RSS: Kurang Cepat & Kurang Tepat

RSS: Kurang Cepat & Kurang Tepat

rssreader

RSS (Real Simple Syndication) sudah dipakai dan diadopsi pengguna internet sejak lama. Untuk masalah sindikasi setidaknya, tapi tidak untuk berita yang sensitif terhadap waktu.

Setidaknya itulah basis dari perbincangan akhir-akhir ini, yang berkaitan dengan kepergian Dick Costolo (Feedburner) meninggalkan Google untuk Twitter.

Feedburner, setelah diakuisisi oleh Google, tampaknya tidak melangkah begitu jauh. Selain pemindahkan infrastruktur yang tersendat, penyisipan iklan Google di sindikasi Feedburner juga tidak banyak membuahkan hasil. Dengan konversi yang sangat kecil, strategi ini tidak menarik perhatian penerbit, sekaligus pemasang iklan.

Yang menjadikan perbincangan ini semakin lengkap adalah keberadaan Twitter yang kini semakin kuat sebagai sumber berita cepat. Kepopuleran Twitter telah menarik perhatian banyak orang, terbukti dari peningkatan jumlah pengguna yang sangat drastis.

Twitter dibilang lebih cepat dibanding RSS, karena untuk sindikasi RSS perlu waktu kurang lebih 15-60 menit untuk muncul di RSS reader anda. Asumsi ini memang valid, bilang memang berita yang anda cari. Namum pada prakteknya, materi di internet tidak selalu berupa berita, tapi juga materi yang tidak terlalu sensitif akan waktu, seperti tutorial, tips, atau bacaan ringan yang bisa dinikmati lain waktu.

Selain faktor keterlambatan yang menjadi masalah, RSS juga kurang dalam hal akurasi. Lewat RSS, kita diharuskan berlangganan dengan sumber berita lewat satu paket, bukan per artikel atau per berita. Bila dianalogikan sebagai lagu, bukankah lebih enak membeli per lagu di iTunes, dari pada membeli satu album CD di toko. Dengan anggapan tidak semua lagi di album tersebut anda sukai.

Moderasi dari pengguna Twitter juga merupakan faktor penting, yang juga merupakan bukti nyata bahwa kehadiran manusia sebagai editor masih jauh lebih tanggung dibanding serangkain algoritma komputer.

Menyerah terhadap RSS? Tunggu dulu! Kini Google dan WordPress sudah mulai mengadopsi teknologi baru yang membuat penyampaian berita lewat RSS jadi lebih cepat. WordPress sudah mulai mengadopsi RSSCloud, sedangkan Google sedang meneliti protokol baru, yaitu PubSubHubbub.

Pada dasarnya, RSS berangkat sebagai alat bantu sindikasi, bukan alat penyampaian berita yang real-time. Mungkin dengan adanya terobosan teknologi baru, RSS masih bisa bertahan sebagai alat bantu sindikasi yang sederhana, sekaligus real-time. (Yup, tidak perlu bergelut dengan iklan dan melototin Twitter terus.)

Masih ada harapan bagi RSS?

Comments are closed.