Humanizing Interaction Design by Nigel Sielegar

Humanizing Interaction Design by Nigel Sielegar

handgesture

Minggu lalu, saya ada berbincang-bincang dengan kepala bagian dari ESI design di New York, yaitu Edwin Schlossberg. Beliau berbicara tentang kurangnya satu produk di dunia ini yang diproduksi oleh 1 orang saja. Untuk membuat 1 poster, perangkat komputer yang dipakai merupakan hasil produksi dari ribuan orang di berbagai macam pabrik, Belum lagi perangkat lunaknya yang dikembangkan oleh banyak tim ahli. Ini belum termasuk hal-hal kecil lainnya, seperti mesin cetak, tinta, transportasi, dan lain lain. Tetapi, mengapa produk yang kita keluarkan, khususnya di bidang digital technology, mempunyai kecenderungan untuk membuat orang lebih individualis?

Dalam proses desain suatu produk, pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya adalah…

Apa yang harus kita lakukan sebagai seorang desainer? Produk macam apa yang harus kita produksi?

Untuk itu, saya coba dengan satu tren di New York City, yaitu Apple iPhone. Peduli anda seorang fan Apple, atau bukan, yang pasti ketika di kereta bawah tanah, mobile device paling banyak digunakan adalah iPhone. Tak heran AT&T kewalahan dengan perluasan kapasitas 3G di New York City.

Apple iPhone mempunyai interface yang luar biasa sukses, bukan karena mereka yang pertama membuat ponsel dengan fitur layar sentuh (LG yang pertama). Melainkan karena Apple menghabiskan ratusan ribu dollar, bertahun-tahun waktu riset, dan jumlah tenaga kerja yang luar biasa untuk meneliti hal yang sangat sederhana, yaitu gerakan tangan dah jari (hand gesture). Kita bisa bandingkan dengan ponsel layar sentuh dari perusahaan lain, fungsi zoom in dan zoom out tidak menggunakan gerakan dua jari, melainkan memakai tombol ‘+’  dan ‘-‘.

iPhone juga dirancang supaya setiap orang bisa melakukan penyesuaian, sesuai dengan keinginan masing-masing lewat ribuan aplikasi yang ditawarkan. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa iPhone benar-benar menjual produknya sebagai keperluan untuk setiap individu. Bukan layaknya produk masal yang dipasarkan ke semua orang, tanpa memikirkan fungsi yang diperlukan penggunanya. Dalam hal ini kita bisa pelajari betapa pentingnya aspek customization dari suatu produk.

Berbagai macam sistem yang kita gunakan sampai saat ini, sebagian besar masih berasal dari era revolusi industri yang terjadi sekitar 1980’an. Kalau kita teliti lebih lanjut, sistem pendidikan yang kita anut masih juga berdasarkan pada revolusi industri, di mana hirarki ilmu sains ada di atas seni atau bahasa. Begitu juga pada dunia bisnis, semua kantor masih di rancang dengan prinsip dasar assembly line, seperti pabrik mobil Ford.

Perkembangan desain di bidang tatap muka juga masih menganut proses industri. Kita dibiasakan dengan toolbar, tombol, daftar menu, yang semuanya mirip dengan cara pengoperasian mesin. Perkembangan ini sudah berjalan puluhan tahun, dan kita sebagai konsumen sudah terdidik untuk berpikir dalam ‘bahasa’ itu. Industri desain sendiri juga sudah sangat terbiasa dengan ‘bahasa’ ini, sehingga sekarang ini kita mengalami kesulitan untuk membuat interface baru yang lebih mudah digunakan.

Akhir-akhir ini kita sudah mulai mengarah ke awal mula revolusi, di mana dunia desain mulai merasa semakin sterile dan artificial. Sedikit demi sedikit bakal berubah, membuat semua produk tidak lagi didesain untuk komoditi, angka, atau market. Tetapi untuk keperluan setiap orang, atau lebih individual. Generasi desain selanjutnya akan lebih mengarah ke ‘human‘.

Sebagai kesimpulan, kesadaran di industri inilah yang memaksa istilah interface design diganti dengan kata interaction. Interface design adalah desain untuk tatap muka dari suatu aplikasi yang dilihat oleh seorang konsumen. Sedangkan interaction tidak hanya berhubungan dengan tampilan, tetapi juga meneliti lingkungan, pengertian, pendidikan, dan situasi penggunanya.

Bagi kita yang duduk di kursi designer dan developer, sebagai ‘pencipta’, mungkin sebelum kita membuat produk baru, mungkin lebih baik kita pikirkan tentang ‘humanizing‘ produk, dan juga social impact seperti yang dihasilkan. Ingat! Designers are the creator of culture! On some level, we’re responsible.

—————————————————————————————————-

nigelavatarArtikel Berikut merupakan persembahan dari Nigel Sielegar, seorang desainer Indonesia yang berdomisili di New York City. Tak lama setelah lulus dari The School of Visual Art (New York City), karirnya dimulai di Firebelly Design. Kemudian dilanjutkan dengan tawaran kerja di Motorola untuk mengembangkan icon set, serta user interface baru. Sekarang dia bekerja sebagai independen desainer, sekaligus konsultan, dengan sederetan klien lokal dan internasional. Berbagai karyanya telah menerima banyak penghargaan, seperti Typographic Excellence by the Type Directors. Ragam karyanya sangat bervariasi, mulai dari pemikiran yang mendalam sampai pendekatan secara pragmatik. Selagi tak bekerja, dia biasanya menikmati artikel desain, selagi menikmati secangkir kopi hangat.

Comments are closed.