6 Alasan Kegagalan Startup

6 Alasan Kegagalan Startup

juvegoal

Entrepreneurship bisa diibaratkan sebagai sebuah misteri dengan banyak faktor penentu. Keberhasilan seseorang tidak begitu mudah ditiru, tidak segampang deretan tip yang diberikannya.

Hal yang sama tampaknya juga menghantui industri teknologi dan internet Indonesia, bahkan wiraswasta pada umumnya. Banyak yang gagal di tengah jalan, entah apa sebabnya. Satu contoh yang paling menonjol adalah tren blogging yang kian menurun, tapi untungnya juga semakin banyak blog serius yang bermunculan.

Bila berbicara tentang kesuksesan, bukan berarti kita berbicara tentang Google. Kesuksesan dalam perbincangan ini adalah sukses untuk beroperasi secara normal dengan penghasilan yang positif, tidak minus terus-menerus. Cukup pantas bukan?

Menurut pengamatan dari beberapa kasus, berikut adalah beberapa alasan kuat dari kegagalan startup, termasuk juga kategori blogging sebagai media.

1. It’s a Business, Not a Hobby

Alasan paling utama adalah tidak adanya keseriusan dalam pengelolaan. Saya yakin sang penulis adalah seorang blogger handal, atau setidaknya berbakat dalam karyanya. Dari tulisannya bisa membangkitkan minat, serta memupuk kesetiaan pembaca. Namun dalam perjalanannya dia menganggap blogging hanya sebagai hobby, bukanlah sebuah bisnis.

Sebuah bisnis membutuhkan keseriusan, dan perencanaan yang matang, bukan hanya mencoba demi kesenangan. Namun bisnis yang berangkat dari hobby justru mempunyai potensi sukses yang lebih besar.

2. No Set Goals or Milestones

Karena bukan dianggap sebagai sebuah bisnis, maka ada kecenderungan untuk menerima hasil apa adanya. Sukses diterima dengan senyum, dan kegagalan hanya dianggap sebagai batu sandungan.

Sebuah hobby umumnya tidak mempunyai tujuan jangka pendek, ataupun jangka panjang. Tidak ada kalender yang wajib dipatuhi akan apa yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.

3. No Planned Budget

Hobby tidak mengenal anggaran. Bahkan lebih cenderung impulsif dalam pembelanjaan. Di lain hal justru tidak mempunyai dana untuk dialokasikan, karena aktifitasnya tidak menjanjikan suatu penghasilan.

4. Single Revenue Source

Blogger atau startup internet pada umumnya, sangat tergantung akan satu sumber penghasilan, dan itu selalu dalam bentuk iklan. Untuk menerima iklan yang pantas membutuhkan waktu agar situs tersebut bisa berkembang dengan trafik yang lumayan.

Selain butuh waktu, untuk memasarkan suatu blog terbilang sangat tidak ramah bagi perusahaan korporat yang mau memasang iklan. Selain harus mengawasi kampanye satu per satu, tenaga yang dibutuhkan jadi berlipat ganda. Tidak efektif bagi mereka.

5. No Financial Reserve

Sudah siap bekerja tanpa penghasilan untuk sekian lama? Bila sudah, maka itu hanya separuh dari yang dibutuhkan. Masih ada perlunya biaya cadangan untuk bertahan hidup.

Karena tidak ada penghasilan, dan tuntutan kebutuhan akan selalu ada. Maka faktor finansial mempunyai tekanan tersendiri bagi seseorang. Untung bila status masih sendiri, biasanya lebih berat bila sudah berkeluarga.

6. No (Constant) Research

Beberapa startup berangkat dengan ide yang sangat sederhana, bahkan kesederhanaan tersebut tidak dibarengi dengan riset yang cukup. Ternyata banyak orang yang telah mencoba ide yang sama, namun kenyataanya gagal dan tidak sesuai harapan.

Riset tidak hanya sebatas ide, namun juga pelaksanaan. Seperti aplikasi apa yang yang seharusnya dipakai, atau barang mana yang lebih efisien dan ekonomis. Segala langkah pengambilan keputusan memerlukan riset, termasuk mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen.

Pada dasarnya, tipping point is a long journey, jadi bersiaplah.

PS: NavinoT will change that. See you in a month (or less).

Comments are closed.