Social Media Marketing: Fish Where The Fish Are

koi

Social Media di satu sisi adalah hal lumrah yang selalu bersentuhan dengan aktivitas kita, terutama pengguna internet. Sifatnya yang mendukung interaktifitas dan hyper conection antar pengguna membuat jaringannya lebih massive daripada jaringan di era web 1.0. Dan jaringan yang besar berarti pasar yang besar pula. Bagaimana cara memanfaatkan pasar ini? Bisakah kita pakai prinsip-prinsip dalam marketing tradisional (offline)?

Chris Brogan menuliskan 6 poin untuk memanfaatkan pasar online lewat social media. Inti poin-poin tersebut adalah Fish Where The Fish Are yakni pancinglah ikan di tempat ikan berada. Di sini kita akan coba bahas satu persatu poin-poin pendekatan tersebut dalam kaitannya dengan mempengaruhi transaksi penjualan produk.

Find the Customer. Tentu saja, ini sangat jelas. Sebelum memasarkan produk, Anda harus tahu siapa target Anda dan di mana mereka berada. Agak bodoh rasanya jika Anda bersikukuh menjual papan skateboard di pasar ikan. Konsumen Anda tidak berada di sana. Tidak dalam gerombolan besar.

Mencari calon pembeli tidaklah mudah. Namun, daripada menerka tanpa dasar, saat ini kita telah mempunyai beberapa alat gratis yang bisa dipakai sebagai sonar untuk mendeteksi dimana kumpulan ikan berada. Walau tidak akan dapat memberikan gambaran pasti tentang posisi dan jumlah pembeli potensial, layanan-layanan microblogging dan social media bisa dipakai untuk mencari starting point. Gunakan search.twitter.com untuk memonitor keyword, keyword tertentu. cari tahu di mana orang-orang yang terjaring di sana benar-benar berkomunitas. Cari jalan untuk “menghubungi” orang-orang tersebut.

Contoh orang-orang yang bisa dicari adalah orang-orang yang memiliki masalah yang bisa dipecahkan dengan produk Anda.

Be There Before the Sale. Berarti kita harus menjadi salah satu hal yang diingat saat pembeli hendak melakukan pembelian. hal ini bsai kita capai dengan jalan menjadi sosok yang tulus dan baik hati. Membantu tanpa meminta timbal balik (langsung) adalah salah satu caranya. Jadikan diri kita orang bijak yang dicari dan dipercaya orang. Sehingga kita pun menjadi hal pertama yang diingat calon customer sebelum membeli.

Tidak ada yang suka disodor-sodori dan dicekoki dengan rekomendasi tak berdasar. Siapa yang merekomendasikan produk akan dievaluasi secara otomatis oleh calon pembeli. Apakah pemberi rekomendasi cukup kredibel? Jika pemberi rekomendasi baru saja menjadi anggota komunitas, tentu saja kredibilitasnya akan dipertanyakan. Dengan memastikan calon pembeli telah mengenal siapa kita, kredibilitas dan authority kita. Dengan demikian, perkataan-perkataan kita akan diterima dengan gelas setengah penuh oleh calon pembeli produk.

Be (or Empower) the Influencer. Tidak berhenti menjadi hal pertama yang dipikirkan konsumen saja, kita juga bisa menjadi influencer. Menjadi influencer berarti kita bisa menggerakkan Tribe ke arah yang kita inginkan. Tanpa harus secara langsung menggerakkan konsumen untuk membeli produk, kita bisa melakukan aktifitas-aktifitas influensial yang bisa mengarahkan orang untuk melakukan transaksi. Corporate blogging dan aktifitas evangelism lain bisa menjadi faktor influencer terjadinya transaksi.

Shift Behavior. Proses influensi dan pengerahan konsumen bisa dilakukan cara cukup ekstrim. Kira-kira apa yang bisa dilakukan seorang head divisi social media dalam sebuah perusahaan mobil? Alih-alih sekedar berbicara tentang spesifikasi dan keunggulan produk, head divisi tersebut bisa menawarkan pengalaman mengendarai mobil terbaru pada para blogger yang influential. Tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan langkah ini tapi langkah ini tergolong bisa me-revolusi acara jumpa press/blogger yang sekedar ngiler di acara launching/showroom produk.

Warm Up the Funnel. Kontinuitas itu penting. Proses influensi tak boleh berhenti di satu waktu. Channel-channel yang memberikan peluang konversi atau transaksi harus selalu dihangatkan. Jangan sampai proses yang sudah berjalan menjadi mentah kembali karena calon konsumen menjadi kurang bersemangat. Social media memberikan fasilitas untuk bisa menyentuh berbagai macam konsumen di berbagai tempat dalam rangka menjaga dan menemukan the right fish.

Measure. If you can’t measure it, you can’t improve it! Setiap approach harus diukur dengan tepat dan benar. Pastikan angka yang diperoleh benar-benar valid dan tidak muncul karena adanya anomali. Social media memang susah diukur, namun tidak berarti tidak bisa diukur. Kabarnya hanya diperlukan sedikit pemikiran ekstra untuk mengukur output dari approach/campaign di social media.

Sebagai penutup, jangan lupakan nasihat Jeremiah Owyang : fokuslah pada pencarian konsumen daripada meributkan alat pancing.

Okay, dalam rangka kontes berpikir kritis, coba Anda tulis satu atau lebih hal nyata yang bisa atau telah Anda temukan terkait poin-poin di atas. Seperti biasa, hadiah kaos eksklusif bisa diperebutkan dengan meninggalkan komentar. Dan HP Mininote 1001 bisa dimenangkan lewat trackback ke artikel ini. Satu .. dua ..tiga! Go go go!

PS: Hat-tip to @mahadewa.

29 comments
coconias
coconias

jaman sekarang sosial media memang bagus sekali untuk promosi produk, bahkan yang konon SEO dengan berbagai tekniknya kini bisa digantikan dengan kehadiran mereka. hmm.. tulisan yang menarik, ctrl+d untuk tetap mengingat ingat ini. sukses :)

mharywa
mharywa

menarik. kebanyakan orang bisnis ingin cepat menuai keuntungan. biar bisa Be There Before the Sale, perlu sabar dalam berpikir keuntungan. investasi, investasi, investasi. bisnis warteg aja perlu 2 tahun sampai establish dan hasil. Youtube kabarnya sampai sekarang keuntungannya masih 0. very good article.

Muhamad Erros
Muhamad Erros

Be There Before the Sale. Point Penting yang harus selalu diingat.

Tegar
Tegar

Yah,,

asal prepare ma predict nya kuat gag bakal ada masalah,,

tu dah marketing kuat,,

waununro
waununro

Dari 6 point diatas lebih pas kalo "Be There Before the Sale" itu sebagai starting point-nya. Dimana dengan cara itu the sense of crisis akan menstimulasi keseluruhan aspsek yang ada. Gemana produk yang benar-benar dibutuhkan target pasar bisa ter-include dan tercover dalam sebuah produk dikarenakan aspek awarness termaterialisasi bukan mematerialkan sebuah kebutuhan untuk profit sesaat.
Apalagi dengan prinsip ketulusan senegatif apapun mass opinion melalui social networking tidak akan mempengaruhi internal production, sebab target marketnya khan jelas menjawab kebutuhan market. Kalo minor ya gemana jawabannya biar market terpenuhi kebutuhannya.
Jadi simple aja khan... critic berarti improve, ketulusan melahirkan sebaik-baik pelayanan yang berujung simpatik pasar menghasilkan nilai lebih dan laverage secara otomatis. So apapun bentuknya "Open Your Heart, Free Your Mind".

fitri alifah
fitri alifah

hebat...kritis-kritis banget..(saya ikuti komen artikel ini).
Social Media menurut saya salah satu cara yang sangat penting. karena suatu perusahaan pasti punya konsumen. kalo konsumen itu tidak terus di follow up, maka akan lari. siap ngga siap, suatu perusahaan perlu memakai cara ini.
konsumen adalah obyek yang bisa membuat rating perusahaan naik.
itu pendapat saya, Facebook emang TOP!! :D.

salam kenal untuk smua :)

Chris Prakoso
Chris Prakoso

Cuman mau bilang, thanks for the mention. Glad the link could be useful :)

raiderhost
raiderhost

@toni retoris bnget :D, klo saya seorang pemancing handal (ngimpi kli yach) ketika saya ingin memakai sebuah pancing dan umpan, secra tidak langsung saya sudah tahu ikan apa yg ada disana. Karena sebelum berangkat dari rumah, saya sudah membuat perencanaan + strategy yg hendak gue pakai (+berdo'a), ditempat pancingan ikan pun selain enjoy dng suasana panasnya waduk, saya berusaha melihat sekitar apakah langkah yg saya lakukan ini tepat atao tdak ?

@pembisnis hanya akan memancing ditempat yg jelas2 ada ikan (berharap resiko Rugi minim). Pertanyaannya, apakah dia org yg 1 kali tahu dan memancing disana (pelopor) atau pemancing yg tahu karena melihat segerombolan pemancing yg nongkrong di tempat yg sama?

Jika yg ke 2 lebih dominan, IMC ( intergrated marketing com) sangt diperlukan, utk bersaing dengan pendahulunya :p dan social media hanyalah bagian kecil darinya.

salam pagi :)

Hendry
Hendry

@raiderhost Umpannya konten dan engagement. Face to face mungkin powerful, tapi tidak bisa menjangkau seluas dan secepat media online. Belum lagi biayanya...

Seperti kata Jeremiah Owyang seperti dikutip Toni. Jangan terlalu fokus pada alat pancing. :)

Gimanapun multi-channel marketing yang melibatkan pelanggan dari berbagai sisi dibutuhkan. Jadi "ikan" butuh menu diet berbeda2...

Toni
Toni

@raiderhost
Tentu saja umpan juga penting. Tapi sebagus apapun umpannya, kalau anda mancing di tempat yg tidak ada ikan ya pasti tidak akan dapat ikan.
Salam kenal balik:)

Ravatar
Ravatar

Produk yang tepat, di tempat dan waktu yang tepat, serta dengan metode penyampaian yang tepat merupakan kombinasi yang meyakinkan dengan potensi keberhasilan besar.
Plus kontinuitas..mantap dah.

raiderhost
raiderhost

jangan lupakan nasihat Jeremiah Owyang : fokuslah pada pencarian konsumen daripada meributkan alat pancing.

Fokus pada pencarian koNsumen ? dan Meributkan ALat Pancing ?

Dimana umpannya ? saya kira itu point penting. Ketika kita punya umpan yang khas, diharapkan tak perlu susah mencari konsumen. Dengan itu, saya lebih identik utk membuka pasar daripada mencari pasar.

Jika alat pancing adalah social media, sekuat apakah media mampu mempengaruhi pasar ? Karena mereka saling membuat tangan hitam utk saling menjatuhkan. Mana informasi yg benar ?

alat pancing yang paleng keren itu face to face, atau "gethok tular" tingkat influensenya lebih dari 70%. Jika intensitasnya sama2 1 kali pesan itu sampai. Jika ada continuetas :P hemm ...

Saya juga sepakat social media menjadi salah satu alternatif utk media promosi, ++ sebgai pintu utk masuk feedback antara konsumen n produsen. Baik bernilai positif namun saya yakin kebnykan negatif. Karena apa ? siapa sich yg tidak komplain jika barang yg dibeli tidak sesuai harapan ? :p

Ujung tombak alias CS atau PR lah yang siap perang utk menjabati ke-2nya. Sehingga akan timbul respon positif dari produsen n konsumen.

OOT ndak yach :D . abis topiknya buat mahasiswa ke atas yach ?? salam kenal

topan
topan

Maintenance.. Maintenance... Maintenance..

Kayaknya kok sebesar apapun perusahaan, tetep aja gak bisa hidup tenang karena takut di libas saingannya.

LOL..
:)

Hendry
Hendry

Salut dengan prediksinya, podelz. Terus terang mungkin agak optimis... tapi lebih cepat lebih bagus. Let's get rock :)

Toni
Toni

Perusahaan raksasa, network luas, resource berlimpah, duit meteran. Bener2 akan saya tunggu gebrakannya podelz.

podelz
podelz

btw kok gw nulis europe aja, maksudnya di negara-negara europe atau USA :D

Hendry
Hendry

Menurut saya sih kalo belum "ready" udah terlambat. Dell contohnya dulu telat dan tidak menggubris seorang blogger yang bermasalah dengan produk mereka. Hasilnya sampai sekarang mereka sepertinya belum sepenuhnya pulih, walaupun telah berkali-kali mencoba dengan social media dari blog sampai Twitter.

Pada saat itu sampai sahamnya anjlok... Kalau kebebasan berpendapat itu diimplementasikan, memang pelanggan yang untung. :)

@yodi: Jangan lupa zappos dengan kontesnya. Dell dengan kupon yang menambah penjualan sebesar sejuta dolar (kalo otak gw lagi ga ngga ngaco itu angkanya).

@Aerialsky: LOL... setuju banget. Ada teman saya yang butuh bertahun-tahun baru mau ngomong dengan saya lagi setelah mencoba menjual saya dengan produk MLM-nya.

Aerialsky
Aerialsky

Harga teman... harga teman... harga teman... hehehe^^

Teman adalah pelanggan Anda yang paling dekat, tapi klo MLM bikin hubungan pertemanan menjadi kacau =_="

podelz
podelz

Tenang pak Toni, sudah ku sounding, ketika kita mau membuat social media, Pekerjaan Rumah yang harus kita benarin adalah Customer Service, dimana Customer Servicenya benar-benar sudah siap untuk menghadapi segala bentuk complain dan begitu cepatnya complain itu terjadi.
Selain Customer Service pihak-pihak yang terkit dengan sisi technology support harus sudah benar-benar siap mentalnya agar memperbaiki kesalahan secara rapid seiring masuknya complin-complain yang rapid pula.

Betul nomor 1 dan nomor 2 atau nomor sekian itu semu tapi apakah company dan seluruh elemennya sudah siap?? :D:D

yodi
yodi

Rasanya kurang pas kalau tidak diikuti dengan contoh mengenai perusahaan yang "memancing ikan" di social media. Di Twitter, terdapat beberapa perusahaan yang mencoba langkah ini. Dell, AT&T, Best Buy. Pada Facebook, terdapat korporat sekelas BMW, Coca-cola, Intel dan masih banyak lagi.

Semoga ini bisa membantu para pembaca melihat realisasi dari teori yang ditulis om Toni :)

Hendry
Hendry

Social media akan mengubah semuanya. Pelanggan dapat mengharapkan kualitas produk, dukungan pelanggan yang lebih baik seiring dengan semakin maraknya penggunaan media sosial di Indonesia. Saya tidak sabar melihat perkembangannya.

Selain fokus pada konsumen, social media juga banyak dipergunakan untuk memperluas jaringan.

@podelz, Perusahaan yang tidak peduli dengan pelanggan akan mati dengan hadirnya social media. Perusahaan tidak dapat mengontrol percakapan. Pelanggan akan memulai dengan atau tanpa perusahaan tersebut.

Merupakan suatu kesempatan jika perusahaan berbenah, memperbaiki diri dan meluruskan komentar dan percakapan yang sedang berlangsung.

podelz
podelz

mungkin ini agak susah ketika diterapkan di companya yang berbasis services & teknologi dimana complain sangat sensitive sekali.
mungkin untuk perusahaan yang bertipe seperti ini sebelum lebih jauh menggunakan social media, mereka harus memulainya dengan memperbaiki image.

*setelah melakukan search.twitter.com, isinya complain semua*

podelz
podelz

memang alat pancing yang keren adalah face to face, tapi inget salah satu bentuk social media adalah social network dan konsep dari social network adalah melakukan komunikasi yang lebih mudah seolah-olah terjadi face to face diantara sesama. Tinggal bagaimana mengemas komunikasinya aja... ;)

podelz
podelz

lho kok gebrakan saya?
gebrakan company dimana saya bekerja :D:D.

podelz
podelz

mungkin untuk di europe memang sudah telat, di Indonesia, I think it's gonna happen in Q4 this year, jadi company harus mempersiapkannya mulai dari sekarang...
let's get the rock ^_^

Arham haryadi
Arham haryadi

idem bro podelz

intinya,mereka harus siap sama social media marketing, kalao ngak ya knp ngak di outsource aja namun tetap authentic. Well, menyambut tren social media 2010 korporate harus segera siap kan.

podelz
podelz

Absolutely correct. Tapi itu semua balik ke perusahaan apakah memang sudah ready untuk mengatasi segalanya. Jangan sampai social media ini menjadi boomerang sendiri bagi perusahaan tersebut.
keywoardnya: Ready....

Toni
Toni

Justru del, complain adalah value terbesar. Most company gk ngerti dari mana harus improve. Produk diciptakan untuk menyelesaikan masalah. Kalau ada masalah/komplain lanjutan, berarti kita punya peluang memperbaiki produk.

Pertanyaannya adalah, apakah kesempatan untuk menjadi jauh lebih baik ini akan dimanfaatkan atau dibiarkan diambil alih kompetitor. Ingat kasus Friendster yang dilibas Facebook. Jadi nomer satu itu semu. Jangan sampe nangis esok hari karena dilibas tanpa bisa melibas balik :D. Walau sudah nomer satu, Facebook tidak berhenti loh.

Keep creating gap antara nomer satu dan nomer dua.

Hehehehe, coba dipengaruhi tuh teman2 se-divisimu :D. CC ke manajer klo perlu :p

Trackbacks

  1. […] NavinoT, Toni mengutip seorang selebriti social media yaitu Chris Brogan, dalam bukunya Fish Where the Fish Are (memancing […]