<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pendidikan itu Overrated?</title>
	<atom:link href="http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/</link>
	<description>Slashing Web &#38; Online Strategy</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 22:20:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: meea</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-11365</link>
		<dc:creator>meea</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 23:58:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-11365</guid>
		<description>overrated, enggak jugalah. barangkali tergantung kita, kalau kita pasif dan cuma mengikuti apa yang dibuat kurikulum sekolah/kuliah bisa2 ilmu kita seolah2 nggak berguna. seandainya lebih aktif ikut kegiatan di luar sekolah atau belajar hal lain yg berhubungan dgn yg kita pelajari, siapa tahu kita bisa menemukan benang merah antara pendidikan di sekolah dan kehidupan nyata. menurut saya sekolah itu teori, kerja itu praktikal, dua-duanya harus seimbang. salah jurusan gak papa-lah, drpd kerja tapi gak sesuai hati nurani. belajar kan seumur idup.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>overrated, enggak jugalah. barangkali tergantung kita, kalau kita pasif dan cuma mengikuti apa yang dibuat kurikulum sekolah/kuliah bisa2 ilmu kita seolah2 nggak berguna. seandainya lebih aktif ikut kegiatan di luar sekolah atau belajar hal lain yg berhubungan dgn yg kita pelajari, siapa tahu kita bisa menemukan benang merah antara pendidikan di sekolah dan kehidupan nyata. menurut saya sekolah itu teori, kerja itu praktikal, dua-duanya harus seimbang. salah jurusan gak papa-lah, drpd kerja tapi gak sesuai hati nurani. belajar kan seumur idup.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: om ipit</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10518</link>
		<dc:creator>om ipit</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:37:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10518</guid>
		<description>hidup OTODIDAK..
ilmu yang penting adalah ilmu tentang kebijaksanaan yang harusnya didapatkan dari keluarga. mami n papi. :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hidup OTODIDAK..<br />
ilmu yang penting adalah ilmu tentang kebijaksanaan yang harusnya didapatkan dari keluarga. mami n papi. <img src='http://www.navinot.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: azeez</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10495</link>
		<dc:creator>azeez</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 08:54:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10495</guid>
		<description>Salam

Sarjana Indonesia paling ahli untuk pekerjaan diluar bidang studinya, begitu kata tante saya melihat banyaknya orang banting setir. Ada dokter gigi yang jualan sate dan sukses bikin cabang di beberapa propinsi.

Mungkin sekolah sebagai formalitas yang formal: gak sinkron sama dunia nyata. Trus banyak pula yang ngambil S2 langsung setelah S1 ternyata dia takut nggak bisa lakuin apa-apa. Daripada nganggur mending kuliah... padahal cepat atau lambat sekolah akan berakhir. 

Sekolah penting, karena disana kita belajar menulis berpikir, membaca, sosialisasi, kompetisi, dll. Namun, nuansanya penuh aturan dan paksaan. Padahal ilmu yang dipelajari secara alami, full experience, dan atas keinginan sendiri lebih cepat merasuk ke otak. Makanya orang yang belajar otodidak lebih mahir daripada lulusan sarjana (belajar komputer misalnya). 

Btw, pernah dengar kisah 3 orag dosen Teknik Mesin yang berkendara lewat hutan manun mobil mereka mogok. Ternyata satupun dari mereka tak da yang bisa memperbakinya.... Mungkin benar mungkin anekdot saja. 

Salam.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam</p>
<p>Sarjana Indonesia paling ahli untuk pekerjaan diluar bidang studinya, begitu kata tante saya melihat banyaknya orang banting setir. Ada dokter gigi yang jualan sate dan sukses bikin cabang di beberapa propinsi.</p>
<p>Mungkin sekolah sebagai formalitas yang formal: gak sinkron sama dunia nyata. Trus banyak pula yang ngambil S2 langsung setelah S1 ternyata dia takut nggak bisa lakuin apa-apa. Daripada nganggur mending kuliah&#8230; padahal cepat atau lambat sekolah akan berakhir. </p>
<p>Sekolah penting, karena disana kita belajar menulis berpikir, membaca, sosialisasi, kompetisi, dll. Namun, nuansanya penuh aturan dan paksaan. Padahal ilmu yang dipelajari secara alami, full experience, dan atas keinginan sendiri lebih cepat merasuk ke otak. Makanya orang yang belajar otodidak lebih mahir daripada lulusan sarjana (belajar komputer misalnya). </p>
<p>Btw, pernah dengar kisah 3 orag dosen Teknik Mesin yang berkendara lewat hutan manun mobil mereka mogok. Ternyata satupun dari mereka tak da yang bisa memperbakinya&#8230;. Mungkin benar mungkin anekdot saja. </p>
<p>Salam&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fikri Rasyid @ Bloggingly</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10467</link>
		<dc:creator>Fikri Rasyid @ Bloggingly</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 00:45:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10467</guid>
		<description>IMHO, Setidak nyambung2nya pendidikan dengan karir kita kedepan, sedikit banyak pendidikan memberikan sumbangsih kepada perkembangan mental kita dan mengajarkan pola pikir sistematis. itu positive side nya y.

tapi negative sidenya, pendidikan di indonesia menghasilkan lulusan2 yang nantinya tidak nyambung ini (alah, entahlah apa istilahnya) karena pendidikannya sendiri tidak menjadi media untuk meledakkan potensi &amp; passion si peserta didik, dan kebanyakan peserta didik yang &#039;salah jurusan&#039; serta belum menemukan passion hidupnya saat dia menentukan pilihan jenjang apa yang akan dia tempuh.

Ya.. people make mistakes seperti salah arah y. tapi yang penting mengoreksi arahnya ketika sudah tahu salah :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>IMHO, Setidak nyambung2nya pendidikan dengan karir kita kedepan, sedikit banyak pendidikan memberikan sumbangsih kepada perkembangan mental kita dan mengajarkan pola pikir sistematis. itu positive side nya y.</p>
<p>tapi negative sidenya, pendidikan di indonesia menghasilkan lulusan2 yang nantinya tidak nyambung ini (alah, entahlah apa istilahnya) karena pendidikannya sendiri tidak menjadi media untuk meledakkan potensi &amp; passion si peserta didik, dan kebanyakan peserta didik yang &#8217;salah jurusan&#8217; serta belum menemukan passion hidupnya saat dia menentukan pilihan jenjang apa yang akan dia tempuh.</p>
<p>Ya.. people make mistakes seperti salah arah y. tapi yang penting mengoreksi arahnya ketika sudah tahu salah <img src='http://www.navinot.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hendry</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10464</link>
		<dc:creator>Hendry</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 13:25:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10464</guid>
		<description>Saya setuju. Beda antara sekolah dan pendidikan. Tanpa pendidikan, tidak ada dasar untuk pekerjaan dan usaha yang tepat karena pendidikan itu memberikan arah.

Sedangkan sekolah seperti yang kita ketahui, saya memang meragukan efektifitasnya. Belakangan muncul tren homeschooling, yang mana bisa jadi merupakan solusi yang baik untuk pembelajaran generasi sekarang dan yang akan datang.

Terlalu banyak waktu dihabiskan di sekolah, untuk mempelajari hal-hal yang belum tentu terpakai. Terlebih lagi kurikulumnya tidak bertumpu pada praktik.

Misalnya saja pelajaran matematika. Ketika kuliah sekalupun tidak diberitahukan apa fungsi dari integral. Bagi saya hanya keren-kerenan dan berpotensi memusingkan orang yang tidak pernah belajar atau kuliah karena memang tidak diberitahu.

Setelah lulus baru saya menyadari betapa pentingnya rumus-rumus dan turunan dalam beberapa aspek kehidupan, tapi tentunya semua sudah terlambat.

Saya sudah terlanjut lupa semuanya karena kurangnya ketertarikan pada bidang tersebut.

Memang, seharusnya saya lebih proaktif dalam mencari tahu apa fungsinya. Tapi bukankah itu dapat juga merupakan suatu tambahan yang dapat memperkuat daya tarik bidang-bidang yang notabenenya membosankan?

Untuk mempersiapkan seorang agar siap untuk terjun bukan untuk lapangan kerja melainkan memulai bisnis, saya juga ragu tentang nilai pendidikan.

Itu sebabnya ketika saya membaca buku-buku pemasaran dan bisnis, saya merasa seperti belajar dari nol.

Banyak hal yang dapat diperbaiki dari sistem sekolah di seluruh dunia. Tapi tentu saja semua itu lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju. Beda antara sekolah dan pendidikan. Tanpa pendidikan, tidak ada dasar untuk pekerjaan dan usaha yang tepat karena pendidikan itu memberikan arah.</p>
<p>Sedangkan sekolah seperti yang kita ketahui, saya memang meragukan efektifitasnya. Belakangan muncul tren homeschooling, yang mana bisa jadi merupakan solusi yang baik untuk pembelajaran generasi sekarang dan yang akan datang.</p>
<p>Terlalu banyak waktu dihabiskan di sekolah, untuk mempelajari hal-hal yang belum tentu terpakai. Terlebih lagi kurikulumnya tidak bertumpu pada praktik.</p>
<p>Misalnya saja pelajaran matematika. Ketika kuliah sekalupun tidak diberitahukan apa fungsi dari integral. Bagi saya hanya keren-kerenan dan berpotensi memusingkan orang yang tidak pernah belajar atau kuliah karena memang tidak diberitahu.</p>
<p>Setelah lulus baru saya menyadari betapa pentingnya rumus-rumus dan turunan dalam beberapa aspek kehidupan, tapi tentunya semua sudah terlambat.</p>
<p>Saya sudah terlanjut lupa semuanya karena kurangnya ketertarikan pada bidang tersebut.</p>
<p>Memang, seharusnya saya lebih proaktif dalam mencari tahu apa fungsinya. Tapi bukankah itu dapat juga merupakan suatu tambahan yang dapat memperkuat daya tarik bidang-bidang yang notabenenya membosankan?</p>
<p>Untuk mempersiapkan seorang agar siap untuk terjun bukan untuk lapangan kerja melainkan memulai bisnis, saya juga ragu tentang nilai pendidikan.</p>
<p>Itu sebabnya ketika saya membaca buku-buku pemasaran dan bisnis, saya merasa seperti belajar dari nol.</p>
<p>Banyak hal yang dapat diperbaiki dari sistem sekolah di seluruh dunia. Tapi tentu saja semua itu lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali. <img src='http://www.navinot.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: BudiTyas</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10463</link>
		<dc:creator>BudiTyas</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 12:33:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10463</guid>
		<description>Semua tdk lepas dari mental. Berapa banyak yg masuk univ demi gengsi? Banyak sekali lho. Ada pergeseran fungsi sekolah dari pendidikan ke status sosial. Bukan hanya gengsi anaknya, tp juga ortunya. Akhirnya bejibun orang berijazah sarjana bergaji SLTA, dgn skill dibawah anak STM ato SMEA. So akhirnya pemerintah ngepush yg SMK biar pelajar2 sekarang bs sgera produktif sejak awal. Lulus SMK, kerja plus kuliah, usia produktifnya jd lebih panjang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Semua tdk lepas dari mental. Berapa banyak yg masuk univ demi gengsi? Banyak sekali lho. Ada pergeseran fungsi sekolah dari pendidikan ke status sosial. Bukan hanya gengsi anaknya, tp juga ortunya. Akhirnya bejibun orang berijazah sarjana bergaji SLTA, dgn skill dibawah anak STM ato SMEA. So akhirnya pemerintah ngepush yg SMK biar pelajar2 sekarang bs sgera produktif sejak awal. Lulus SMK, kerja plus kuliah, usia produktifnya jd lebih panjang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Haddad Sammir</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10461</link>
		<dc:creator>Haddad Sammir</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 10:50:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10461</guid>
		<description>Saya melihat pendidikan formal vs pendidikan non formal ibarat ensiklopedia britanica vs wikipedia. Prosedur dan konvensi menjadikan tingkat adaptasi pendidikan formal sangat rendah. 

Sebagai contoh dalam teknologi informasi di &quot;lembaga pendidikan di daerah saya (padang)&quot;, teknologi 2.0 yang konon kabarnya hampir ketinggalan jaman belum direspon oleh pendidikan formal. 

Apa lagi kalau kita membicarakan REST, Atom atau teknologi mashup. Apa lagi semantics dan microformats.

Sekarang jadi perntanyaan oleh saya, &quot;apakah saya harus mengikuti prosedur pendidikan formal?&quot;, sedangkan saya membutuhkan pengetahuan yang terkonsep pada topik spesifik yang sudah jelas tidak tersedia di jenjang pendidikan S1, entah lah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Saya melihat kalau saya *tidak butuh* semua hal dalam kurikulum. Saya hanya membutuhkan segala sesuatu yang membuat project saya berjalan. Tentu saja secara pragmatic.  

Kembali ke pendidikan, saya khawatir (semoga tidak terjadi) pendidikan formal hanya menciptakan &quot;pekerja&quot;, bukan enterpreneur apa lagi inovator.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya melihat pendidikan formal vs pendidikan non formal ibarat ensiklopedia britanica vs wikipedia. Prosedur dan konvensi menjadikan tingkat adaptasi pendidikan formal sangat rendah. </p>
<p>Sebagai contoh dalam teknologi informasi di &#8220;lembaga pendidikan di daerah saya (padang)&#8221;, teknologi 2.0 yang konon kabarnya hampir ketinggalan jaman belum direspon oleh pendidikan formal. </p>
<p>Apa lagi kalau kita membicarakan REST, Atom atau teknologi mashup. Apa lagi semantics dan microformats.</p>
<p>Sekarang jadi perntanyaan oleh saya, &#8220;apakah saya harus mengikuti prosedur pendidikan formal?&#8221;, sedangkan saya membutuhkan pengetahuan yang terkonsep pada topik spesifik yang sudah jelas tidak tersedia di jenjang pendidikan S1, entah lah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. </p>
<p>Saya melihat kalau saya *tidak butuh* semua hal dalam kurikulum. Saya hanya membutuhkan segala sesuatu yang membuat project saya berjalan. Tentu saja secara pragmatic.  </p>
<p>Kembali ke pendidikan, saya khawatir (semoga tidak terjadi) pendidikan formal hanya menciptakan &#8220;pekerja&#8221;, bukan enterpreneur apa lagi inovator.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arham blogpreneur</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10459</link>
		<dc:creator>arham blogpreneur</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 10:23:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10459</guid>
		<description>pendidikan itu berjalan selama kita hidup dimulai dari yang disadari sampai tidak disadari. kesalahan perspective bahwa pendidikan adalah sekolah / kuliah adalah lubang hitam yang kalau tidak bisa di shake off, maka kita hanya menjadi apa yang pengajar doktrin kan. 

Benar bahwasanya pendidikan non-gedung / ( non-formal ) biasanya mampu lebih efisien. Namun masalah jaminan road map masa depan yang sering kali membuat org takut ke-arah sana. 

yan kurang, adalah call to action dalam diri pendidikan untuk tidak lagi, menjadi CPNS atau employer.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pendidikan itu berjalan selama kita hidup dimulai dari yang disadari sampai tidak disadari. kesalahan perspective bahwa pendidikan adalah sekolah / kuliah adalah lubang hitam yang kalau tidak bisa di shake off, maka kita hanya menjadi apa yang pengajar doktrin kan. </p>
<p>Benar bahwasanya pendidikan non-gedung / ( non-formal ) biasanya mampu lebih efisien. Namun masalah jaminan road map masa depan yang sering kali membuat org takut ke-arah sana. </p>
<p>yan kurang, adalah call to action dalam diri pendidikan untuk tidak lagi, menjadi CPNS atau employer.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Putri Sarinande</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10458</link>
		<dc:creator>Putri Sarinande</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 10:02:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10458</guid>
		<description>ah, Ivan. bedakan pendidikan dan sekolah. ini Indonesia bung. oh, kamu membuatnya bukan sedang mengalami kehidupan di Indonesia yah? haha!

saya masih penasaran, mana itu kunci pembuka Lingkaran Setan Sistem Pendidikan (eh, sekolah) di Indonesia.

haha, sebagai seorang murid yang mengalami ADHD, saya jadi benci sendiri. semoga kiranya tidak membabi buta. amin ;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ah, Ivan. bedakan pendidikan dan sekolah. ini Indonesia bung. oh, kamu membuatnya bukan sedang mengalami kehidupan di Indonesia yah? haha!</p>
<p>saya masih penasaran, mana itu kunci pembuka Lingkaran Setan Sistem Pendidikan (eh, sekolah) di Indonesia.</p>
<p>haha, sebagai seorang murid yang mengalami ADHD, saya jadi benci sendiri. semoga kiranya tidak membabi buta. amin <img src='http://www.navinot.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tanta</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10456</link>
		<dc:creator>Tanta</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 08:51:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10456</guid>
		<description>Yang pasti menurut saya pendidikan adalah bukan monopoli lembaga seperti sekolah saja. Karena sekolah adalah pengajaran, hanya sebagian saja dari proses pendidikan. Keluarga dan lingkungan juga punya aspek penting dalam pendidikan seseorang.

Dan menurut saya yang dibilang overated itu adalah stigma keharusan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga muncul kesan kalo orang ga kuliah, masa depannya suram. Padahal kita tau sendiri buat sebagian besar rakyat Indonesia, pendidikan tinggi merupakan kemewahan.

Program pemerintah sejak dulu dengan wajib belajar 9 tahun menurut saya sudah tepat. Ya memang yang seharusnya diwajibkan itu adalah setidaknya pendidikan dasar, dan harus gratis.

Nah kalo ga salah depniknas juga sudah mencanangkan bahwa proporsi antara jumlah SMK dan SMU ke depannya adalah 75-25. Artinya masyarakat akan lebih didorong untuk lebih memiliki keterampilan teknis untuk dapat sesegera mungkin bekerja dan meningkatkan taraf hidupnya.

Saya juga sepakat dengan Billy di atas bahwa kadang keluaran dari pendidikan itu ga sesuai dengan kebutuhan pasar karena terlalu akademis. Karena itulah solusi penekanan pendidikan yang lebih teknis sejak dini (SMK) menurut saya cukup tepat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang pasti menurut saya pendidikan adalah bukan monopoli lembaga seperti sekolah saja. Karena sekolah adalah pengajaran, hanya sebagian saja dari proses pendidikan. Keluarga dan lingkungan juga punya aspek penting dalam pendidikan seseorang.</p>
<p>Dan menurut saya yang dibilang overated itu adalah stigma keharusan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga muncul kesan kalo orang ga kuliah, masa depannya suram. Padahal kita tau sendiri buat sebagian besar rakyat Indonesia, pendidikan tinggi merupakan kemewahan.</p>
<p>Program pemerintah sejak dulu dengan wajib belajar 9 tahun menurut saya sudah tepat. Ya memang yang seharusnya diwajibkan itu adalah setidaknya pendidikan dasar, dan harus gratis.</p>
<p>Nah kalo ga salah depniknas juga sudah mencanangkan bahwa proporsi antara jumlah SMK dan SMU ke depannya adalah 75-25. Artinya masyarakat akan lebih didorong untuk lebih memiliki keterampilan teknis untuk dapat sesegera mungkin bekerja dan meningkatkan taraf hidupnya.</p>
<p>Saya juga sepakat dengan Billy di atas bahwa kadang keluaran dari pendidikan itu ga sesuai dengan kebutuhan pasar karena terlalu akademis. Karena itulah solusi penekanan pendidikan yang lebih teknis sejak dini (SMK) menurut saya cukup tepat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agionagile</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10455</link>
		<dc:creator>agionagile</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 06:54:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10455</guid>
		<description>menurut pengalaman saya:
- sangat banyak orang yg sukses karena sekolah
- cukup banyak orang yg sukses bukan karena sekolah
- sangat banyak orang tidak sukses karena tidak sekolah
- sangat sedikit orang yang menjadi tidak sukses karena sekolah

karena selain memperoleh ilmu, dengan bersekolah juga dapat membantu membentuk pola pikir yg lebih sistematis.

pendidikan itu sangat penting (mutlak), dan sudah seharusnya menjadi hak asasi setiap manusia, minimal untuk pendidikan dasar.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut pengalaman saya:<br />
- sangat banyak orang yg sukses karena sekolah<br />
- cukup banyak orang yg sukses bukan karena sekolah<br />
- sangat banyak orang tidak sukses karena tidak sekolah<br />
- sangat sedikit orang yang menjadi tidak sukses karena sekolah</p>
<p>karena selain memperoleh ilmu, dengan bersekolah juga dapat membantu membentuk pola pikir yg lebih sistematis.</p>
<p>pendidikan itu sangat penting (mutlak), dan sudah seharusnya menjadi hak asasi setiap manusia, minimal untuk pendidikan dasar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Billy Koesoemadinata</title>
		<link>http://www.navinot.com/2009/07/14/pendidikan-itu-overrated/#comment-10453</link>
		<dc:creator>Billy Koesoemadinata</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 05:49:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.navinot.com/?p=1311#comment-10453</guid>
		<description>pendidikan overrated? jawabannya ya dan tidak.

ya, karena kalo dirunut mulai dari TK hingga S3, berarti 23 taun lebih menempuh pendidikan. tapi, kadang keluaran dari pendidikan itu ga sesuai dengan kebutuhan pasar karena terlalu akademis. makanya banyak orang yang karirnya beda jauh sama background edukasinya.

tidak, karena sebenernya pendidikan itu masih kurang. karena grand master map pendidikan indonesia masih kabur. masih kurang jelas. cuman mementingkan lama dan waktu pendidikan saja, tanpa memperhatikan isi dan kualitas dari pendidikan itu.

contoh paling gampang, ya saya sendiri. saya meski udah bergelar D3 Teknik Mesin, tapi masih merasa bahwa pendidikan saya kurang. karena esensi dari yang saya pelajarin, masih aja ga nyambung sama kondisi aktual. dan, itulah akibatnya saya pun kerja bukan berdasar background pendidikan, tapi lebih ke passion.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pendidikan overrated? jawabannya ya dan tidak.</p>
<p>ya, karena kalo dirunut mulai dari TK hingga S3, berarti 23 taun lebih menempuh pendidikan. tapi, kadang keluaran dari pendidikan itu ga sesuai dengan kebutuhan pasar karena terlalu akademis. makanya banyak orang yang karirnya beda jauh sama background edukasinya.</p>
<p>tidak, karena sebenernya pendidikan itu masih kurang. karena grand master map pendidikan indonesia masih kabur. masih kurang jelas. cuman mementingkan lama dan waktu pendidikan saja, tanpa memperhatikan isi dan kualitas dari pendidikan itu.</p>
<p>contoh paling gampang, ya saya sendiri. saya meski udah bergelar D3 Teknik Mesin, tapi masih merasa bahwa pendidikan saya kurang. karena esensi dari yang saya pelajarin, masih aja ga nyambung sama kondisi aktual. dan, itulah akibatnya saya pun kerja bukan berdasar background pendidikan, tapi lebih ke passion.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
