We don’t Do Indonesia

We don’t Do Indonesia

No way!

Waktu itu saya sedang menengok Koprol. Ada satu tautan yang mengarah ke DailySocial. Sewaktu saya tengok, di sana ada beberapa komentar dan juga tautan dari twitter. Lalu di mana tautan Koprol ? Kenapa tidak terdaftar di trit komentar yang didukung oleh Disqus ini?

We don’t Do Indonesia

Boleh lah Google Maps itu begitu sakti. Namun sebelum layanan ini mendukung detil peta Indonesia, layanan ini hanya jadi aplikasi keren yang sekedar bisa dikagumi. Kita hanya bisa ngiler melihat bagaimana orang-orang di New York tampak asik menggunakan Foursquare atau Gowalla.

Kita? Kita hanya mampu berharap dan menunggu kapan layanan-layanan tersebut suatu hari akan bisa dipakai di Indonesia. Setelah sekian lama, akhirnya Google Maps sudah bisa dipakai dengan jauh lebih baik di Indonesia. Namun di tempat lain kemajuannya sudah tiga langkah di depan. Informasi lokasi sudah sangat lengkap dan bahkan sudah sampai ke Street View dan bangunan 3D.

Lalu kapan Koprol bisa didukung oleh Disqus? Mungkin menunggu agak lama sampai Disqus sebesar Yahoo dan datang ke Asia. Jika kita tidak setuju dan tidak mau menunggu tanpa kepastian maka mau tak mau kita harus membuat Disqus kita sendiri.

Disqus yang bisa menampilkan tautan dari penyedia konten lokal semacam Koprol. Tidak hanya sekedar tautan namun bisa juga video atau player podcast jika tautan tersebut berasal dari Beoscope, Adandu atau TemanMacet.

API, API, API

Apalah guna begitu banyak layanan jika satu sama lain saling menutup diri? Jaman dulu mungkin penyedia layanan masih meniru perilaku televisi. Kita dipaksa mengunjungi sumber untuk menikmati informasi dan hiburan.

Well, jaman sudah berubah. Jika kita tidak mengantarkan informasi, maka informasi tersebut tak pernah akan sampai. Di jaman ini, informasi harus menemukan konsumennya. Bagaimana caranya? Keterbukaan. Kepentingan kita untuk melindungi aset data telah terkalahkan oleh kebutuhan berebut perhatian, Musuh kita kini bukanlah kompetitor. Musuh bersama kita kini adalah lack of exposure dan deadpool.

Kita tak lagi menunggu, tapi kita mulai dengan menawarkan. Kita menawarkan supaya layanan lain bisa mengakses layanan kita lewat jalur khusus. Tujuannya supaya kita bisa meng-enhance layanan lain dengan manawarkan addon value. SiteousĀ  menawarkan pemendek URL pada koprol supaya pengguna koprol tak perlu pusing dengan batasan 140 karakter. Itu contohnya. Untuk memungkinkan hal semacam di atas, kita perlu menyediakan API (Application Programmable Interface).

Oh, tapi saya sudah besar, masih perlukah saya menyediakan API. Ya, masih perlu karena pengguna itu datang dan pergi. Kita tak bisa terlalu yakin keadaan tak akan berbalik. Jika nanti microblogging sudah sangat merajalela, menurut Anda “detik ini juga” masih bisa bertahan dengan strategi sama saat semua orang mengupdate berita dalam hitungan milidetik?

Jadi? Buatlah Twitter lokal, Google lokal, Facebook lokal. Tidak sekedar sama dengan yang ada di luar sana, namun Twitter yang punya value lokal. Yang tahu selebriti lokal, brand lokal, dan nilai-nilai lokal. Buatlah Google, tapi yang mampu menampilkan harga dari Bhinneka dan FJB saat pengguna mencari barang.

Siap?

Comments are closed.