Iklan yang Aku Mau

Iklan yang Aku Mau

Billboard Advertising

Siapa sih yang senang dengan iklan? Sudah lancang menyela acara kesayangan, ditambah memaksa-maksa beli produk pula. Masih mending kalau iklannya lucu atau keren, ada juga nih iklan ‘ecek-ecek’ yang diulang sampe tiga kali sekali tayang. Duh, cape deh.

Tapi kenapa tidak ada yang protes dengan iklan di Google ya? Ada beberapa faktor penyebabnya.

  1. User memang sedang mencari sesuatu. Kalau mengutip pak Herman Chang dalam acara FreSh semalam, user telah membuat keputusan membeli sebelum mulai mencari di Google. Oleh karena itu, iklan yang tampak di samping kanan tersebut justru dianggap sebagai informasi tambahan.
  2. Non obstrusive. Google membuat separasi antara konten dan iklan secara jelas. Akibatnya user bisa benar-benar fokus ke konten hasil pencarian tanpa terdistraksi dengan iklan. Keberadaan iklan, walau tidak diharapkan, ternyata tidak mengganggu user.

Analogi serupa bisa diaplikasikan ke blog. Kenapa orang benci iklan di blog walau ikan tersebut berasal dari sistem Google. Yaitu karena sedari awal user memang tidak berharap dan mencari iklan. Informasi blog lah yang dicari. Dan yang kedua, rata-rata keberadaan iklan tersebut menyita fokus dari konten.

Sekarang kita coba beranjak ke wacana RichMedia CDN (Content Delivery Network) yang (segera) diluncurkan oleh Detik. Detik, dalam acara FreSh semalam menjelaskan mengapa iklan RichMedia ini adalah masa depan dari iklan. Atau istilah kerennya “Ad 2.0”. Detik mengamati bahwa ad yang ada sekarang ini sudah tidak jamannya lagi. Selain formatnya membatasi kreativitas advertiser, value yang didapat advertiser juga kurang.

Detik memperkenalkan RichMedia sebagai alternatif baru. Dengan sistem pintar EyeBlaster, Detik akan mampu menghantarkan pengalaman lebih menarik dalam berinteraksi dengan iklan. Selain pandai dalam menentukan format iklan yang sesuai dengan kualitas koneksi, RichMedia ini juga akan memberikan value lebih pada advertiser lewat iklan interaktif eg: user bisa bermain-main dengan iklan, advertiser bisa mengcapture data untuk database, dll mirip dengan menaruh website advertiser dalam sebuah kotak iklan.

Setelah membaca paragraph-paragrat di atas, menurut Anda RichMedia yang ditawarkan Detik ini bisa laku? Menurut saya, ada pro kontra-nya.

  • What works? Long exposure. Menaruh iklan di internet selalu akan mendapatkan keuntungan ketakterbatasan waktu tayang. User bisa melihat kapan saja di mana saja. Dengan iklan interaktif yang juga punya fleksibilitas durasi dan size, faktor long exposure akan memberikan lebih banyak peluang konversi (sales).
  • What does not work? Interaction. user does not want ad in the first place. Saya tak berpikir interaction adalah the magic word yang akan jadi rahasia efektifitas iklan di masa depan. Menambah iklan tidak akan banyak menolong. User akan bertambah pintar dan mainan baru yang bernama “interaktifitas” ini akan segera jadi membosankan. Tapi kenapa interaktifitas justru jadi kata kunci Web 2.0. kenapa interaktifitas itu bekerja dalam konteks blog? Karena orang datang ke blog, bukan sebaliknya. Mereka memang sudah mendambakan interaktifitas.

So, apakah ini akan jadi blooper-nya Detik. Saya tidak tahu. Detik is not stupid. Yang jelas produk ini akan menuai perhatian besar dari para advertiser karena advertiser sedang membutuhkan cara baru untuk tampil beda dari advertiser yang lain. Sementara itu di pihak konsumen, formula yang berlaku masih sama: Kita tidak mau iklan kecuali kalau kita memang menginginkannya.

Kita tutup artikel ini dengan quote menarik dari artikel “Where is Everyone” (thanks @hendrylee untuk lemparannya).

In the same way, information will not be something you ‘consume’ a certain times – like you did with prime-time on TVs. The information stream will be a natural part of every second of your life. It is not something you get, it is something you have.

Jadi, di masa depan, informasi (termasuk iklan) adalah bagian natural dari setiap saat hidup kita. Interaktifitas bukan value utama yang akan membuat user mau melihat iklan kita. They will see it when they feel like watching it. It’s not about advertiser, it’s all about user.

Bagaimana pendapat Anda tentang iklan di masa depan?

Comments are closed.