The Gaps in Indonesian Internet

The Gaps in Indonesian Internet

30 Juta pengguna internet di Indonesia? Posisi ke 4 di Facebook sebagai user paling aktif per negara? — Satu catatan yang menarik, sekaligus patut dipertanyakan.

Apakah angka tersebut cukup bagus?

Dalam kenyataannya, kita masih mempunyai banyak kekosongan, meskipun pengguna internet sudah menembus angka 30 juta.

Generation Gap

Bila kita tata satu persatu pengguna internet di sebuah peta, maka akan terlihat tersebar luas dan tidak merata. Bahkan di kota Jakarta yang lebih maju dan padat, internet masih belum diadopsi secara luas.

Argumentasi ini semakin jelas bila kita lebih fokus pada generasi yang lebih tua, misalnya kalangan berumur 40 tahun ke atas. Sebagian dari mereka sudah aktif dengan BlackBerry, tapi sebagian besar juga masih belum mengadopsi teknologi terbaru.

Mengapa kita menyingung kalangan berumur? Seberapa penting keberadaan mereka? Karena sebagian besar pemilik bisnis yang sudah mapan sudah berada di kelompok ini, dan mereka sangat memegang peranan dalam suatu industri.

Satu brand besar mungkin punya jatah iklan yang lumayan untuk sekali tebas, tapi perlu diingat, Indonesia masih kaya akan UKM. Para wirausahawan yang lebih bervariasi dan pasti akan menambah warna di media internet.

Sayangnya, kelompok berumur ini cenderung tidak paham, bahkan tidak peduli, akan internet. Mereka lebih memilih untuk mengambil langkah tradisional dalam bisnis, yang termasuk dengan perhitungan ROI yang ketat. Berapapun yang keluar untuk iklan, harus balik dengan sekian banyak revenue.

Internet? Social media? Bahkan kita masih berdebat akan ROI nya.

Economy Gap

Jujur saja, biaya berlangganan internet itu tidak murah. Bahkan sampai detik ini, saya belum berlangganan data plan untuk internet. iPhone 2G ini masih mengandalkan wi-fi kantor.

Bila awalnya sudah dilabel mahal, para pelaku bisnis sudah mulai enggan untuk memakainya, apalagi bila ROI-nya masih dipertanyakan. Mungkin untuk alasan operasional, akuntansi, stok, yang jelas lebih terlihat hasilnya. Umumnya, publik masih menganggap internet sebagai kebutuhan ketiga, layaknya hiburan, bukan yang pertama atau bahkan kedua. Internet masih belum mampu menyamai ponsel sebagai alat komunikasi.

Melihat daya beli masyarakat Indonesia, termasuk pengguna dengan ponsel jadul, cukup jelas menggambarkan besarnya economy gap. BlackBerry bisa laku keras, tapi masih juga banyak yang belum beralih dari ponsel berlayar monochrome.

Asumsi lain adalah, bila pengguna mulai mampu membayar layanan internet, maka mobile internet adalah pilihan efisien. Tidak perlu bingung dengan lokasi. Namun, untuk keperluan tersebut, perlu dukungan ponsel yang lebih moderen. Oleh karena itu, untuk beken dengan internet, juga perlu persyaratan upgrade ponsel. Mahal.

Viral Gap

Saya tidak pasti apa yang pas untuk judul di atas. Yang saya maksud adalah kerapatan antara pengguna internet di dunia nyata. Seseorang di sebelahmu mungkin pernah mendengar tentang internet, tapi bukanlah seorang pengguna reguler. Bahkan seseorang di sebelahnya tidak pernah memakainya.

Karena di dunia nyata, pengguna internet populasinya tidak begitu rapat, maka bila seseorang berusaha memperkenalkan suatu layanan lewat media internet, kampanye mereka tidak akan bisa menikmati efek viral di dunia nyata juga.

Branding dan marketing bekerja dengan baik dengan adanya repetisi. Disebut sekali tidak akan membuatmu menengok layanan baru tersebut. Disebut 10 kali, mungkin baru mulai teringat. Ke seratus kali baru mulai dicoba.

Sebagai perbandingan, mari kita ke Singapura sebentar.

Di peta, digambar seberapa besarpun, Singapura masih saja tidak terlihat jelas bila disandingkan dengan luasnya wilayah Indonesia. Hanya dengan populasi sekitar 5 juta, tapi penetrasi pengguna internet di Singapura jauh lebih besar, yaitu sekitar 76%. Yang berarti ke manapun Anda pergi, kita bisa dengan leluasa berkata “email me“, “see you on Facebook“, atau “Google it“, tanpa banyak sangkalan seperti “Maaf, tidak punya Facebook” atau “Maaf, SMS saja daripada email”.

Karena sebagian besar mempunyai akses ke internet, pelaku bisnis kini melihat suatu potensi dengan pandangan yang jauh berbeda. Intinya, tiap investasi akan kembali lebih jelas, dan iklan online jadi semakin umum layaknya iklan di dunai nyata.

Karena pengguna internet yang lebih rapat dalam suatu populasi, maka kampanye online bisa berlanjut dengan viral effect di dunia nyata juga. Terhitung lebih efektif bila dilakukan secara bersamaan.

Conclusion

Jumlah pengguna Internet di Indonesia memang besar, itu kalau mereka bekerja sama. Bahkan bisa mengambil alih trending topic di Twitter. Namun sejujurnya, masih banyak gaps yang perlu diisi, sehingga pengguna internet sudah pantas menyandang label mayoritas.

Kabar baiknya, dalam beberapa tahun terakhir ada peningkatan pesat dalam penetrasi pengguna internet. (Begitu juga pengguna Facebook. Thanks to phone carriers ads.) Oleh karena itu, waktu sudah seharusnya semakin dekat bagi kita internet entrepreneurs. Bersiaplah!

Kira-kira, berapa persen bisa dianggap pantas agar angka penetrasi pengguna internet dianggap mayoritas? 30%? 50%?

Comments are closed.