lebih diminati daripada bentuk tertutup. Bentuk tertutup hanya akan efektif jika menawarkan ekslusifitas tertentu. Ingat Apple?

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan ini?

Don’t be mediocre. Jangan setengah-setengah, jangan jadi rata-rata. Anda boleh saja jadi satu dari banyak orang dengan kompetensi atau bidang usaha yang sama, tapi jangan berhenti sebagai pemain yang biasa-biasa saja. Bebek kremes bisa jadi menu sejuta umat, tapi jika kita mampu membuat bebek kremes yang rasanya tak tertandingi, akan beda ceritanya.

Stay on the lookout. Jangan mentang-mentang sudah yakin dengan model usaha yang dijalani,kita tidak mau melihat apa yang terjadi di luar. masih mendingan kalau sudah cukup sukses, tapi kalau belum sukses sama sekali tapi ngeyel itu yang akan membuat celaka. Tetaplah waspada dan selalu mencari peluang menjadi yang lebih baik. Ingat The Dip, ketahui kapan harus berhenti atau tetap berlari. Jangan keras kepala bertahan dengan tivi kabel.

Nah, untuk kontes, mari kita lihat di sekitar kita. Kita coba berlatih melihat dengan lebih seksama hal-hal yang ada di sekitar kita. Adakah hal-hal yang menurut Anda bisa diperbaiki? Adakah kisah sukses yang telah Anda lihat atau Anda alami? Ayo mari berbagi.

Comments are closed.