Ketergantungan Twitter akan Apps

Ketergantungan Twitter akan Apps

tweetdeck

Twitter lagi, Twitter lagi. Sudah tiap hari dipakai, jadi semakin populer, tapi masih saja dibahas. Dari segala kesuksesan Twitter yang pernah kita bahas, jumlah pengguna dan banyaknya ragam aplikasi pendukung sangat memegang peranan penting.

Web Interface Twitter

Dari awal munculnya Twitter, satu yang paling tidak saya sukai adalah tatanan dan cara penggunaan lewat web. Meskipun mempunyai banyak fungsi yang bermanfaat, alur penggunaannya kurang mendukung. Untuk layanan microblogging dengan kemampuan real-time news, Twitter tidak punya mekanisme auto-refresh, apalagi fungsi push. Begitu juga untuk brand monitoring, tidak ada fitur khusus selain kotak pencari.

Bahkan Plurk sempat (dan masih) mengambil hati pengguna Indonesia dengan tatanannya yang lebih segar, dan kaya akan fitur pendukung.

Terbentuk Suatu Ketergantungan

Dari begitu banyak aplikasi pendukung, Twitter tidak juga mengambil langkah untuk mengakomodasi fitur-fitur tersebut. Mungkin sudah terlanjur basah, maju susah, mundurpun juga susah. Dengan kata lain, bila Twitter merubah tatanannya menjadi ala Tweetdeck, apa kiranya reaksi dari Tweetdeck dan pengembang aplikasi lainnya?

Tanpa aplikasi pendukung, Twitter tidak enak untuk dipakai. Dari sini Twitter membentuk suatu ketergantungan pada pihak ketiga. Tidak sesederhana hubungan penjual dan pembeli, atau penyedia layanan dan pelanggan. Melainkan pihak ketiga yang membuat Twitter menjadi layanan sejenis infrastruktur yang tidak bisa memasang tarif.

Berapa banyak aplikasi pendukung Twitter? Cukup untuk satu marketplace.

Sensitif Akan Tarif

Untuk menghasilkan pemasukan, Twitter jadi serba susah. Karena pengguna sudah terbiasa dengan aplikasi pendukung, pengujung ke Twitter jadi lebih jarang. (Catatan: Twitter masih menduduki ranking 13 di Alexa, meskipun dengan asumsi pengguna berat Twitter sudah memakai aplikasi dari pihak ketiga.) Dengan situasi seperti ini, menjual banner iklan-pun juga susah.

Mematok harga untuk akses API secara umum juga bukan hal yang bijaksana untuk dilaksanakan. Mengingat adanya ketergantungan berat akan aplikasi pendukung. Mungkin secara Freemium?

Sedikit Spekulasi

Rumor sempat menyebutkan bahwa Twitter paling pantas untuk Google. Namun sampai detik ini, masih belum ada berita gembira dari kedua belah pihak. Masalah pantas atau tidaknya, Google sebagai mesin pencari dan sumber dari semua info di ranah daring, masih belum mampu menyajikan berita secara real-time. Tapi Twitter bisa!

Dengan sedikit akal-akalan para engineer Google, bisa saja Twitter digunakan sebagai alat pemantau berita terkini yang bisa disajikan di halaman pencarian Google. Gabungan dari keduanya akan semakin mengukuhkan posisi Google sebagai sumber informasi.

Dengan begitu beratnya ketergantungan akan aplikasi pendukung, Twitter susah untuk berjalan sendiri. Bisnis macam apa yang sangat tergantung akan pihak ketiga, dan dalam jumlah banyak.

Sudah pasti IPO bukan tujuan Twitter, kecuali ada perubahan drastis. Lantas apa masa depan Twitter? Ada ide?

Comments are closed.