- 9
- September
- 2009
Categories
Misteri Trending Topics
Rasanya makin penasaran saja setelah beberapa kali pengguna twitter Indonesia berhasil meletakkan beberapa hashtag lokal dalam daftar trending topics Twitter. Sebenarnya apa yang jadi resep supaya suatu isu bisa jadi trending topics, atau minimal bisa memicu fenomena penyebaran viral?
Memikirkan hal ini membaut saya sakit kepala. Ada banyak pendekatan yang bisa dipakai untuk menganalisa hal ini. Yang pertama adalah konsep Tipping Point. Tipping point adalah suatu tingkatan yang menjadi titik menggelindingnya bola salju, dalam konteks ini: unstoppable change. Tipping point mengambil pendekatan menganalisa dari titik akhir ke titik awal. Tentu saja, karena setelah suatu fenomena telah terjadi barulah kita bertanya-tanya apa yang menjadi faktor pemicu.
Gladwell mendaftar 3 faktor utama yang mempengaruhi tipping point dan menjadi penyebab epidemik.
- The Law of The Few. Di luar sana ada orang-orang yang memiliki social gift. Saat orang-orang spesial ini terlibat sesuatu aktivitas, hukum merekalah yang berlaku. Dalam artian, mereka ini adalah influencer spesial. Dijelaskan pula bahwa, fenomena ini sejalan dengan konsep 80/20 di mana 20% partisipan akan menyumbang 80% dari output suatu aktivitas.
- The Stickiness Factor. Suatu isu bisa menjadi viral jika isu tersebut memiliki kaitan (kedekatan) tertentu dengan seorang subjek. Contohnya: ingatan masa lalu (#jamanSD), objek special (#MbahSurip)
- The Power of Context. Epidemik sangat terpengaruh pada kondisi di mana dan kapan fenomena tersebut terjadi. Gladwell mencontohkan perang pada tindak kriminal ringan ternyata mengurangi jumlah tindak kriminal berat.
Sementara itu Duncan Watts punya teori lain. Duncan Watts mengemukakan bahwa pengaruh influencer tidak terlalu besar dalam proses penciptaan epidemik. Duncan berhasil mereproduksi efek Six Degrees of Separation lewat cara yang berbeda, tanpa memanfaatkan terlalu banyak koneksi/pengaruh spesial di antara subjek-subjeknya. Jadi ada hal lain yang menyebabkan isu bisa tersebar, walau tanpa melewati influencer khusus.
Jadi apa sebenarnya yang jadi faktor penentu? Jika kita baca Freakonomics, ada penjelasan lain untuk masalah yang sama tentang penurunan tingkat kejahatan di New York. Hukum aborsi. Ya, pengesahan hukum aborsi ditengarai mampu mengurangi kelahiran anak yang tidak diinginkan yang mungkin tidak punya banyak kesempatan secara ekonomi dan edukasi dan berpotensi melakukan tindak kejahatan.
So, bisa jadi semua itu juga bukan jawaban sebenarnya. Mungkin ada faktor random lain yang tak terjelaskan saat ini. Mungkin trending topics ini adalah Black Swan dalam ukuran kecil. Peristiwa yang mengejutkan, punya “major” impact (berupa trending topics) dan dirasionalisasi secara dini.
Mungkin saya harus tidur saja supaya tidak pusing? Ada yang mau urun rembug? Jangan lupa baca blog Virtual, di sana diskusinya sudah mulai dari kemarin.


Ping
Comments
Andy OrangeMood
Honestly I don’t curious… because it’s MATHEMATIC, perhaps I’m wrong, but you know me.
I’m waiting another opinion about that, especially from person who looks like a social media experts here.
ps : got the clue? same the way I think about?
BudiTyas
Haha, .. barusan aja komentar di virtual…
ierone @ myblog4famouser.com
gak tau juga c mas.
take out ke TKP
arham blogpreneur
Cek TKP ke Virtual deh.. oia, soal [...Di luar sana ada orang-orang yang memiliki social gift...] maksudna Authority ituh kan ?…
pasang iklan tanpa daftar
ok segera meluncur ke TKP
evelynpy
nggak ngerti soalnya pasif twitter aku ^^
Andri
hahaha.. biasa orang berpengaruh suatu lingkungan jadi ngefek,,
hokya
wah Twitter dah jadi panutan, hebat ya…
Ronald Widha
post ini buat aku jadi nge-tease buat baca semua buku itu. bener2 intriguing.
untuk misteri tren,…aku rasa ini efek ‘latah’ yang banyak tertanam di darah kita sebagai orang indonesia. satu pake batik, semua pake batik. satu suka peter pan, semua suka peter pan.
mungkin kalo ditelaah lebih lanjut, sifat ini sinkron dengan kultur kita yang bertendensi untuk ‘hormat’ sama yang dianggap punya otoritas, tanpa cukup kritis untuk mempertanyakan apa yang seharusnya ditanya. patuh sama agama, orang tua, guru dan mungkin sekarang gene-nya bermutasi untuk kita untuk lebih mudah patuh sama ‘peer leaders’ atau ’sneezers’ among us.
Toni
Hehe, kamu memang harus baca buku-buku itu man!:D
Efek latah bisa juga tuh. Pasti applicable untuk sejumlah orang. Gw malah jadi penasaran, seberapa jauh sih pengaruh kultur lokal terhadap fenomena di atas? Relevan atau tak relevan?
Esmeralda
Tuit tuit….
pengguna twitter indo makin banyak neeh, kira kira ntar lebaran kita ngetuit sampe servernya twitter hang apa malah liburan tui tuit nya neeeh…
Additional comments powered by BackType