Making Hardselling Look Less Like One

Making Hardselling Look Less Like One

Hard Rock
Level toleransi tiap-tiap orang bagi hardselling adalah berbeda-beda. Ada yang bisa sangat toleran karena kemampuan filternya yang mumpuni, dan ada yang susah mentoleransi gara-gara terlalu sensitif. Apa yang kira-kira membuat pesan-pesan marketing kita tampak seperti hardselling?

  • Terlalu eksplisit. Buy buy buy. Tidak ada basa-basi atau pengantar. Langsung ke pesan inti: belilah produk ini. Anda tak perlu tahu alasannya. Carilah sendiri alasannya.
  • Terlalu banyak pesan dalam satu waktu. Iklan yang muncul 5 menit sekali atau durasinya terlalu lama, atau durasi singkat namun diulang tiga kali menjadi mengganggu karena tampak berusaha menjejalkan sesuatu. Tanpa usaha kreatif, iklan ini akhirnya menjadi hardselling.

Kasus di atas biasanya sering ditemui di media konvensional seperti televisi dan radio. Dalam dunia online, ternyata penghuninya tidak kalah sensitif. Naked Conversation menyebutkan bahwa penghuni internet punya kecenderungan untuk menjaga agar channel ini selalu bersih. Oleh karena itu, hal-hal yang tidak bersifat otentik, tidak menampakkan sifat asli author, atau tidak punya good will biasanya akan mendapatkan apa yang disebut “tough love”. Seperti VivaNews beberapa waktu lalu yang mendapatkan kritikan keras karena praktek tweeting-nya yang kurang memenuhi standar institusi yang resourceful.

Saya juga pernah mendapatkan tough love. Kemarin di Plurk, karena sedang sensitif, saya merasa fenomena Kuburan Band yang sering tayang di televisi tampak seperti hardselling. Terlalu sering muncul, tanpa banyak variasi. Mungkin sekedar beda selera saja.

Tough love datang sewaktu saya melontar isu ini di Plurk. Zerobyte bilang, saya seharusnya tidak berkata demikian karena dalam kondisi serupa, promosi NavinoT yang saya lakukan di Plurk mungkin membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Hal ini membuat saya berpikir, mungkin praktek promosi saya kembali terjebak pada dua poin di atas.

Berikut ini adalah hal yang harus saya lakukan untuk mengurangi kemunculan hardselling. Well, sebenanrya intinya hanya satu. Faktor eksplisit harus dikurangi. Ini berarti dua hal. Saya harus lebih sering muncul dalam percakapan harian, dan saya harus menyembunyikan pesan saya dengan derau (noise). Jumlah kemunculan dikombinasikan dengan penambahan derau akan membuat promosi yang sebelumnya seperti hardselling menjadi relatif jauh lebih “jinak”. Peserta percakapan yang lain akan terbiasa dengan kehadiran saya dan saya tidak akan tampak seperti orang yang sedang berjualan saja.

Bagi yang merasa terganggu dengan aktifitas online saya, I promise you I’ll be better. I’ll be there before the sale :). Bagaimana dengan Anda. Saya harap Anda tidak terjebak hardselling setelah sekian lama online. Menurut Anda, seberapa besar efek dari rencana saya di atas. Apakah akan memecahkan masalah?

Comments are closed.