Tiga Ancaman Bagi Startups

Tiga Ancaman Bagi Startups

Ancaman

Hawa “kelaparan” dari startup sudah mulai terasa. Satu persatu sudah tampak lebih percaya diri dan punya tekad untuk memulai. Semua tampak bagus, dan jalan di depan tampak menjanjikan. Tapi semuanya punya masalah dalam tiga hal.

Exposure

Bagus sih, stay hungry stay foolish. Tapi kalau maju dengan modal teknologi saja tanpa “ilmu” manajemen, marketing dll bisa juga berakhir dengan kematian 3 bulan kemudian. Salah satu faktor utama bagi startup untuk bisa maju atau sekedar bertahan adalah kesempatan mendapatkan perhatian. Dengan adanya sorotan berarti ada kesempatan bagi startup baru untuk merespon dan berinteraksi dengan penggunanya. Jika masih ada pengguna, kesempatan untuk bertahan hidup masih terbuka. Saya yakin kita semua masih banyak yang berteriak “Hei! Lihatlah aku, lihat saja dulu.”

Funding

Biasanya poin ini jadi kambing hitam bagi semua startup. Bahkan sebelum memulai pun, para founder mungkin akan memaki-maki soal funding. Wajar saja, setiap usaha pasti memerlukan biaya. Entah investasi dalam bentuk waktu, tenaga ataupun semangat. Tak semua orang punya kesempatan untuk terjun fulltime ke startup, entah karena kurang persiapan atau memang kesempatan tersebut belum datang. Hei, tak satu pun dari kita pernah bercita-bercita jadi founder bukan?

Funding ibarat dewa penolong untuk mempertahankan tenaga dan semangat, sementara startup kita berusaha menemukan model bisnis yang cocok untuk memroduksi revenue. Atau sekedar bertahan lebih lama sampai balance sheet berubah menjadi positif. Biasanya funding diakali dengan subsidi silang. Namun tetap saja ada batasan sehingga seorang founder hanya punya beberapa kali kesempatan mencoba memperbaiki business plan atau mencoba membuat startup baru di bidang lain.

Infrastruktur

Untuk poin yang ini saya yakin Anda akan merasa hopeless. Yang punya kemampuan mengurus dan mewujudkan mimpi kita tentang infrastruktur yang kondusif hanyalah perusahaan super besar dan pemerintah. Biasanya kita lebih cenderung berpaling ke pemerintah karena kita merasa memang sudah sepantasnya pemerintah memperhatikan kebutuhan kita. Tapi kalau sudah berbicara tentang pemerintah, kita jadi apatis.

Kalau beberapa tahun yang lalu, rasa apatis ini rasanya masih valid. Tapi semakin ke depan, banyak di antara kita yang akan menduduki posisi penting di pemerintahan. Bahkan, saat ini beberapa teman atau teman dari teman kita sudah banyak yang punya akses ke posisi penting di pemerintahan.

Jadi, walau tak mudah, kata @ivanlanin, jangan apatis. Jarak kita ke akses tersebut hanya sejauh 6 jabat tangan.

Jadi bagaimana rencana kita untuk menyembuhkan tiga penyakit ini? Mungkin kita ikut pepatah saja, yang notebene sudah berhasil dibuktikan banyak orang. Think big act small, think global act local, one step at a time atau yang saya lebih suka: do what makes sense.

Apa yang masuk akal? Yang masuk akal adalah jika kita tidak berusaha mengatasinya bersama maka nobody gets out alive. Satu atau dua mungkin akan beruntung bisa mengatasi dua di antara penyakit di atas, dengan usaha sendiri. Namun, tanpa tapi ekosistem yang bagus — yang berarti semuanya ambil bagian — satu dan dua itu tak akan bertahan lama. Satu atau dua tak akan mampu membuat pasar menjadi matang. Perlu lebih dari satu Blackberry dan harus ditambah Cumiberry untuk membuat tren mobile lifestyle jadi nyata.

Masing-masing dari kita berdiri pada posisi yang berbeda. Yang masuk akal adalah, kita semua harus melangkah ke arah yang sama. Tidak perlu dalam barisan yang sama, hanya perlu menuju titik yang sama.

Anda siap melangkah bersama? NavinoT akan mengawali satu langkah. Tunggu tanggal mainnya!

PS:

Gosipnya, yang saya dengar di Barcamp kemarin, membuat manifest (kesepakatan) untuk para startup sudah menjadi urgensi. Beberapa orang sudah berada pada halaman yang sama tentang manfaat manifest ini: menyamakan arah.

PPS:

Saya pernah baca di Twitter bahwa gosip adalah fakta yang tertunda.

PPPS:

Thanks to @rampok, @andyzain, @aulia, @dwirianto, @ivanlanin, dll di Barcamp kemarin yang jadi sumber inspirasi artikel ini.

Comments are closed.