<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Humanizing Interaction Design by Nigel Sielegar</title>
	<atom:link href="http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/</link>
	<description>Slashing Web &#38; Online Strategy</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Mar 2010 08:01:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: maydina</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9596</link>
		<dc:creator>maydina</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 03:24:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9596</guid>
		<description>Dulu pernah dengar istilah &#039;Forms Follow Function&#039; dimana aspek pfungsional dari sebuah desain menjadi salah satu hal yang melandasi pembuatan karya desain. Semenjak internet merebak, perlahan-lahan ilmu desain mengalami penyesuaian dengan teknologi...Oleh sebab itu muncul istilah &#039;physical interactive&#039; yang merupakan salah satu dari &#039;interactive design&#039; yang bertolak pada penggunaan media interactive.
Awal tahun 2005-an hal itu merupakan hal yang jarang di Indonesia, saya sendiri baru menyadari hal ini ketika ada event pameran &#039;massive territory&#039; yang merupakan hasil kerjasama para artist di komunitas godote.com dengan para artist urban internasional.
Saya terkesima dengan karya tim desain malaysia &#039;if interactive&#039; dengan karya-karyanya. Kini hal seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, sebab tidak sedikit mall menggunakan fasilitas ini, sebut saja sudah ada perusahaan desain lokal yang menitikberatkan pada jasa &#039;interactive design&#039; seperti strategocorp.

Melihat perkemabngan IPTEK yang sedemikian cepat menyadarkan saya bahwa label apapun yang kita pakai, entah itu desianer grafis, desainer produk, desainer itneraktif, maupun teknisi IT, web developer, dsb...Harus bisa melihat bidang kerjanya sebagai sesuatu yang terintegrasi dengan disiplin ilmu lainnya..Oleh sebab itu akan lebih baik jika kita sebagai desainer kini mencoba suatu hal yang baru dengan lintas disiplin ilmu dan melihat sesuatu secara holistik dan multidisipliner ^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu pernah dengar istilah &#8216;Forms Follow Function&#8217; dimana aspek pfungsional dari sebuah desain menjadi salah satu hal yang melandasi pembuatan karya desain. Semenjak internet merebak, perlahan-lahan ilmu desain mengalami penyesuaian dengan teknologi&#8230;Oleh sebab itu muncul istilah &#8216;physical interactive&#8217; yang merupakan salah satu dari &#8216;interactive design&#8217; yang bertolak pada penggunaan media interactive.<br />
Awal tahun 2005-an hal itu merupakan hal yang jarang di Indonesia, saya sendiri baru menyadari hal ini ketika ada event pameran &#8216;massive territory&#8217; yang merupakan hasil kerjasama para artist di komunitas godote.com dengan para artist urban internasional.<br />
Saya terkesima dengan karya tim desain malaysia &#8216;if interactive&#8217; dengan karya-karyanya. Kini hal seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, sebab tidak sedikit mall menggunakan fasilitas ini, sebut saja sudah ada perusahaan desain lokal yang menitikberatkan pada jasa &#8216;interactive design&#8217; seperti strategocorp.</p>
<p>Melihat perkemabngan IPTEK yang sedemikian cepat menyadarkan saya bahwa label apapun yang kita pakai, entah itu desianer grafis, desainer produk, desainer itneraktif, maupun teknisi IT, web developer, dsb&#8230;Harus bisa melihat bidang kerjanya sebagai sesuatu yang terintegrasi dengan disiplin ilmu lainnya..Oleh sebab itu akan lebih baik jika kita sebagai desainer kini mencoba suatu hal yang baru dengan lintas disiplin ilmu dan melihat sesuatu secara holistik dan multidisipliner ^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9454</link>
		<dc:creator>Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 18:07:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9454</guid>
		<description>emhhh..nendang bgt tulisannya.
serem2. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>emhhh..nendang bgt tulisannya.<br />
serem2. <img src='http://www.navinot.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9453</link>
		<dc:creator>Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 18:05:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9453</guid>
		<description>podcast pixel8 yang paling anyar membahas soal yang serupa: http://community.infragistics.com/pixel8/media/p/95683.aspx</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>podcast pixel8 yang paling anyar membahas soal yang serupa: <a href="http://community.infragistics.com/pixel8/media/p/95683.aspx" rel="nofollow" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/community.infragistics.com/pixel8/media/p/95683.aspx?referer=');">http://community.infragistics.com/pixel8/media/p/95683.aspx</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9452</link>
		<dc:creator>Ronald Widha - Temanmacet.com podcast</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 18:01:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9452</guid>
		<description>&quot;betapa pentingnya aspek customization dari suatu produk&quot;

saya bukan pemakai iphone, tapi bukankah apple biasanya prefer guiding user ke 1 konsistensi daripada customization? bukankah ini yang apple excel in?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;betapa pentingnya aspek customization dari suatu produk&#8221;</p>
<p>saya bukan pemakai iphone, tapi bukankah apple biasanya prefer guiding user ke 1 konsistensi daripada customization? bukankah ini yang apple excel in?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: daud</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9344</link>
		<dc:creator>daud</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 04:59:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9344</guid>
		<description>Suka atau tidak suka teknologi terus berkembang dari yang model masal hingga model personal tergantung era teknologi dan kebutuhan masyarakat.
revolusi industri mencetuskan pola pengunaan alat yang seragam sehingga efisien dalam penggunaan masal. Era ini pun segera bergeser sesuai perkembangan manusia yang membutuhkan personalisasi.
Sebuah tantangan bagi designer untuk menjawab kebutuhan konsumen.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Suka atau tidak suka teknologi terus berkembang dari yang model masal hingga model personal tergantung era teknologi dan kebutuhan masyarakat.<br />
revolusi industri mencetuskan pola pengunaan alat yang seragam sehingga efisien dalam penggunaan masal. Era ini pun segera bergeser sesuai perkembangan manusia yang membutuhkan personalisasi.<br />
Sebuah tantangan bagi designer untuk menjawab kebutuhan konsumen.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tegar</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9262</link>
		<dc:creator>Tegar</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 23:57:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9262</guid>
		<description>rite,,

tapi kalo terlalu eksklusif,,

buat pasar kyk indonesia yang lebih ke kebudayaaan &quot;bebek&quot; yang ikut2n, apa bisa??

kadang orang di sini cuma pengen &quot;sama&quot; supaya derajat mereka naik tanpa peduli &quot;core&quot; sebenernya mereka siapa atau ap..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>rite,,</p>
<p>tapi kalo terlalu eksklusif,,</p>
<p>buat pasar kyk indonesia yang lebih ke kebudayaaan &#8220;bebek&#8221; yang ikut2n, apa bisa??</p>
<p>kadang orang di sini cuma pengen &#8220;sama&#8221; supaya derajat mereka naik tanpa peduli &#8220;core&#8221; sebenernya mereka siapa atau ap..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Daniel Hermawan</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9182</link>
		<dc:creator>Daniel Hermawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 17:17:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9182</guid>
		<description>Design yang baik adalah design yang mewakili isi produk dan keinginan konsumen secara menyeluruh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Design yang baik adalah design yang mewakili isi produk dan keinginan konsumen secara menyeluruh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aprino Cahyo A.</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9129</link>
		<dc:creator>Aprino Cahyo A.</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 20:02:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9129</guid>
		<description>ketika Thomas Alva Edison pertama kali bekerja menemukan lampu, dia telah menghidupi banyak orang. Tetapi sekarang banyak orang bekerja untuk kita dengan menyediakan teknologi yang kita inginkan. Produk ini saat ini berkembang menjadikan manusia sebagai raja.

Perkembangan sosial suatu produk teknologi pasti menimbulkan efek sosial bagi individu atau komunitas. Sebagai contoh anak kecil sekarang sudah enggan main di sawah, mereka lebih betah main game di depan komputer.
Hal ini mungkin dimaklumi jika kita melihat di kota yang tidak ada sawah atau tempat bermain, tapi apakah kita hanya sibuk2 mencari2 alasan?!

Hilangnya interaksi sosial antara manusia dengan lingkungan di dunia nyata mulai terasa ketika ingin melihat tanaman terong kita membutuhkan bantuan mesin pencari di Internet.

sudah selayaknya interaksi teknologi dengan penggunanya mengedepankan interaksi pengguna dengan dunia nyata, seperti interaksi di terminal pulogadung, bawah jembatan layang, mall, sawah, gunung, dll. 

Mungkinkah?!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ketika Thomas Alva Edison pertama kali bekerja menemukan lampu, dia telah menghidupi banyak orang. Tetapi sekarang banyak orang bekerja untuk kita dengan menyediakan teknologi yang kita inginkan. Produk ini saat ini berkembang menjadikan manusia sebagai raja.</p>
<p>Perkembangan sosial suatu produk teknologi pasti menimbulkan efek sosial bagi individu atau komunitas. Sebagai contoh anak kecil sekarang sudah enggan main di sawah, mereka lebih betah main game di depan komputer.<br />
Hal ini mungkin dimaklumi jika kita melihat di kota yang tidak ada sawah atau tempat bermain, tapi apakah kita hanya sibuk2 mencari2 alasan?!</p>
<p>Hilangnya interaksi sosial antara manusia dengan lingkungan di dunia nyata mulai terasa ketika ingin melihat tanaman terong kita membutuhkan bantuan mesin pencari di Internet.</p>
<p>sudah selayaknya interaksi teknologi dengan penggunanya mengedepankan interaksi pengguna dengan dunia nyata, seperti interaksi di terminal pulogadung, bawah jembatan layang, mall, sawah, gunung, dll. </p>
<p>Mungkinkah?!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yoppi W</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9126</link>
		<dc:creator>Yoppi W</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 18:08:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9126</guid>
		<description>artikelnya keren!!
Di tunggu lagi tulisannya bang Nigel!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>artikelnya keren!!<br />
Di tunggu lagi tulisannya bang Nigel!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zam.web.id</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9124</link>
		<dc:creator>zam.web.id</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 15:26:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9124</guid>
		<description>dan kadang membutuhkan suatu riset untuk hanya mendesain halaman website, tetapi tidak semua melakukan hal ini, atau jangan-jangan memang belum ada?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dan kadang membutuhkan suatu riset untuk hanya mendesain halaman website, tetapi tidak semua melakukan hal ini, atau jangan-jangan memang belum ada?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Asril Sachmud</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9123</link>
		<dc:creator>Asril Sachmud</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 15:09:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9123</guid>
		<description>interaction design: suatu saat nanti mungkin mesin akan bernyawa dan ruang interaksi sosial manusia semakin menakjubkan karena mesin yang tadinya hanya &quot;menerima perintah&quot; kini bisa diajak &quot;berbicara memahami eksistensi manusia&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>interaction design: suatu saat nanti mungkin mesin akan bernyawa dan ruang interaksi sosial manusia semakin menakjubkan karena mesin yang tadinya hanya &#8220;menerima perintah&#8221; kini bisa diajak &#8220;berbicara memahami eksistensi manusia&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nigel Sielegar</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9122</link>
		<dc:creator>Nigel Sielegar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 15:09:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9122</guid>
		<description>Kualitas tinggi saya rasa tidak cukup sebagai acuan &quot;good design&quot; anymore. Sebagai designer sekarang, pemikirannya harus lebih jauh daripada fungsi dan estetik semata. Social (designers are the creator of culture) dan environmental impact (designer adalah polutant terbesar) yang dihasilkan suatu produk harus juga diperhitungkan. Design menjadi area yang jauh lebih kompleks daripada design beberapa tahun lalu. 

Don&#039;t you agree?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kualitas tinggi saya rasa tidak cukup sebagai acuan &#8220;good design&#8221; anymore. Sebagai designer sekarang, pemikirannya harus lebih jauh daripada fungsi dan estetik semata. Social (designers are the creator of culture) dan environmental impact (designer adalah polutant terbesar) yang dihasilkan suatu produk harus juga diperhitungkan. Design menjadi area yang jauh lebih kompleks daripada design beberapa tahun lalu. </p>
<p>Don&#8217;t you agree?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nigel Sielegar</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9120</link>
		<dc:creator>Nigel Sielegar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 15:04:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9120</guid>
		<description>Dalam hal ini. I am more than happy untuk share pengalaman dan ilmu. Hanya forum, kesempatan, situasi dan kondisi belum pas. Saya juga berharap bisa share pengalaman dan ilmu sampai ke Indonesia. Sehingga design di indonesia bisa maju. 

Saya memilih project bukan karena harga ataupun negara. qualifikasinya hanya &quot;if the project worth doing or not.&quot; kalaupun dibayar tinggi tetapi produknya bukan sesuatu yang saya percayai, projectnya tak akan saya ambil. Sebaliknya kalo projectnya memang sesuatu yang sesuai, I&#039;ll be more than happy to do it. 

jadi dari negara Indonesia atau manapun saya rasa tak ada hubungannya. if the project is worth doing (ethically and fit my principle as a designer), I&#039;ll do it. 

Cheers!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam hal ini. I am more than happy untuk share pengalaman dan ilmu. Hanya forum, kesempatan, situasi dan kondisi belum pas. Saya juga berharap bisa share pengalaman dan ilmu sampai ke Indonesia. Sehingga design di indonesia bisa maju. </p>
<p>Saya memilih project bukan karena harga ataupun negara. qualifikasinya hanya &#8220;if the project worth doing or not.&#8221; kalaupun dibayar tinggi tetapi produknya bukan sesuatu yang saya percayai, projectnya tak akan saya ambil. Sebaliknya kalo projectnya memang sesuatu yang sesuai, I&#8217;ll be more than happy to do it. </p>
<p>jadi dari negara Indonesia atau manapun saya rasa tak ada hubungannya. if the project is worth doing (ethically and fit my principle as a designer), I&#8217;ll do it. </p>
<p>Cheers!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MIQDAD</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9119</link>
		<dc:creator>MIQDAD</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 14:57:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9119</guid>
		<description>http://miqdadprofan.blogspot.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://miqdadprofan.blogspot.com" rel="nofollow" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/miqdadprofan.blogspot.com?referer=');">http://miqdadprofan.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nigel Sielegar</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9118</link>
		<dc:creator>Nigel Sielegar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 14:54:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9118</guid>
		<description>memang melihat paling sering dipakai. Tapi, dalam hal interaction design, sentuhan, suara, logika fungsi, bahkan bau bisa dipakai sebagai bagian dari interaction atau experience design (ingat bau khas mobil baru? how iconic that is)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>memang melihat paling sering dipakai. Tapi, dalam hal interaction design, sentuhan, suara, logika fungsi, bahkan bau bisa dipakai sebagai bagian dari interaction atau experience design (ingat bau khas mobil baru? how iconic that is)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MIQDAD</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9116</link>
		<dc:creator>MIQDAD</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 14:12:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9116</guid>
		<description>Teknologi dan Perjuangan Kelas...

Perkembangan teknologi enam tahun terakhir—industri nuklir, sibernitika dan teknik-teknik informasi terkait, bioteknologi dan rekayasa genetika—telah memberikan perubahan mendasar dalam ruang lingkup sosial. Metode eksploitasi dan dominasi telah berubah, dan untuk alasan inilah ide lama tentang sifat dasar dan perjuangan kelas tidak cukup untuk bisa memahami situasi sekarang ini. &#039;Pekerja&#039;isme para marxis dan sindikalis tidak lagi menawarkan sesuatu yang berguna dalam mengembangkan praktek revolusioner. Akan tetapi, penolakan konsep kelas bukan pula merupakan jawaban yang berguna untuk situasi saat ini, karena hal semacam ini [tersebut] akan menghilangkan sarana untuk memahami realitas kekinian dan bagaimana cara menyerangnya.

Eksploitasi tidak hanya berlanjut begitu saja, tetapi telah berkembang secara tajam sejak lahirnya teknologi. Sibernetika telah membuka desentralisasi produksi, penyebaran unit-unit kecil produksi dalam lingkup sosial. Secara drastis, otomasi secara drastis telah mengurangi jumlah produksi pekerja yang dibutuhkan dalam tiap proses manufakur . Sibernetika telah meciptakan metode perolehan keuntungan yang instant tanpa memproduksi sesuatu yang nyata, yang kemudian membantu modal\kapital berkembang sendiri dengan ongkos buruh yang minimal.

Kemudian, teknologi baru menuntut spesialisasi pengetahuan yang memang tidak tersedia untuk kebanykan orang. Pengetahuan ini menjadi harta yang berharga dari kelas yang berkuasa [ruling class] pada masa sekarang. Di bawah sistem industri yang lama, seseorang dapat melihat perjuangan kelas sebagai perjuangan antara pekerja dan pemilik alat produksi. Ini menjadi sesuatu yang masuk akal. Setelah perkembangan teknologi, orang-orang yang tereksploitasi telah mendapati diri mereka mengarah pada posisi yang sulit. Pada masa industri saat ini posisi pekerja yang sepanjang harinya bekerja di dalam pabrik tergantikan oleh pekerja harian, layanan sektor jasa, kerja paruh waktu, pengangguran, pasar ilegal, ilegalitas, tuna wisma dan penjara. keadaan seperti ini menjamin bahwa tembok pemisah yang diciptakan oleh teknlogi baru di antara pengeksploitasi dan yang tereksploitasi menyisakan sesuatu yang tak terobohkan.

Akan tetapi, sifat alamiah teknologi itu sendiri melampaui jangkauan mereka yang tereksploitasi. Awal perkembangan industrial mengambil fokus utamanya dalam penemuan teknik standarisasi pembiayaan rendah dengan profit/keuntungan yang tinggi dalam pabrikasi massal. teknologi yang berkembang kini tidaklah terlalu memfokuskan diri pada produksi barang-barang dalam artian teknologi yang kini berkembang, memfokuskan diri pada penyebaran secara luas kontrol sosial serta sedapat mungkin mengurangi keuntungan dari produksinya. Industri nuklir tidak hanya membutuhkan spesialisasi pengetahuan, namun juga tingkat pengamanan yang tinggi yang menempatkannya benar-benar dibawah kontrol negara dan memerlukan struktur militer yang sesuai dengan penggunaannya yang ekstrim dalam militer. Teknologi sibernetik memiliki kemampuan memproses, merekam, mengumpulkan dan mengirim informasi sesuai kebutuhan negara untuk dokumentasi dan memantau warganya yang juga merupakan pengurangan kebutuhan akan pengetahuan bagi mereka yang diatur dengan berbit-bit informasi—data—harapan, hal ini mereduksi kemampuan yang sesungguhnya/nyata dalam memahami mereka yang tereksploitasi. Bioteknologi memberi kontrol negara dan kapital terhadap sebagian besar proses-proses kehidupan yang paling fundamental itu sendiri—membiarkan mereka (negara dan kapital) menentukan jenis tetumbuhan, hewan—dan bahkan manusia yang bisa eksis.

Oleh karena itu teknologi-teknologi ini memerlukan spesialisasi pengetahuan dan dikembangkan untuk kepentingan peningkatan kontrol negara dan kapital terhadap seluruh kehidupan manusia bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kelas yang tereksploitasi sekarang dapat dipahami sebagai kelas-kelas yang terabaikan dari spesialisasi pengetahuan ini dan dari partisipasi yang nyata dalam pemungsian kekuasaan. Kelas pemodal/borjuis yang dimaksud dalam pengertian kini adalah golongan yang berpartisipasi dalam fungsi kekuasaan dan penggunaan dari spesialisasi pengetahuan teknologikal dalam artian yang sebenarnya . Tentu saja ada proses-proses dalamnya, dan batas antara kelas penguasa dan kelas pekerja, dalam beberapa kasus dua kelas ini,menjadi sulit untuk dipahami karena peningkatan jumlah penduduk yang terproletarisasi—kehilangan kemampuan/kebebasan untuk membuat keputusan atas kondisi eksistensi mereka yang mungkin telah mereka miliki.

Penting untuk diketahui meskipun teknologi-teknologi baru ini dimaksudkan untuk memberikan kontrol kepada negara atas kelas yang terabaikan dan segala kekayaan hasil bumi, justru mesin-mesin itu sendiri melampaui/tak dapat di kontrol oleh manusia. Keleluasan dan spesialisasi yang mereka perlukan berkombinasi dengan bahan-bahan material yang tak terprediksikan —atom dan sub partikel-partikel atom, gelombang cahaya, gen dan kromosom, dan lain-lain—hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa memahami sepenuhnya bagaimana semua itu bekerja.

Aspek teknologikal ini tentunya yang telah menambah penderitaan kita akibat krisis ekonomi yang berlangsung. Meskipun demikian, ancaman bencana teknologi ini diluar kontrol siapapun juga yang memberi kuasa dalam mengontrol kelas yang tereksploitasi—ketakutan akan Chernobyl-chernobil lainnya, monster bermesin genetis yang lolos dari laboratorium—menciptakan penyakit dan kenyamanan, menggerakkan orang untuk menerima aturan para ahli yang telah membutikan batas-batas mereka secara terus menerus. Lebih jauh lagi, negara—yang bertanggung jawab kepada setiap orang atas perkembangan teknologi ini melalui militernya-mampu menghadirkan dirinya sebagai pengawas dalam melawan penyalahgunaan teknologi oleh korporasi-korporasi yang merajalela kini. Sehingga, kedahsyatan serta nafsu yang tak terkendali ini melayani pihak yang mengeksploitasi dengan baik dalam mempertahankan kontrol mereka terhadap seluruh populasi yang tersisa. Dan apakah mereka(kelas borjuis) perlu memikirkan mengenai kemungkinan musibah-musibah yang akan terjadi pada seluruh umat manusia di bumi ketika kekayaan dan kekuasaan mereka menyediakan rencana darurat yang hanya untuk melindungi mereka, bukan untuk kita?

Oleh sebab itu, pengecualian teknologi baru dan kondisi baru serta bahaya yang dipaksakan pada kelas yang tereksploitasi akan meruntuhkan cita-cita usang tentang pengambilalihan sarana produksi. Teknologi ini-yang terkontrol maupun yang tak terkontrol-tak dapat memberikan tujuan manusia yang sebenarnya dan tidak ada tempat dalam perkembangan dunia bagi kebebasan individu untuk menentukan hidup mereka sesuai yang mereka inginkan. Jadi ilusi utopia para sindikalis dan marxis tak lagi dapat digunakan dalam dunia kita pada masa sekarang ini. Tetapi apakah pernah digunakan sebelumnya? Perkembangan teknologi baru secara spesifik berorientasi pada pengontrolan, tetapi semua perkembangan industri telah mengambil perlunya keseriusan dalam pengontrolan terhadap kelas non-eksploitator. Pabrik diciptakan untuk membawa produsen ke bawah naungan satu atap guna mengatur kegiatan-kegiatan mereka dengan lebih baik; garis produksi memekanisasi peraturan ini; setiap teknologi baru mempercepat pekerjaan pabrik, sehingga setiap waktu serta gerak-gerik pekerja lebih lanjut berada di bawah pengontrolan. Oleh karena itu, ide yang menyatakan bahwa pekerja dapat membebaskan diri mereka dengan mengambil alih sarana produksi masih selalu menjadi angan-angan. Ini adalah angan-angan yang tak dapat dipahami ketika proses teknologikal mengambil manufaktur sebagai tujuan utama mereka. Sekarang ketika tujuan utama mereka begitu jelas sebagai kontrol sosial, sifat nyata perjuangan kita harus jelas pula: menghancurkan segala sistem kontrol-(negara), modal dan sistem teknologi mereka, mengakhiri kondisi proletarianisasi kita dan penciptaan diri kita sebagai individu bebas yang mampu menentukan bagaimana kita hidup sesuai keinginan kita sendiri. Untuk melawan teknologi, senjata terbaik adalah senjata yang digunakan kelas yang dieksploitasi sejak awal era industri: sabotase.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Teknologi dan Perjuangan Kelas&#8230;</p>
<p>Perkembangan teknologi enam tahun terakhir—industri nuklir, sibernitika dan teknik-teknik informasi terkait, bioteknologi dan rekayasa genetika—telah memberikan perubahan mendasar dalam ruang lingkup sosial. Metode eksploitasi dan dominasi telah berubah, dan untuk alasan inilah ide lama tentang sifat dasar dan perjuangan kelas tidak cukup untuk bisa memahami situasi sekarang ini. &#8216;Pekerja&#8217;isme para marxis dan sindikalis tidak lagi menawarkan sesuatu yang berguna dalam mengembangkan praktek revolusioner. Akan tetapi, penolakan konsep kelas bukan pula merupakan jawaban yang berguna untuk situasi saat ini, karena hal semacam ini [tersebut] akan menghilangkan sarana untuk memahami realitas kekinian dan bagaimana cara menyerangnya.</p>
<p>Eksploitasi tidak hanya berlanjut begitu saja, tetapi telah berkembang secara tajam sejak lahirnya teknologi. Sibernetika telah membuka desentralisasi produksi, penyebaran unit-unit kecil produksi dalam lingkup sosial. Secara drastis, otomasi secara drastis telah mengurangi jumlah produksi pekerja yang dibutuhkan dalam tiap proses manufakur . Sibernetika telah meciptakan metode perolehan keuntungan yang instant tanpa memproduksi sesuatu yang nyata, yang kemudian membantu modal\kapital berkembang sendiri dengan ongkos buruh yang minimal.</p>
<p>Kemudian, teknologi baru menuntut spesialisasi pengetahuan yang memang tidak tersedia untuk kebanykan orang. Pengetahuan ini menjadi harta yang berharga dari kelas yang berkuasa [ruling class] pada masa sekarang. Di bawah sistem industri yang lama, seseorang dapat melihat perjuangan kelas sebagai perjuangan antara pekerja dan pemilik alat produksi. Ini menjadi sesuatu yang masuk akal. Setelah perkembangan teknologi, orang-orang yang tereksploitasi telah mendapati diri mereka mengarah pada posisi yang sulit. Pada masa industri saat ini posisi pekerja yang sepanjang harinya bekerja di dalam pabrik tergantikan oleh pekerja harian, layanan sektor jasa, kerja paruh waktu, pengangguran, pasar ilegal, ilegalitas, tuna wisma dan penjara. keadaan seperti ini menjamin bahwa tembok pemisah yang diciptakan oleh teknlogi baru di antara pengeksploitasi dan yang tereksploitasi menyisakan sesuatu yang tak terobohkan.</p>
<p>Akan tetapi, sifat alamiah teknologi itu sendiri melampaui jangkauan mereka yang tereksploitasi. Awal perkembangan industrial mengambil fokus utamanya dalam penemuan teknik standarisasi pembiayaan rendah dengan profit/keuntungan yang tinggi dalam pabrikasi massal. teknologi yang berkembang kini tidaklah terlalu memfokuskan diri pada produksi barang-barang dalam artian teknologi yang kini berkembang, memfokuskan diri pada penyebaran secara luas kontrol sosial serta sedapat mungkin mengurangi keuntungan dari produksinya. Industri nuklir tidak hanya membutuhkan spesialisasi pengetahuan, namun juga tingkat pengamanan yang tinggi yang menempatkannya benar-benar dibawah kontrol negara dan memerlukan struktur militer yang sesuai dengan penggunaannya yang ekstrim dalam militer. Teknologi sibernetik memiliki kemampuan memproses, merekam, mengumpulkan dan mengirim informasi sesuai kebutuhan negara untuk dokumentasi dan memantau warganya yang juga merupakan pengurangan kebutuhan akan pengetahuan bagi mereka yang diatur dengan berbit-bit informasi—data—harapan, hal ini mereduksi kemampuan yang sesungguhnya/nyata dalam memahami mereka yang tereksploitasi. Bioteknologi memberi kontrol negara dan kapital terhadap sebagian besar proses-proses kehidupan yang paling fundamental itu sendiri—membiarkan mereka (negara dan kapital) menentukan jenis tetumbuhan, hewan—dan bahkan manusia yang bisa eksis.</p>
<p>Oleh karena itu teknologi-teknologi ini memerlukan spesialisasi pengetahuan dan dikembangkan untuk kepentingan peningkatan kontrol negara dan kapital terhadap seluruh kehidupan manusia bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kelas yang tereksploitasi sekarang dapat dipahami sebagai kelas-kelas yang terabaikan dari spesialisasi pengetahuan ini dan dari partisipasi yang nyata dalam pemungsian kekuasaan. Kelas pemodal/borjuis yang dimaksud dalam pengertian kini adalah golongan yang berpartisipasi dalam fungsi kekuasaan dan penggunaan dari spesialisasi pengetahuan teknologikal dalam artian yang sebenarnya . Tentu saja ada proses-proses dalamnya, dan batas antara kelas penguasa dan kelas pekerja, dalam beberapa kasus dua kelas ini,menjadi sulit untuk dipahami karena peningkatan jumlah penduduk yang terproletarisasi—kehilangan kemampuan/kebebasan untuk membuat keputusan atas kondisi eksistensi mereka yang mungkin telah mereka miliki.</p>
<p>Penting untuk diketahui meskipun teknologi-teknologi baru ini dimaksudkan untuk memberikan kontrol kepada negara atas kelas yang terabaikan dan segala kekayaan hasil bumi, justru mesin-mesin itu sendiri melampaui/tak dapat di kontrol oleh manusia. Keleluasan dan spesialisasi yang mereka perlukan berkombinasi dengan bahan-bahan material yang tak terprediksikan —atom dan sub partikel-partikel atom, gelombang cahaya, gen dan kromosom, dan lain-lain—hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa memahami sepenuhnya bagaimana semua itu bekerja.</p>
<p>Aspek teknologikal ini tentunya yang telah menambah penderitaan kita akibat krisis ekonomi yang berlangsung. Meskipun demikian, ancaman bencana teknologi ini diluar kontrol siapapun juga yang memberi kuasa dalam mengontrol kelas yang tereksploitasi—ketakutan akan Chernobyl-chernobil lainnya, monster bermesin genetis yang lolos dari laboratorium—menciptakan penyakit dan kenyamanan, menggerakkan orang untuk menerima aturan para ahli yang telah membutikan batas-batas mereka secara terus menerus. Lebih jauh lagi, negara—yang bertanggung jawab kepada setiap orang atas perkembangan teknologi ini melalui militernya-mampu menghadirkan dirinya sebagai pengawas dalam melawan penyalahgunaan teknologi oleh korporasi-korporasi yang merajalela kini. Sehingga, kedahsyatan serta nafsu yang tak terkendali ini melayani pihak yang mengeksploitasi dengan baik dalam mempertahankan kontrol mereka terhadap seluruh populasi yang tersisa. Dan apakah mereka(kelas borjuis) perlu memikirkan mengenai kemungkinan musibah-musibah yang akan terjadi pada seluruh umat manusia di bumi ketika kekayaan dan kekuasaan mereka menyediakan rencana darurat yang hanya untuk melindungi mereka, bukan untuk kita?</p>
<p>Oleh sebab itu, pengecualian teknologi baru dan kondisi baru serta bahaya yang dipaksakan pada kelas yang tereksploitasi akan meruntuhkan cita-cita usang tentang pengambilalihan sarana produksi. Teknologi ini-yang terkontrol maupun yang tak terkontrol-tak dapat memberikan tujuan manusia yang sebenarnya dan tidak ada tempat dalam perkembangan dunia bagi kebebasan individu untuk menentukan hidup mereka sesuai yang mereka inginkan. Jadi ilusi utopia para sindikalis dan marxis tak lagi dapat digunakan dalam dunia kita pada masa sekarang ini. Tetapi apakah pernah digunakan sebelumnya? Perkembangan teknologi baru secara spesifik berorientasi pada pengontrolan, tetapi semua perkembangan industri telah mengambil perlunya keseriusan dalam pengontrolan terhadap kelas non-eksploitator. Pabrik diciptakan untuk membawa produsen ke bawah naungan satu atap guna mengatur kegiatan-kegiatan mereka dengan lebih baik; garis produksi memekanisasi peraturan ini; setiap teknologi baru mempercepat pekerjaan pabrik, sehingga setiap waktu serta gerak-gerik pekerja lebih lanjut berada di bawah pengontrolan. Oleh karena itu, ide yang menyatakan bahwa pekerja dapat membebaskan diri mereka dengan mengambil alih sarana produksi masih selalu menjadi angan-angan. Ini adalah angan-angan yang tak dapat dipahami ketika proses teknologikal mengambil manufaktur sebagai tujuan utama mereka. Sekarang ketika tujuan utama mereka begitu jelas sebagai kontrol sosial, sifat nyata perjuangan kita harus jelas pula: menghancurkan segala sistem kontrol-(negara), modal dan sistem teknologi mereka, mengakhiri kondisi proletarianisasi kita dan penciptaan diri kita sebagai individu bebas yang mampu menentukan bagaimana kita hidup sesuai keinginan kita sendiri. Untuk melawan teknologi, senjata terbaik adalah senjata yang digunakan kelas yang dieksploitasi sejak awal era industri: sabotase.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: saori</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9114</link>
		<dc:creator>saori</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 13:23:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9114</guid>
		<description>bagus dan asyik artikelnyyaaa ....
tapi kenapa ya orang-orang pintar asli kelahiran indonesia banyak yang tinggal di luar negeri dan menciptakan sesuatu untuk negara yang didiaminya sekarang, bukan berusaha kembali ketanah kelahirannya lalu memajukan dan mengembangan ilmunya di negeri kelahirannya yaitu indonesia????? 
seperti mas nigel ini....
bukankah mas nigel ini asli orang indonesia?????
koq tinggal dan mengembangkan negara lain ya,,,, 

sayang saya bukan mas nigel
andai saya mas nigel pasti indonesia akan mempunyai teknologi yang canggih dari negara-negara lain bukan sebagai follower

hidup indonesia,,,,
jaya mas nigel

kehadiranmu di indonesia tentu di tunggu-tunggu banyak orang, tentunyaaaaa dengan segudang ilmunyyyaaaaa

siap ah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagus dan asyik artikelnyyaaa &#8230;.<br />
tapi kenapa ya orang-orang pintar asli kelahiran indonesia banyak yang tinggal di luar negeri dan menciptakan sesuatu untuk negara yang didiaminya sekarang, bukan berusaha kembali ketanah kelahirannya lalu memajukan dan mengembangan ilmunya di negeri kelahirannya yaitu indonesia?????<br />
seperti mas nigel ini&#8230;.<br />
bukankah mas nigel ini asli orang indonesia?????<br />
koq tinggal dan mengembangkan negara lain ya,,,, </p>
<p>sayang saya bukan mas nigel<br />
andai saya mas nigel pasti indonesia akan mempunyai teknologi yang canggih dari negara-negara lain bukan sebagai follower</p>
<p>hidup indonesia,,,,<br />
jaya mas nigel</p>
<p>kehadiranmu di indonesia tentu di tunggu-tunggu banyak orang, tentunyaaaaa dengan segudang ilmunyyyaaaaa</p>
<p>siap ah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adiputra</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9112</link>
		<dc:creator>adiputra</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 12:58:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9112</guid>
		<description>Navinot &amp; Niegel Siregar,

IMO,
sebetulnya dari awal mula revolusi software engineering, Interface ini juga sudah sangat diperhitungkan sebagai salah satu kunci keberhasilan sebuah product.

ini nyata dengan adanya Functional Requirement &amp; Non Functional Requirement, pada Fase Reuirement dalam SDLC.

Functional Requirement, jelas lebih mengarah pada busines proses dari suatu system yang akan kita kembangkan.

Non Functional Requirement, lebih ke arah culture, kebiasaan, kemampuan setiap pengguna dalam menggunakan system komputer. Dalam hal ini, design mempunyai pengaruh yang amat penting.

Singkatnya, developer harus mengerti siapa pengguna aplikasi yang akan dibuat. Contoh sederhana, apakah user terbiasa dengan konfirmasi OK CANCEL atau CANCEL OK, apakah user terbiasa dengan toolbar / menubar, apakah user buta warna.. dst. Intinya, interface system didesain se-user friendly mungkin, bukan hanya untuk sebagian besar user, bila perlu, per individu user.

Dengan demikian, impact-nya akan terasa dengan berkurangnya effort penyesuaian pengguna (dari aplikasi yang 1 ke yang lain), human error akan berkurang (karena sudah terbiasa dengan menu-menu tertentu), kerja akan lebih efisien.

Dan inilah yang diinginkan management setiap perusahaan, dengan menggunakan system, kerja dapat lebih efisien :&gt;

lalu, apakah ada yang pernah menerapkan Non Functional Requirement ini dengan berhasil? ya :&gt; yg gw tau: IPod &amp; IPhone

nice posting,
regards,
Adiputra Nurkartanto</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Navinot &amp; Niegel Siregar,</p>
<p>IMO,<br />
sebetulnya dari awal mula revolusi software engineering, Interface ini juga sudah sangat diperhitungkan sebagai salah satu kunci keberhasilan sebuah product.</p>
<p>ini nyata dengan adanya Functional Requirement &amp; Non Functional Requirement, pada Fase Reuirement dalam SDLC.</p>
<p>Functional Requirement, jelas lebih mengarah pada busines proses dari suatu system yang akan kita kembangkan.</p>
<p>Non Functional Requirement, lebih ke arah culture, kebiasaan, kemampuan setiap pengguna dalam menggunakan system komputer. Dalam hal ini, design mempunyai pengaruh yang amat penting.</p>
<p>Singkatnya, developer harus mengerti siapa pengguna aplikasi yang akan dibuat. Contoh sederhana, apakah user terbiasa dengan konfirmasi OK CANCEL atau CANCEL OK, apakah user terbiasa dengan toolbar / menubar, apakah user buta warna.. dst. Intinya, interface system didesain se-user friendly mungkin, bukan hanya untuk sebagian besar user, bila perlu, per individu user.</p>
<p>Dengan demikian, impact-nya akan terasa dengan berkurangnya effort penyesuaian pengguna (dari aplikasi yang 1 ke yang lain), human error akan berkurang (karena sudah terbiasa dengan menu-menu tertentu), kerja akan lebih efisien.</p>
<p>Dan inilah yang diinginkan management setiap perusahaan, dengan menggunakan system, kerja dapat lebih efisien :&gt;</p>
<p>lalu, apakah ada yang pernah menerapkan Non Functional Requirement ini dengan berhasil? ya :&gt; yg gw tau: IPod &amp; IPhone</p>
<p>nice posting,<br />
regards,<br />
Adiputra Nurkartanto</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Daniel Hermawan</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9101</link>
		<dc:creator>Daniel Hermawan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 11:27:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9101</guid>
		<description>Designer harus berpikir matang-matang sebelum mengerjakan tugasnya. Produk yang harus diproduksi adalah produk yang memiliki kualitas terbaik. Konsumen sangat menyukai produk berkualitas tinggi. Selamat bekerja bagi para designer!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Designer harus berpikir matang-matang sebelum mengerjakan tugasnya. Produk yang harus diproduksi adalah produk yang memiliki kualitas terbaik. Konsumen sangat menyukai produk berkualitas tinggi. Selamat bekerja bagi para designer!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Daniel Hermawan</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/05/21/humanizing-interaction-design-by-nigel-sielegar/#comment-9100</link>
		<dc:creator>Daniel Hermawan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 11:24:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1837#comment-9100</guid>
		<description>Designer memiliki tugas yang berat dalam menentukkan berhasil atau tidaknya suatu produk di pasar. Artinya, tampilan dan kreativitas yang diberikan designer haruslah inovatif dan lain daripada yang lain. Saya salut dengan designer yang berhasil menjual produk perusahaan melebihi pencapaian target. Designer adalah ujung tombak perusahaan. Sekian komentar dari saya. Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Designer memiliki tugas yang berat dalam menentukkan berhasil atau tidaknya suatu produk di pasar. Artinya, tampilan dan kreativitas yang diberikan designer haruslah inovatif dan lain daripada yang lain. Saya salut dengan designer yang berhasil menjual produk perusahaan melebihi pencapaian target. Designer adalah ujung tombak perusahaan. Sekian komentar dari saya. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
