Berbicara Exit Strategy dengan Felix Widjaja

Berbicara Exit Strategy dengan Felix Widjaja

felix-teaser

Felix Widjaja, atau yang biasa dipanggil ‘fec’ oleh teman-temannya, adalah pendiri rumah desain Stucel. Agensi desain web premium ini diawali sebagai kerja sampingan sewaktu Felix masih di kantoran.

Anak asli Jakarta ini termasuk seorang yang beruntung di dunia teknologi informasi dengan projek Moodmill yang telah diakuisisi. Memang bukan sesuatu yang setara Google mengambil alih YouTube, tapi setidaknya berita semacam ini membawa angin segar bagi pengembang aplikasi Indonesia.

Berikut adalah wawancara dengan Felix tentang sepak terjangnya sebagai pengembang aplikasi dan desainer.

Bagaimana bisnis desain web & freelancing anda?

Cukup baik dan puji Tuhan hingga saat ini masih mengalami kemajuan.
Semua pada ikutan tren ‘krisis global’ nih.

Bagaimana dampaknya terhadap Stucel? Menurun atau tak terasa?

Sejujurnya saya sempat khawatir, namun hingga saat ini dampak itu belum terasa secara signifikan. Mungkin dikarenakan puncak krisis dikatakan adalah sekitar pertengahan ke atas 2009. Tetapi saya cukup optimis karena tren yang berlaku saat ini adalah para perusahaan mulai melirik metode pemasaran yang efektif, murah dan tak kenal lelah 24/7, yakni website. Di sisi lain, saya turut prihatin karena para perusahaan juga semakin gemar memulangkan para karyawannya.

Bagaimana dengan projek Moodmill? Bagaimana kabarnya?

Ah MoodMill! Saya harap kabarnya baik-baik saja.

Apa sih ide dibalik Moodmill?

Moodmill saya buat di saat saya baru serius ke jalur profesional, di saat Stucel masih amat muda. Dikarenakan projek waktu itu belum ramai, artinya saya memiliki cukup banyak waktu luang yang dapat saya pergunakan untuk hal produktif. Saya ingin mempelajari teknologi AJAX yang waktu itu baru naik daun, dan idenya pun cukup simple yaitu ingin mengetahui status dan mood teman-teman saya. Pengembangannya pada tahap akhir dibantu oleh beberapa kawan dekat saya yang baik hati, termasuk Toni dari NavinoT!

Kapan Moodmill mulai meluncur?

Sekitar Februari 2007.

Mengapa Moodmill dijual?

Saya ingat, jargon microblogging bahkan belum ditemukan di saat itu dan Twitter belum meluncur. Namun sayangnya Moodmill kecolongan start sekitar 2 bulan dan saya sadar bahwa saya tidak dapat melawan para raksasa-raksasa itu. Dikarenakan saya memulai tanpa modal, maka akhirnya sebelum Moodmill mati total karena kesibukan saya mengurus Stucel, saya putuskan untuk menjualnya kepada Kingside Media

Bila Anda ingin membaca lebih lanjut prihal penjualan ini, bisa dibaca di blog Stucel.

Dari awal, apakah memang ada strategi untuk monetisasi?

Dikarenakan hanya untuk keperluan ‘belajar’, dan sampai pada momen ‘tanggung untuk tidak dilanjutkan’, dari awal saya tidak pernah terpikirkan untuk memonetasinya.

Namun memang yang terjadi benar-benar sebuah anugerah yang sama sekali berada luar pemikiran saya. Karena boleh dibilang sejak peluncuran Moodmill hingga sekarang, Stucel mendapatkan klien yang ‘hinggap’ karena karya Moodmill. Jadi semacam roket recognition yang cukup instan.

Apakah anda mencari pembeli, atau pembeli datang sendiri? Alias memang bertujuan untuk dijual?

Ya saya mencari pembeli dengan mengontak beberapa kandidat.

Sewaktu dijual, Moodmill sudah tumbuh seberapa besar? berapa anggota saat itu?

Seingat saya sekitar 3000 orang dan yang aktif mungkin hanya sekitar 30 orang.

Dalam hal penawaran, apa yang dijadikan patokan offer pertama? ENtah itu ide aplikasi, kualitas aplikasi, desain atau potensi di masa depan?

Saya sempat menanyakan hal ini kepada sang pembeli. Ia mengatakan: future possibility.

Bagaimana tanggapan anda dengan tawaran awal tersebut? Senang, kecewa? Negosiasi lagi?

Cukup senang dan proses negosiasi cukup singkat, langsung sepakat.

Bagaimana dengan proses hukum? apakah ini merupakan sesuai yg ribet?

Sama sekali tidak, pembayaran dilakukan melaui PayPal dan si pembeli sangat mempercayai saya hingga ia mentransfer uang terlebih dahulu sebelum saya mendorong domain kepemilikan moodmill.com kepadanya.

Apa pengalaman yang paling berkesan dari seluruh proses ini? Mulai dari ide sampe SOLD!

Ya itu tadi, berdasarkan sebuah proyek coba-coba ingin belajar, tapi tak disangka-sangka malah bisa menghasilkan dan belajar banyak hal.
Saya jadi teringat jam-jam bergadang saya mengerjakan Moodmill dari sejak HTML authoring, PHP, JavaScript hingga pekerjaan branding logo.
Saya kira, saya tidak akan bisa mengulanginya lagi! Entah dari mana datangnya kekuatan berkarya yang sungguh tinggi waktu itu.

Mengingat semua suka duka tersebut, apa kira-kira nasehatmu bagi para pengembang atau blogger yang hendak menjual aplikasi atau situsnya?

Jangan berpikir uang! Karena hal ini bisa membatasi ke-kreatifitasanmu dan bisa dijauhi jauh-jauh oleh para pengguna layananmu. Berpikirlah sederhana, polos, naif dan kritis. Ketahanan mental dan keteguhan hati harus tinggi.

Bagaimana kabar MM sekarang? Apa masih dipantau, atau sudah dianak-tirikan?

Bisa dibilang, sudah tidak dianggep anak lagi :p

Menyesal nggak untuk dijual?

Sama sekali tidak.

Ada berpikiran untuk membuat aplikasi lagi? Bagaimana dengan bisnis dibidang teknologi?

Tentu saja! Itu sudah merupakan obsesi terselubung saya. Harap bersabar ya, sedang digarap.

Mana yang kamu lebih pilih? Menarget lokal? Atau International langsung?

Keduanya memiliki pasar yang sungguh berbeda total. Dulu saya selalu memandang sebelah mata untuk pasar lokal dan sama sekali tidak tertarik untuk melayani lokal.

Namun hipotesis saya dulu itu sudah tidak valid lagi. Karena, bagaimana pun juga kita adalah penghuni lokal itu sendiri yang sudah pasti memiliki keuntungan dalam mengerti pasar lokal. Karena kita hidup di dalamnya kan?

Sekarang sibuk apa? Ada pesan untuk pembaca NavinoT?

Proyek-proyek desain Stucel dan proyek aplikasi website yang ditargetkan luncur Agustus 2009.

Pesan: Maju terus NT! Blog kritisisi teknologi yang sungguh tidak ada duanya. Sangat bangga bisa menjadi bagian dari NavinoT!

— Akhir Dari Wawancara —

Dari perbincangan di atas bisa dilihat, rejeki bisa datang kapan aja. Dari sesuatu yang di anggap iseng, kini malah berbuah manis. Saya rasa Felix dengan Moodmill-nya mempunya konsep yang terbilang fresh, yang mendongkrak harga jual Moodmill.

Coba terus yuk!

Comments are closed.