Sisi Menakutkan Dari Free(mium)

Sisi Menakutkan Dari Free(mium)

freemium

Bagi para pengguna internet, pasti sudah terbiasa dengan layanan gratisan. Kita sangat dimanjakan, walaupun kadang mulut kita sempat terbuka lebar sambil berkata,

“Koq bisanya layanan sekeren ini disajikan secara gratis? Lalu bagaimana mereka dapat uangnya?”

(Dan kalau anda jarang berpikir seperti ini, anda bukan entrepreneur.)

Suatu layanan yang disajikan secara gratis, tentunya mempunyai dampak finansial yang sangat besar bagi sang penyedia layanan, yaitu tidak ada revenue dari layanan tersebut.

Untuk menyediakan suatu layanan, pasti perlu biaya operasional, seminim apapun, seperti sewa server dan lainnya. Meskipun kadang terbilang kecil, bisa bertahan berapa lama suatu layanan dengan kondisi seperti ini? Apa ini suatu bisnis atau bakti sosial? Bahkan yayasan amal masih juga memperhatikan untung dan rugi.

Umumnya bisnis dengan model freemium mempunyai satu opsi layanan atau program berbayar. Biasanya dengan fitur tambahan, atau kapasitas yang lebih besar. Di sinilah sumber pendapatan utama mereka, guna menutupi biaya operasional tadi. Meskipun kadang kuantitasnya terbilang kecil dari total keseluruhan pengguna layanan, pendapatan yang masuk bisa jauh lebih besar dari yang kita perkirakan.

Dalam penerapannya di dunia nyata, untuk mengubah pelanggan gratisan untuk menjadi berbayar, harus melewati satu batu rintangan besar. Untuk program yang gratis, tidak perlu melibatkan proses pembayaran atau penagihan. Untuk pelanggan sendiri, melakukan pembayaran seakan memerlukan suatu komitmen tersendiri dan ikatan antara pelanggan dan penyedia layanan jadi semakin nyata.

Sebaliknya, tanpa pemasukan yang pasti, suatu layanan pasti akan susah berkembang untuk maju. Selain terkuras oleh biaya operasional, pengembangan lanjut juga memerlukan biaya. Di sini mulai terasa, revenue tidak hanya kunci untuk selamat dari bisnis ini, tapi juga merupakan kunci utama untuk maju.

Bila kita melihat contoh sukses, satu layanan yang sukses harus memasuki wilayah subur terlebih dahulu, baru bisa berkembang lebih lanjut. Tidak heran jika tak lama setelah Google sukses dengan program advertising-nya, mulai muncul layanan-layanan keren lainnya dari Google.

Bisnis model freemium bukan merupakan satu lampu kuning yang patut kita hindari, tapi dari sini kita harus mencatat apakah setelah layanan gratis, masih ada kelanjutan yang menarik untuk layanan berbayar. Sebelum terjun, sebaiknya kita mengukur ratio yang masuk akal antara pelangganan gratis dan berbayar, termasuk faktor biaya operasional tadi. Cukupkah untuk menutupi segala kebutuhan tadi, termasuk untuk pengembangan lanjut.

Menjalakan bisnis tanpa pemasukan? Menakutkan bukan? Tidak hanya tersangkut, tapi juga bisa bangkrut.

PS: Maaf, artikel hari ini telat, karena Speedy ngadat!

Comments are closed.