Reebonz: Luxury You Can Afford

reebonz

Disclaimer:
Saya bekerja di perusahaan yang menaungi Reebonz. However, yang saya tulis adalah pendapat personal dan tidak mewakili perspektif Reebonz atau perusahaan tempat saya bekerja.

Reebonz.com adalah situs komersial yang dibuat untuk menepis mitos bahwa kemewahan selalu identik dengan mahal. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana Reebonz mengeksekusi brand promise-nya. “Luxury you can afford” dieksekusi lewat penawaran diskon atas barang-barang branded dalam jumlah terbatas. Selain itu membership juga tidak terbuka. Pengunjung hanya bisa jadi member lewat waiting list atau invitation dari orang yang telah menjadi member.

Jadi bagaimana Anda memasarkan layanan yang harusnya jadi private service. Sekilas memang mirip dengan kasus koprol.com yang invitation only atau gmail yang dulu juga sempat dipasarkan dengan model invitation only. Tapi Reebonz beda, karena limited dan private adalah model bisnisnya. Reebonz tak mungkin tiba-tiba menerapkan open registration. Jadi bagaimana Anda membuat orang ingin mendaftar sedangkan pendaftaran sendiri dibatasi demi eksklusifitas?

Where are the Fish?

Fish where the fish are, tentunya Reebonz harus mencari orang-orang yang memang menginginkan solusi yang ditawarkan Reebonz untuk memecahkan masalahnya. Dimana orang-orang yang branded minded dan e-commerce literate ini? Adalah beruntung karena Reebonz dimulai di Singapura, di mana internet sudah jadi barang tak mewah bagi sebagian besar penduduknya. E-commerce tidak terhalang kekhawatiran fraud ataupun minimnya budaya online transaction.

Reebonz sejauh ini mengoptimalkan pemakaian Facebook dan Twitter untuk menginformasikan event-event sale yang sedang berlangsung di Reebonz dan membentuk brand awareness. Sumbangan membership terbesar datang dari Facebook Page. Tampaknya the fish memang berkerumun di Facebook karena Twitter masih jadi konsumsi para net-savvy. Atau ada yang kurang pas dengan umpan yang dipakai di Twitter.

Worth Spreading Ideas

Setelah membaca Social Media Marketing Kit, saya jadi tersadar. Kenapa buzz Reebonz seperti agak tersangkut, terutama di Twitter. Jika kita ingat lagi All Marketing Are Liars-nya Seth Godin, yang harus dan bisa disebar adalah ide/cerita yang luar biasa. Informasi event sales memang bisa jadi luar biasa, tapi tidak untuk setiap orang. Apalagi jika sales-nya limited. Sepertinya kita tidak ingin menyebarkan infonya sebelum kita bisa mendapatkan barang dari event tersebut. Reebonz perlu shift behaviour. Alih-alih hanya menyebar info sales yang kurang viral, Reebonz bisa menyebar ide atau cerita lain yang masih punya kaitan dengan bisnisnya. Ide fashion tentunya tidak dibatasi oleh info event sales, masih ada tips fashion atau info sales produk lain yang tidak berkompetisi dengan Reebonz.

Di bawah ini coba kita lihat seberapa besar buzz yang diciptakan Reebonz, dibandingkan dengan Ruelala, penyedia layanan serupa.

reebonz in social collider

[Reebonz]

ruelala in socialcollider

[Ruelala]

Jika kita rujuk keterangan di situs socialcollider.net, bentuk spiral diibaratkan suatu poin di kertas yang dilingkari berulang-ulang dengan bolpen demi menyatakan tingkat kepentingannya. Ruelala punya lebih banyak spiral dan garis horizontal (persebaran buzz) dalam satu minggu, dibandingkan dengan Reebonz. Ini berarti Ruelala lebih bisa membuat buzz dengan network yang dia miliki. Coba kita bandingkan keduanya dengan hasil socialcollider untuk trend “Swine Flu”.

swineflu in socialcollider

Use more channels

Blog Reebonz, alih-alih sekedar jadi info corporate, bisa di-makeover jadi blog (komunitas) tentang fashion. Reebonz bisa menggunakan jasa profesional writer untuk menulis artikel tentang fashion, yang lebih berpotensi untuk disimpan di del.icio.us, di-share di Facebook, atau mendapat thumbs up di StumbleUpon. Different fish need different diet menu, saya setuju dengan komentar Hendry Lee minggu lalu. Bahkan jika kita baca di Social Media Marketing Kit di atas, kita akan tahu bahwa StumbleUpon, Digg dan Reddit itu less net-savvy daripada Twitter. Alias lebih banyak ikan yang bisa ditemukan di sana.

The Era of Backlash

Pemasaran lewat social media punya resiko yang lebih tinggi daripada media konvensional. Sekali salah langkah, pasti akan dibantai habis. Yang dipertaruhkan adalah (personal) brand si marketer. Setiap orang atau komunitas di internet punya internal treshold, sebuah batas toleransi. Jika kita terlalu bersemangat untuk menyuapkan brand kita, batas ini bisa terlewati.

Tentunya kita ingin menghindari hal ini. Ada beberapa jalan yang bisa ditempuh. Yang pertama adalah penetapan target konversi yang dipastikan tidak akan melewati treshold backlash. Hal terakhir yang tidak kita inginkan adalah berpalingnya kastemer potensial akibat aksi marketing yang berlebihan. Yang kedua tentu saja adalah pemilihan pendekatan yang dipakai dalam marketing. Branding is not repetition, although it can work in a certain degree. Kita bisa bercuap tiap satu menit. Tapi tentunya akan menyebalkan jika kita mengatakan hal yang sama tiap saatnya. Akan lebih acceptable jika repetition-nya diganti dalam bentuk frekuensi interaksi.

Beware of The Cost

Jika Anda mengikuti saya di plurk (@neofreko), tentunya Anda menerima beberapa kali plurk tentang Reebonz. Menemukan menu diet yang tepat memang susah. Kali pertama saya sekedar meneruskan broadcast, no body responded. Kali kedua, saya coba masuk lewat thread yang menyebut keyword “fashion”. Less intrusive tapi sepertinya belum berhasil juga. Ada dua dugaan kenapa eksperimen saya ini belum berhasil. Pertama karena saya memang tidak punya authority sama sekali di bidang fashion. Untuk sekedar memberi info diskon mungkin bisa, tapi jika saya terus-terusan menyebut Reebonz saya rasa friends saya bakalan kesal juga. Yang kedua, pilihan pendekatan yang sama sekali salah. Mungkin masih ada celah untuk masuk walaupun tanpa authority kuat di bidang fashion. Mungkin bisa lewat authority yang saya punyai di bidang teknologi. Dalam tinjauan “shift behaviour”, pilihan pendekatan ini adalah langkah panjang (dan berputar). Tapi bisa dipastikan akan efektif (get the message through) tanpa mempertaruhkan personal brand yang sudah saya bangun.

Waktunya Kontes

Seberapa aktif Anda di social media? Adakah tujuan khusus yang ingin Anda capai? Seberapa jauh pencapaian Anda? Atau Anda sering terganggu karena aktivitas marketing di social media? Silahkan tulis pengalaman Anda dengan social media. Peluang masih terbuka lebar untuk memenangkan HP Mininote 1001!

Update

Untuk melihat-lihat dalam Reebonz, Anda bisa pakai http://www.reebonz.com/invite_code/navinot

42 comments
mikael long
mikael long

reebonz adapt policy fraud as stated ....

ananda
ananda

denger2 developer'nya cabut semua ya

hokya
hokya

reebonz situs baru y mas?

numpanglewat
numpanglewat

tp saya ga berniat membeli dari web tsb dengan alasan berikut:

di mangga dua, factory outlet, distro lokal - tersedia kualitas yg lebih bagus dan desain yg ok punya dengan harga lebih murah, kalo alasannya adalah luxury orang cenderung memilih custom made yg dibuat langsung oleh fashion desainer ternama.

Menurut pendapat 99% wanita seni berbelanja adalah lgs dtg ke outletnya sih :D

numpanglewat
numpanglewat

setelah search google kesana kemari akhirnya saya ikutan juga jd member reebonz

suprie
suprie

@toni,
Sepertinya malah si buyer yang mencari - cari reebonz, buzz marketing mereka emang gak terlihat di permukaan, tapi beredar dari kalangan mereka aja.

suprie
suprie

@ryan
Aduh mas, masalah situ dimana? orang mau ngabisin duitnya itu masalah mereka, gak ada sangkut paut nya dengan sampeyan, koq malah sampeyan yang riwil! yang menuduh mereka gak punya otak atau otaknya gak jalan.

Klo memang sampeyan mau makan di warteg alih alih restoran atau belanja di pasar, ya itu kan pilihan sampeyan! Lalu masalah anda dengan orang - orang yang belanja di hypermart, atau makan di restoran dimana ?

atau situ emang iri aja ?

@toni,
Reebonz emang menarik dari sisi ekslusifitas nya, bayangkan klo Reebonz itu open registration, pasti less attractive karena semua orang bisa daftar dan ikut sale. Padahal sale-sale gitu merupakan kebanggan sendiri loh, bisa dapet barang mewah dengan diskon.

Klo masalah marketing, gw rasa sih gak masalah. Karena mereka punya tribe mereka sendiri, jadi selalu ada yang beli dan ludes dengan cepat. Karena barang - barang tersebut kadang bukan masalah kegunaan sih, tapi masalah prestige.

Belutz
Belutz

Mas Ryan,
kalau orang punya duit, dia mau pakai apa duit itu kan urusan dia sendiri. Kenapa anda harus ikut campur ngurus duit orang lain?
Kalau anda menentang pembelian barang-barang mahal bermerek ya sudah, kenapa harus menghina-hina orang lain?

Belum tentu anda lebih baik dari orang-orang yang anda hina tersebut.

Lagian postingan ini membahas apa itu reebonz.com, ngga maksa orang beli barang dari situ kok. Itu hak masing-masing orang mau beli barang darimana

Bio
Bio

Eh Mas ryan ini siapa ya?
Analisis sesuai Topik dong.
Ini kita mau ngomong kehidupan atau kita ngomong tentang Reebonz.
Semua orang juga tahu kalau punya uang lebih ya beramal.
Semua orang juga tahu kalau pembantu, baby sitter, satpam itu gajinya pasti kecil.
Harusnya mas ryan bersyukur karena nga jadi pembantu atau baby sitter atau satpam.

Terima kasih ya mas ryan.

ryan
ryan

yeah, terserah deh, kalian orang2 kaya. kalian kan udah kebanyakan duit, jd situs belanja ga jelas macam reebonz itu aja dilebih2kan.
coba saya tanya, berapa harga sepotong baju yg kalian beli itu? 500rb? sejuta? oh, itu terlalu murah ya. 5jt? 8jt? gila, apa ga lebih baik disumbangkan ke fakir miskin dan anak terlantar atau diinvestasikan untuk dana amal jangka panjang?
oh iya, saya yakin lemari kalian sudah penuh dgn baju2 mahal. saya juga yakin baju mahal yg kalian beli itu cuman sekali dua kali dipake.
terakhir, saya mau tanya, pembantu kalian di rumah gajinya berapa sebulan? lebih tinggi mana, gaji pembantu atau baju sepotong yg kalian beli (dan dipakai sekali dua kali saja)??? babysitter yg ngasuh anak kalian itu berapa gajinya??? satpam yg jaga rumah kalian sampe ga tidur itu berapa gajinya???
dasar orang kaya. kehidupan kalian penuh anomali, absurditas, dan superfisialitas.

dilla
dilla

kalo saya senengnya barang-barang yang gak pasaran. Sepertinya reebonz bisa banget mendukung hal tersebut. Meskipun saya bukan konsumen barang-barang bermerk, tapi kalo diskon gede gitu, gimana gak ngiler..*hiks..lirik dompet* Saya baru memanfaatkan reebonz sebagai reference barang-barang aja sih..tapi gak menutup kemungkinan jadi konsumennya juga...*emang dasarnya doyan belanja* *pentung diri sendiri*

ariawan
ariawan

Komennya mbak dita itu kalo ditambah gambar gambar udah lebih panjang daripada postingnya sendiri... aeuaheuaheuah..
Hidup Dita! Hidup Reebonz!

lindaleenk
lindaleenk

*toss* sama dita..di matahari itu barangnya KW +_+
plis deh..kliatan kali guci yang harusnya spell GUCCI aja di matahari tertulis GUCHI..-_-
well...saya mungkin baru sedikit paham dengan fashion2 ekslusif..ini juga baru ngertinya setelah banyak berkecimpung didunia fashion dan ikut gila2an klo di LN ada sale :))

Dita Firdiana
Dita Firdiana

kalo menurut saya situs komersial semacam Reebonz ini bagus soalnya kita bisa mendapatkan barang2 bagus, tanpa harus browsing satu2 ke web produk2 tersebut. di reebonz kita bisa dapetin beraneka barang bagus dengan harga yg lumayan (karena ada program diskon yang berganti2 setiap beberapa harinya). dan saya agak kurang sependapat sama beberapa komentar yang ada diatas saya.

pertama saya juga udah daftar Reebonz dan melihat kontentnya, memang sampai saat ini saya belom pernah membeli tapi dikarenakan belom ada nya produk yang benar2 saya inginkan. menurut saya ini bagus, karena barang2 yg dijualnya ekslusif, dan begitu ada yg kebetulan saya mau, duh cepet banget lagi sold outnya, dalam hitungan menit... :(

kalo masalah banyak barang yang sama dijual di matahari dsb, kalo gak salah ya, yg dijual di matahari itu biasanya KW super alias bukan original... alias made in china. bagi yang gag tau barang sih mungkin oke2 aja, bisa dapetin barang bagus dengan harga murah. ya iyalah murah, wong palsu gitu loh...

dan soal reebonz sok ekslusif, ya emang barangnya eksklusif kok. kalo mau beli di factory outlet kan isinya barang reject-an semua... kok disama-samain...

soal naikin harga... bisa lihat di website resmi barang2 tersebut... akan bisa terlihat harga aslinya dan, apakah harga yg ada di Reebonz sudah dinaikkan sebelomnya atau tidak...

enak kok kalo bisa beli barang klik-klik langsung jadi... kalo soal karti kredit... siapa bilang itu masih barang langka, kalo paypal mungkin emang masih banyak yg belom tau. kalo CC sih anak sma sekarang juga udah banyak yg punya dan mereka juga gag buta internet.

soal iklan dan diskon... sapa bilang kaum socialite gag suka diskon... hehe... buktinya dalam hitungan menit saja sudah sold out.. (saya suka buka webnya demi memantau adakah barang menarik yg ingin saya beli) seperti pas promo femme SUD beberapa hari yang lampau, ada clutch yg saya incer, pas telat dikit buka webnya sudah sold out... hiks...

lalu menurut pendapat saya soal 'fish' nya tidak bermain di twitter atao fesbuk itu mungkin... mungkin mereka terlalu sibuk untuk megang gituan... tapi jangan salah loh... bahkan Paris Hilton pun punya Facebook... lagian kalo misalnya ada anggota fesbuk yang tertarik (bukan tertarik beli) tapi dia tau orang yg tepat untuk membeli (misalkan saudaranya ato temennya ada yg fashionista sejati dan tentunya punya uang untuk bisa beli barang2 ini) kan dia bisa melemparkan link tersebut atau mendaftarkan untuk orang tersebut...

eh ini cuman pendapat saya loh... kalo kita bisa bela2in beli buku di amazon, kenapa harus pesimis, gag bisa bela2in beli tas, jam tangan, kacamata, baju dari site seperti ini...

ryan
ryan

reebonz pamer diskon. tapi, pertanyaannya, betulkah itu memang diskon? jangan2 dia udah menaikkan harga dulu baru ngasih diskon.
lagian, merk2 yg dijualnya juga bisa dicari di banyak toko. paling gampang ya cari di matahari. matahari juga tiap hari diskon. 70% + 20% sering.

ryan
ryan

alah, kirain kayak gimana reebonz itu, rupanya kayak gitu. biking pusing kepala aja dari tadi. emang udah berapa lama reebonz itu ada? saya yakin bisnis kayak gituan bakal kolaps bentar lagi. invitation only, sok ekslusif deh. mau beli baju, beli aja ke factory outlet atau butik sana. bahkan bisa lihat barangnya secara langsung, yg bikin siapa juga bisa kita tanyain.
dan kalian yg nongol di sini, tolong pakai bahasa indonesia yg baik (bukan yg benar, cukup yg baik saja). jgn belagu ngomong inggris deh, grammarnya juga masih kacau. saya penerjemah aja yg kemampuan saya pasti jauh di atas kalian ga pamer kemampuan. tolong jgn latah berbahasa inggris ria. kalian kan cuman mau sok eksis gitu deh di antara org indonesia yg sok modern. saya yakin ga ada bule yg datang kemari. kalaupun ada, emang mereka tertarik? kalo kalian mau mengincar bule, ya pake bahasa inggris aja semua tulisan kalian (yg tentunya akan menyibakkan hancurnya kemampuan bahasa inggris kalian). salam indonesia raya!

choichoi
choichoi

Gw uda jadi membernya Reboonz.com dari bulan maret lalu. Gw suka info-infonya, tapi menurut gw, info yg dibagiin kebanyakan discount produk doang. Pdhal menurut gw, target marketnya Socialista n org melek produk fashion. Semua orang tahu socialista ato 'Fish' sejenis itu ga butuh discount ;)

Untuk PR dgn Facebook n Twitter, boleh-boleh aja tapi jgn terlalu berharap banyak krn 'Fish' yg kita cari ga banyak beredar disitu ;) kenapa ? kebanyakan 'fish' yg kita cari ga di 'drive' oleh trend, tapi di 'drive' oleh lingkungan yang ada disekitarnya.

Jadi, figur dibalik reeboonz itu lebih penting dari reeboonz itu sendiri. Gw lihat, reeboonz.com sendiri ga ada about us or whatever yg bisa jelasin siapa dibalik reeboonz itu sendiri..

All about trust... In brand we trust ;)

Saran gw, coba konsult ama : Samuel Mulia :)

Hendry
Hendry

Ivan: Betul juga ya.. kalau terlalu agresif beriklan, mana eksklusifnya. :) Butuh langkah yang sangat hati-hati.

Lalu tentang socialcollider, kalau yang hasilnya banyak.. hati-hati browser crash. Untung pakai Chrome.. begitu mulai makan memori 1GB dan lebih, langsung saya close dan claim balik memori sistem. Hehehehe...

Ronald Widha
Ronald Widha

whoaa..social collider..baru nemu. handal sekali. bacanya gimana ya

Ivan
Ivan

What I learned from Reebonz case:

Menjual 'Luxury' item itu beda, tidak perlu membabi buta dengan iklan. Malah kalau membabi-buta, jadi terkesan 'Too-Good-To-Be-True' yang membuat nilai luxury & exclusive nya hilang.

Dalam hal pemasaran, bener omongan yang di atas semua, mending menarget para fashionista atau socialite. Pasti jauh lebih mempan untuk urusan konversi.

Good job guys! Ini baru Kritis! :)

Rizki Kurniawan
Rizki Kurniawan

Benar sekali. Banyak orang menggunakan social media seperti FaceBook, Friendster atau Blogging buat cari teman, namun menjadi tempat yang tidak kalah hot untuk bisnis. Saya menggunakan Blog saya untuk apa saja tentunya :lol: . Namun saya sangat tertarik dengan Reebornz yang menjual barang 'elit' dengan harga yang terjangkau. Reebonz sistemnya memang agak rumit, perlu referal atau undangan untuk bergabung, tapi memberikan hadiah uang bagi anggota yang diundang ketika melakukan transaksi pertama. Untuk melancarkan usahanya, blog reebonz juga dimanfaatkan untuk promo produk dan tips fashoion... Luar biasa sih... Tapi pembayarannya pake Credit Card atau Pay Pal yang Jarang dipakai oleh orang Indonesia. Btw, Pay Pal uda bisa digunakan di Indonesia? Kalo ga bisa ya gak bisa Order di Reebonz. Cukup merepotkan... Coba kalo pembayaran bisa transfer uang aja mungkin lebih lancar.

Hendry
Hendry

I can't say it better than that. :)

Tentang Steve Jobs... Bisa jadi... karena walaupun blog itu one to many kebanyakan orang bisa merasakan kedekatan yang hampir sama dengan one-to-one. (nothing beats face-to-face)

Itu sebabnya ada pembaca blog yang kontak ke saya lewat email... langsung seolah-olah sudah mengenal saya cukup lama. Salah satu kekuatan dari content marketing.

Lalu CS... 37signals tau persis hal ini. Mereka (developer) yang juga pemilik adalah garis terdepan alias CS juga. Karena dengan itu mereka bisa ubah antarmuka jadi sesuai yang diinginkan pemakai. Konsep baru. But it works for them...

Toni
Toni

CS sebagai garda terdepan yg bersentuhan langsung dengan pembeli tentunya lebih tahu cerita yg terjadi dan diinginkan pembeli. Sedangkan CEO akan memberi nilai special pada interaksi. Bayangkan rasanya saat kita dilayani oleh Jobs himself saat beli product Apple?! Too good to be true tapi bakal jadi great kalo bisa direalisasi ;)

Gitu kali ya reasoning-nya?

Hendry
Hendry

Saya setuju dengan pendapat Starlet.

Walaupun saya tidak bermaksud underestimate good PR person, tapi kalo menyebarkan cerita (All Marketers Are Liars) melalui blog atau Twitter, tapi saya merasa PR person tidak selamanya yang paling cocok.

Kadangkala, CS yang berada di baris depan dan langsung berinteraksi dengan pelanggan lebih cocok. Adakalanya CEO. Tergantung tujuan.

Saran lain adalah "kontes." (You know that already - just for the readers, k? ;) Kalau membangun authority terlalu lama, bisa saja mulai dari advertising atau sponsorship.

Spread the news melalui social media. Tapi tetap pertahankan ciri eksklusif-nya, karena itu nilai jual Reebonz.

Hendry
Hendry

I'm glad you agree tentang analogi ikan tersebut. Bahkan ketika seorang marketer tahu secara persis demografiknya, konten (umpan) juga harus bervariasi.

Itu sebabnya suatu blog tentang Twitter tidak melulu berfokus pada "branding dengan Twitter" tapi juga bagaimana menggunakan Twitter untuk mencari teman lama, dan berbagai topik menarik lainnya.

Karena marketer tidak akan pernah tau, ikan mau mengigit umpan yang mana. Dan dari mana mereka kemudian masuk dan mulai terlibat dalam percakapan dan seperti yang diharapkan... ke proses penjualan kita.

Thanks for sharing ceritanya tentang Reebonz, Toni. Saya juga pengen sharing ah... :D

Dan juga buat tool barunya. Baru nyadar ada yang sekeren social collider.

Torres Oey
Torres Oey

Actually what I wanted to ask is also would this model works in Indonesia? I realised that payment online is a real challenge in Indonesia when they don't believe in it except for credible organisation like airlines.

However, I do believe for business model, Reebonz is viable because there are many Indonesian travels overseas to buy branded goods. So if they can now have this on their fingertips, would this be a good value proposition for them? Off course going on a trip, enjoying different climates and go for the real shopping we can't compare the experience... But I think in this economic climate, it wouldn't hurt to save some costs?

And yes, I agree with Toni that they do need a good PR!

Tyo Aditya
Tyo Aditya

Ini hal yang bener2 baru buat gw... & masih belum mudeng/ngerti juga maksudnya apa & kegunaannya untuk apa..

Starlet
Starlet

Baru kali ini dengar reebonz. Tapi conceptnya sudah sangat familiar. Website lain yang mirip2, termasuk: ruelala, ideeli, and gilt groupe saya kenal dari teman yang kebetulan di fashion industry, fashion blogs dan fashion magazine.

Saya pribadi sih ngga ada masalah dengan exclusivity-nya. Apalagi, dengan deals yang mereka tawarkan, kadang-kadang barang incaran sudah sold out dalam waktu kurang dari beberapa jam saja! Semakin sedikit "competition", semakin okay buat saya :D haha.

That being said, I've never really spent anything on these sites. Kalo ngga harganya masih muahal, ya kalah cepat dengan fashionista-fashionista lain yang terkenal ganas berburu sale.

Ngga perlu menggunakan jasa professional writer, Reebonz cuma butuh a good PR with fashion bloggers. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan fashion blogs di rimba internet dengan jutaan pengunjung. Jika reebonz bisa mendapat tempat di hati fashion bloggers, saya yakin Reebonz bisa mendapat "targeted" & "qualified" users.

Sekedar tambahan tips, beri saja para fashion blogger invitation, ngga pake syarat macam2. Mereka ngga akan menolak dan pasti akan membawa pengunjung baru. Biasanya website2 seperti ini akan memberi bonus $10-$25 jika teman yang Anda invite membeli barang dari website tersebut. Beberapa di antara ratusan/ribuan pembaca setia fashion bloggers yang di-invite, akan ada yang membeli barang di situ. Who doesn't like free money, right?

(Case in point, siapa yang baca artikel ini yang segera daftar ke reebonz dengan kode invitation Navinot? hehe :D)

Ravatar
Ravatar

Baru denger tentang reebonz ini, tak resapi dulu mas :)

muntoha
muntoha

reebonz.. rasanya baru denger. mungkin karena dia yang eksklusive dan tak terjangkau oleh kelasku. setiap hari ber-fesbuk dan blogging tuk cari teman dan curhat dan aktualisasi diri (gak ding, cuma ngungkapin ide gitu).

saya pikir ketika reebonz bisa nemukan niche nya dia akan dapat mengambil untung di situ, apalagi di zaman sekarang eranya marketing in venus (meminjam istilah hermawan), sebuah produk bukan lagi dilihat dari fungsi produk tersebut. tapi sudah masuk pada tatanan psikologi, sebarapa besar produk itu menggambarkan satu identitas kelompok atau kelas tertentu.

Toni
Toni

@suprie
Suatu produk bisa saja menunggu sampai konsumen datang padanya. Kalau produk tersebut beruntung, konsumen tersebut akan datang saat produk masih bisa hidup dengan jalan membakar modal demi survival :D. Ini resikonya jika mau menunggu buzz :D

Toni
Toni

Kalau soal pasar sih, saya sudah tidak ragu prie. Event Miu Miu dan Coach beberapa hari lalu malah sempat bikin server down. Dan barangnya ludes dalam hitungan jam. Yang rada susah adalah connecting the buyer with Reebonz. They are out there, waiting to be found. Same old story yang juga sering terjadi dengan layanan-layanan lain.

Dita Firdiana
Dita Firdiana

sepanjang itukah? abis panas sih... :D

pokoknya hidup reebonz deh... hehehe...

ryan
ryan

saya msh sanggup beli barang di amazon atau reebonz, tapi saya ga mau. tentu gaya borjuis dan kenyamanan yg anda nikmati membuat otak anda itu tidak jalan, tidak paham dgn pemerataan ekonomi. saya lebih memilih beli buku di toko buku kecil yg biasanya juga sering mengadakan diskusi buku atau telaah sastra ketimbang toko2 buku besar apalagi amazon. saya lebih memilih belanjan di pasar tradisional ketimbang di supermarket, hypermarket, dan ket ket yg lain yg jaringannya luas dan permodalannya kuat tapi ternyata dimiliki oleh segelintir orang. tapi, tentu saja anda gak akan paham itu. yg anda paham cuma merek, merek, dan merek. saya heran apa yg anda kejar dari merek??? dan kalian pikir siapa yg memperhatikan merek yg kalian pakai itu? paling hanya sesama kalian yg gila merek aja.

ariawan
ariawan

iihh.. masnya bawel deh... ;)

Toni
Toni

Samuel Mulia yang reguler ngisi rubrik di Kompas itu ya? Err, atau bukan?

blogpreneur internet marketing
blogpreneur internet marketing

Untuk tetap easy to found, iklan bisa diganti dengan review dari Blogger yang ber-authority / yang punya community.. lebih bagus lagi kalau community nya agak keluar dari 'fashion' tapi jangan terlalu jauh juga.

vindatamara
vindatamara

Jualan mas, lebih tepatnya bagi bagi invitation cuman dibuat exclusive gtu...

blogpreneur internet marketing
blogpreneur internet marketing

Konsepnya mirip CPA , cuman untuk mengurangi biaya iklan dicoba dengan pemasaran story telling untuk get member sekaligus brand awareness nya .. :-)

Toni
Toni

Dalam pikiran saya, professional writer bisa membangun konten bagi Reebonz. Konten ini bisa berfungsi sebagai hidangan pembuka, sementara main meal adalah transaksi di Reebonz. Konten ini akan jadi salah satu bahan buzz, karena saat ini tidak banyak yang bisa di-buzz oleh member Reebonz.

Tapi ide Anda sepertinya straight to the point :D What Reebonz really need is a good PR with the fashionista - the real market.

BTW, di Reboonz Anda juga akan mendapat bonus $10 untuk tiap pembelian pertama dari teman Anda ;)

Trackbacks

  1. [...] juga NavinoT untuk studi kasus media sosial untuk Reebonz. (Kontes Berpikir Kritis [...]