Kiprah Situs Social Bookmarking Lokal

Kiprah Situs Social Bookmarking Lokal

socialbookmarkinglokal

Kita telah membahas topik ini sebelumnya, berkaitan dengan popularitas situs yang mengandalkan user-generated content, ala Digg atau Lintas Berita. Kesimpulannya memang kehadiran editor tidak bisa disingkirkan begitu saja, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Tapi di lain sisi, apakah suatu situs seperti Lintas Berita bisa melewati popularitas media mainstream yang dikelola secara tradisional seperti Detik?

Tren di negeri Paman Sam kini dipimpin oleh Digg, sebuah situs social bookmarking yang mengandalkan algoritma untuk menentukan berita terbaik dari masukan para pembaca. Dalam kiprahnya, Digg memang terkesan menawan dari sisi teknologi dan keragaman materi yang ditampilkan sesuai dengan penggunanya. Bila dibanding dengan media umum, seperti CNN atau The New York Times, popularitas Digg masih terbilang bagus.

alexawest

Apapun yang sukses di barat, pasti suatu saat ada versi lokalnya di Indonesia. Upaya Lintas Berita untuk masuk ke jajaran top 100 Alexa memang patut diacungi jempol, tapi apakah tren ini akan terus berlangsung? Apakah Lintas Berita akan sukses dalam hal monetisasi?

alexalocal

User-generated content cenderung tidak terkontrol dan pengguna hampir mempunyai kekuasaan penuh untuk menentukan berita terbaik. Tentu saja kualitas dan jenis materi yang disajikan dibentuk oleh anggota dari komunitas tersebut. Meskipun jumlah berita sangat beragam, tidak jarang masuk berita nyeleneh atau bahkan tidak pantas ditampilkan. Jadinya, situs social bookmarking bisa dianggap sebagai tempat untuk mencari informasi dan hiburan, bukan berita aktual dan akurat.

Editorial content juga mempunyai masalah sendiri, yaitu kecenderungan untuk mengatur tampilan berita utama membuat penyajian terkesan kaku. Namun karena melewati proses seleksi dan quality control, editorial content mempunyai kredibilitas lebih dibanding tulisan para penulis acak di situs social boomarking. Penyajian juga kadang terkesan kaku dan itu-itu saja, tergantung keputusan redaksi.

Media tradisional seperti Detik dan Kompas memang tidak kesulitan untuk mengeruk pendapatan, tapi lain halnya dengan media baru. Sampai sekarang Kesuksesan Lintas Berita masih belum banyak dibarengi oleh penjualan iklan yang meyakinkan. Apakah ini management error, atau memang para pemasang iklan tidak terlalu berminat untuk memasang iklan di media dengan materi yang meragukan.

Alasan yang sama juga menjadi momok bagi Kaskus, yang terkenal sebagai media underground. Konon materi untuk segala umur tersedia di Kaskus, sehingga mengurangi minat pemasang iklan.

Inikah yang menjadi alasan hengkangnya salah satu founder Lintas Berita?

Sebagai pengguna, apa pandangan anda terhadap situs social bookmarking seperti Lintas Berita, bila dibandingkan dengan media umum seperti Kompas dan Detik?

Comments are closed.