It All Begins With A Story

It All Begins With A Story

Fairy Tale

Konsumen selalu punya pendirian dan keyakinan sebelum membeli. Konsumen sudah punya cerita tentang apa yang akan terjadi sebelum membeli. Kita bisa mengikuti cerita ini atau memilih membuat cerita baru yang lebih hebat.

Cerita yang mana?

Bayangkan satu skenario dimana seorang pengunjung akan meninggalkan komentar di blog kita. Pengunjung datang, membaca artikel kemudian mengisi nama, email dan website. Setelah itu baru pengunjung bisa menulis komentar. Well, memang sudah seharusnya seperti itu prosedurnya.

Tidak adakah skenario lain? Bagaimana dengan pengunjung datang kemudian membaca artikel lalu dengan nyaman langsung meninggalkan komentar? Ya, kita tidak perlu mengisi apapun kecuali komentar yang memang menjadi inti aktivitas pengunjung. Ada dua perbedaan dalam dua skenario di atas. Yang kedua menghilangkan bagian mengisi identitas dan menambahkan kata nyaman. Nyaman sebelumnya tak pernah ada dalam cerita konsumen, namun di sini kita bisa memilih untuk menambahkannya.

Coba lihat video di bawah ini. Simak betapa banyak cerita ekstra yang ditambahkan oleh Apple pada produk-produknya.

Where should we start?

Tentu saja dengan cerita yang hebat. Semakin hebat ceritanya, semakin besar punya usaha yang diperlukan dalam mewujudkan cerita tersebut. Jadi yang harus turut kita pikirkan sewaktu membuat produk atau layanan, selain fitur, adalah bagaimana fitur-fitur ini bisa dirangkai untuk menuturkan cerita hebat pada konsumen. Jika Anda gagal membuat cerita, bisa dipastikan ada yang masih kurang dalam produk Anda.

Untungnya cerita yang hebat tidak selalu datang dengan bungkus yang besar. Cerita yang hebat bisa datang dalam bungkus yang kecil atau sederhana. Sebuah cincin dan ajakan menikah yang tulus, punya cerita yang hebat pada pasangan kita. Perkara berupa berlian dan diikuti sertifikat rumah, itu improvisasi kita untuk membuat cerita tersebut jadi lebih hebat lagi.

How to tell a great story?

Yang pertama, pick a person. Kita harus tahu kepada siapa kita bercerita. Semakin personal, maka dampak cerita akan lebih terasa. Bayangkan bercerita di dalam kelas dengan 40 murid dengan kelompok keil beranggotakan lima orang. Semakin dikit pendengar semakin bisa kita berkonsentrasi dan bekomunikasi demi mewujudkan cerita yang hebat. Karena itulah word-of-mouth relatif lebih berhasil daripada iklan di televisi.

It’s not all about naration. Cerita punya banyak unsur, termasuk cara bertutur. Kisah akan jadi lebih hidup jika kita mampu menampilkan emosi-emosi yang terlibat di dalamnya.

Sekarang, coba, apa cerita produk Anda?

Comments are closed.