Opensource: Jangan Sampai Kalah Perang Cuma Karena Gengsi

Opensource: Jangan Sampai Kalah Perang Cuma Karena Gengsi

The King

Opensource seringkali dianggap sebagai peluru perak dalam mengatasi semua masalah. Sebenarnya tidak salah dan punya efek bagus pula dalam rangka menumbuhkan inovasi baru. Opensource dan proprietary pun terkadang menjadi agama baru yang kadangkala bisa menjerumuskan kita pada pengambilan keputusan yang kurang tepat.

Kali ini saya tidak ingin membahas tentang mana yang lebih unggul. Keunggulan dan efisiensi tergantung pada banyak variabel termasuk teknologi itu sendiri dan faktor manusia. yang hendak saya soroti sekarang adalah kelemahan-kelemahan yang ada dalam komunitas atau produk opensource.

Community driven

Dengan model community driven, produk opensource bisa dipastikan akan mempunyai panduan pengembangan produk yang jelas. Fitur-fitur yang ditambahkan juga bisa dipastikan pasti akan dipakai oleh penggunanya. Namun di sisi lain community driven kadang membuat produk dikembangkan dalam rangka menyenangkan semua orang, karena semua orang punya kesempatan untuk memberikan ide fitur. Hal ini terkadang justru membuat produk menjadi less useful karena tidak ada satu fokus yang dikejar. Dan produk Anda pun tak akan pernah jadi Purple Cow.

Not Invented Here (NIH)

He/she who codes, decides. Pakem ini berlaku hampir di semua komunitas opensource. Siapa yang menulis kode, dia yang memutuskan. Memutuskan di sini berarti menentukan bagaimana suatu fitur akan diimplementasikan, termasuk memutuskan apakah usulan fitur Anda akan diimplementasikan atau ditolak mentah-mentah.

Walau bisa menjadi komplemen penyemimbang community driven development, NIH sering kali menyebabkan pengguna menjadi sebal. Kadang kala memang ada fitur yang seharusnya ada di sana, tapi karena developer tidak membutuhkan maka bisa saja fitur usulan tersebut mendapat jawaban NIH.

Lack of Research

Walau tidak selalu benar, produk opensource terkadang memang lack of research. Hal ini logis saja karena biaanya yang menjadi dasar pengembangan produk adalah kebutuhan diri sendiri. Akibatnya faktor usability tak terpenuhi atau kurang user friendly. Namun belakangan ini, aktivis opensource tidak terbatas pada code ninja saja namun sudah merambah ke artist dan engineer yang punya background akademis untuk wacana usability dan user experience. Riset juga sering dilakukan baik secara eksplisit atau implisit lewat produk itu sendiri.

Untuk menjadi jenderal perang yang mumpuni, kita harus bisa mengetahui dan mau mengakui kekurangan kita sendiri. Jangan sampai kalah perang cuma karena gengsi.

Comments are closed.