Paid Social Influence Job

Dengan semakin banyak pemegang merek berpartisipasi di social media, merupakan pertanda baik bagi para pengguna. Karena mereka adalah salah satu sumber pendapatan yang biasanya bersikulasi dalam sistem perekenomian internet, termasuk pemasukan bagi para publisher.

Maksud dan tujuan mereka juga bermacam-macam, beberapa hanya mempersiapkan diri agar profil perusahaannya siap tampil ketika dibutuhkan. Beberapa bahkan mau terjun lebih dalam memanfaatkan social media sepenuhnya, mulai dengan kampanye untuk brand awareness, melakukan percakapan di Twitter atau Facebook, dan beberapa bentuk kampanye lainnya.

Satu hal yang lumayan sering muncul akhir-akhir ini adalah paid social influence – alias sosok pengguna social media yang berpengaruh, mempunyai banyak pengikut, dan cenderung sangat aktif di dunia maya.

Keberadaan seorang influence bukanlah hal yang baru, bahkan sudah ada istilah spokes person jauh sebelum adanya internet sebagai media. Perbedaannya adalah, di dunia maya segalanya serba paralel, banyak percakapan yang berlangsung bersamaan, tanpa jam tayang, dan mempunyai pemimpin kelompok tersendiri. Sehingga membuka kemungkinan bagi para social influence dalam skala yang lebih kecil. Bila seorang selebriti punya jutaan pengikut, maka untuk level selebriti internet cukup dengan ribuan pengikut saja.

Bagi para pemegang merek atau agency yang menangani kampanye online, paid social influence merupakan salah satu cara untuk menyebarkan buzz dengan cepat dan efektif. Saya rasa di dunia nyata, hal yang sama juga sudah terjadi dan berlangsung cukup lama.

Mengapa saya menulis artikel ini? Karena beberapa hari lalu ada sentilan dari seorang pengguna tentang suatu kampanye di Twitter. Intinya pengguna merasa risih karena sering mendengar buzz yang terlalu sering, dan mungkin saja itu bukan kampanye atau produk yang berkenan baginya.

Oleh karena itu, saya mencoba menganalisa mengapa hal semacam ini bisa terjadi, dan bagaimana pelaksanaan yang lebih baik.

Authority Factor

Status seorang influence dimulai dari nilai authority, atau besarnya pengaruh, yang dimiliki-nya. Hal ini juga termasuk besarnya jaringan sosial, banyaknya pengikut, serta berapa besar pengaruh yang dimilikinya. Dengan nilai authority yang semakin besar, maka fungsi social influence juga semakin efisien.

Contoh sederhana adalah bagaimana Technorati menyusun daftar blog yang berpengaruh.

Social Groups

Suatu komunitas terbentuk bila ada kesamaan minat di antara penggunanya. Tidak heran bila di internet banyak portal atau forum diskusi yang membahas satu macam topik saja. Selain topiknya diminati, orang yang terlibat juga cenderung memiliki kesamaan yang bisa berlanjut lebih jauh.

One Strong Influence vs. Few Less-Stronger Ones

Seorang social influence yang besar memang cenderung terkesan efektif. Namun biasanya pengikutnya juga semakin bervariasi, dalam arti tidak semirip atau sedekat dengan sosok pemimpinnya.

Lain halnya dengan beberapa social influence yang lebih kecil dan tersebar merata. Mereka merasa lebih sejajar, dan lebih nyaman untuk melakukan percakapan. Sehingga topik yang bahas juga lebih menghasilkan, termasuk kampanye Anda.

Social Distance

Hal inilah yang kiranya terjadi dari kejadian yang saya sebutkan di atas. Kampanye yang dilakukan cenderung menyewa beberapa influence yang jaraknya terlalu dekat. Sehingga pendengarnya mendapatkan buzz yang berulang-ulang dengan frekuensi yang lebih rapat.

One influence too close, and too many. Masih ingat Loe Lagi Loe Lagi (4L)?

Sebaliknya, sebuah buzz harus melewati proses pengulangan agar mulai lengket di benak pendengar. Bila jarak antar influence terlalu jauh, maka hasilnya juga kurang bagus.

The Message

Pesan yang disampaikan juga banyak berperan dalam keberhasilan suatu kampanye. Pesan yang terdengar garing karena sang influence kurang berpengalaman, juga mempengaruhi proses tersebut. Lain halnya bila sang influence pandai merangkai kata, tidak sekedar hard-selling. Tapi lebih banyak berbagi akan pengalamannya, atau hal-hal lain yang kiranya masih terkait.

Love The Product

Seorang influence akan berfungsi lebih efisien bila pada dasarnya dia menyukai produk atau layanan yang ditawarkannya. Tidak akan ada traksi dalam penyampaian pesan, dan lebih enak diterima oleh pengikutnya.

Social influence sudah banyak beredar, dan peranan mereka sangat dibutuhkan. Sebagai pengguna kita tidak akan bisa menghindari hal ini, namun sebagai penyelenggara setidaknya kita bisa melakukan eksekusi yang lebih baik, nyaman, dengan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi.

Ada tambahan? Mungkin bagi yang berpengalaman jadi social influence.

34 comments
wikupedia
wikupedia

jadi inget bukunya seth godin 'tribes'

apakah influencer itu bisa disamakan dengan 'kepala suku'?

BudiTyas
BudiTyas

Klo mendengar buzz terlalu sering, sebenarnya kemungkinan ada 2. Kampanyenya yg terlalu sering atau usernya yg kelewat lama mantengin layar monitor. Iklan TV sebenarnya sama saja. Iklan tayang 100x seharipun kadang saya ga sekalipun liat, tp ada yg sampe eneg ngeliatnya. Hidup itu sebenarnya tdk sekedar mantengin monitor, hidup itu juga bisa berarti kenikmatan mendengar suara gemericik hujan, cicit burung gereja, dan desah dedaunan, tsaaaah… (ijin copas komen ndoro... :D )

Agus
Agus

kartu namanya Pandu bagus loh, bikin dimana ya? *wink wink *

btw, point paling saya setujui adalah 4L itu, rasanya kurang efektif kampanye pemasaran lewat twitter/facebook di indo ini. Ada juga yg sukses, tapi masih dikit. Spreadnya masih terlalu kecil dibanding media lain :)

nonadita
nonadita

*mungutin cipratan ilmu dari para suhu*

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

@Toni

Iya dong, ton. Kalo cuma dilihat number follower / fans saja, lalu di mana "influence"nya?

Kalau saya bayar orang-orang untuk follow saya agar jumlah follower saya besar apa artinya saya juga influencer?

Btw kapan kita ketemu lagi nih? Waktu itu ngga sempet ngobrol hehehe dan kali ini gue udah ada kartu nama! :p

Toni
Toni

@Pandu
Jadi pasnya influencer itu diukur dari potensinya gitu ya? Tapi tetap harus memperoleh "sertifikasi" dulu. Kalau sudah pernah berhasil, baru bisa disebut influencer.

Brian Arfi
Brian Arfi

Influencer ya....

teringat sebuah diskusi (perdebatan) panjang yang menarik antara @enda dan @avianto

Influencer itu sebenarnya ada setelah case terjadi atau sebelum. Karena nggak ada penelitian yg membuktikan bahwa influencer itu ada sebelum case terjadi.

IMHO, klo influencer itu maksudnya adalah mereka yang punya banyak fans/massa, baru tepat (lha pikirmu apa definisi influencer selama ini? *tepok jidat sndiri).

Ivan
Ivan

Gileeee.... para influencer pada ngumpul :P

ndoro kakung
ndoro kakung

and you know what, influencer itu juga manusia. kadang juga bisa bosan diminta nge-buzz aneka macam kampanye atau produk. memang uang bisa jadi godaan terbesar. tapi ada kan hidup bukan melulu uang. hidup itu juga bisa berarti kenikmatan mendengar suara gemericik hujan, cicit burung gereja, dan desah dedaunan, tsaaaah.... :D

rendy
rendy

saya amat tertarik dengan kasus 4L
lu lagi lu lagi
apakah pola pertemanan saya di internet yang terbatas dalam mengenal orang, atau memang hanya segitu segitu saja isinya pengguna internet?

antyo rentjoko
antyo rentjoko

Bener semua, tapi saya percaya bahwa pada akhirnya segmentasi brand si aktivis media sosial maupun produk yang disuarakannya juga kian menajam. Gak mungkin ada orang yang serbisa dan lintas bidang. Aktivis tua, yang jauh dari musik indie, gak mungkin mengemban promo untuk single dan gigs. Sementara aktivis muda yang popular dan ngerti finansial, belum tentu cocok untuk kampanye wealth management atau sukuk. :)

Ramya Prajna
Ramya Prajna

Menurut saya yang terpenting tetap saja ide kreatif dan strategi dari penggunaan influencer. Lebih-lebih lagi sekarang banyak sekali artis yang juga (iseng2) me-monetize social media dia. Banyak hal yang membuat mereka menjadikan medianya (account nya) hanya sebagai tempat advetorial biasa.

Bagaiman sebuah makanan bisa menjadi lezat kan tergantung koki nya toh :P

-tikabanget-
-tikabanget-

kak, saya pengen jadi influencer, kak..
gimana caranya ya kak?

Cesar
Cesar

yg jadi pertanyaan adalah "taunya darimana orang itu adalah 'paid social influencer' atau bukan ??.."
Apa dari tweet-nya yg banyak mempromosikan brand / campaign tertentu ??..

karena banyak juga loh yg gak dibayar tapi dengan 'sukarela' mereka promote di tweet mereka, padahal pengikutnya udah ribuan juga..hehe..

CMIIW.. :D

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

Saya setuju dengan apa yang disampaikan melalui entry di atas.

Alasan pemakaian jasa ini biasanya lebih karena mengincar kuantitas pre-click marketing. Padahal kuantitas pre-click marketing yang banyak tidak menjamin kualitas post-click marketing yang bagus.

Saya tahu kenalan saya yang pernah memanfaatkan jasa ini. Dan menurut saya sama sekali tidak worth it. Sudah mahal, cara penyampaian yang dilakukan oleh si "influencer" juga tidak mengusung consumer evangelism. Tidak ada nada yang penuh passion ketika mendukung. Belum lagi visit yang datang dari endorser seperti ini tidak konvert dengan baik.

ilmanakbar
ilmanakbar

kebanyakan yg ada skrg itu influencernya tingkat nasional ya, ga ada (atau saya yg ga tahu?) agency/brand yg mau ngambil influencer2 dr komunitas2 di daerah.

gmana tuh, ide bwt ngambil influencer di komunitas2 daerah, jadinya ga 4L? trus teorinya bisa bener2 ngebuzz menyeluruh kan?

Mada Mahadaya
Mada Mahadaya

caranya bisa tau seseorang itu lebih tinggi nilainya (di social media) dari orang lain caranya gimana ya?

lalu bgmn klo seseorang dengan pengikut yg banyak tapi pesan yg disampaikannya tdk relevan dengan core business si pemesan berita yang ingin disebarkan, apa suatu promo dpt dikatakan cukup berhasil?

Toni
Toni

Saya concern dengan poin ketiga. Influencer atau Whizzer/Buzzer jumlahnya belum banyak atau lebih tepatnya belum terungkap keseluruhan. Akhirnya yang terjadi adalah 4L untuk berbagai jenis campaign. Ujung-ujungnya akan ada kekurangan authority dan mampu berefek pada kebosanan serta kejengkelan calon konsumen. Yang paling ditakutkan adalah konsumen menjadi mati rasa dan campaign selanjutnya akan ditolak mentah-mentah. Jadi? Ya memang harus hati-hati strategi dan eksekusinya. Klise :p

Pitra Satvika
Pitra Satvika

hihi, kalau harga seorang influencer gimana, van?

Toni
Toni

@Wiku
overlap mugkin tepatnya, tidak selalu bisa disamakan. Tapi kepala suku menyimpan potensi sebagai influencer

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

@agus

hauhauhauhauhahua!! gila bisa ketemu di sini

tapi emank bagus si :D

Toni
Toni

@Agus
Kalau mengharapkan efek seperit iklan tivi yang diulang 70 kali sehari sih ya pasti beda :D Tapi influencer bisa jadi langkah breakthrough. Yang memecah lubang pertama adalah influencer (sebagia pihak yang paling bisa "dipercaya"), setelah itu iklan tivi dan lain-lain memperbesar efeknya.

Wah, Kartunama.net punya paket khusus Influencer ya? Top! Siapa lagi tuh yang mau pesan. Sebut saja NavinoT di e-mailnya. Mudah-mudahan dapat diskon atau malah digratisin :D

Toni
Toni

@Pandu
Hehe, nanti kalau ada event komunitas mudah-mudahan kita bersua lagi :D

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

I wouldn't stop di "mempunyai banyak fans/massa"

Influencer sendiri berarti orang yang bisa meng-influence / mempengaruhi

Kalau banyak massa / fans tapi yang terpengaruhi sedikit, menurut saya sama sekali bukanlah seorang influencer. Influencer harus bisa menggerakkan terserah berapapun jumlahnya. Kalau bisa menggerakan banyak orang dan menjadi mass-influencer, bagus. Tapi bukan artinya kalau cuma bisa menggerakan sedikit orang lalu dia bukan influencer

Arham Blogpreneur
Arham Blogpreneur

Itulah kerennya promote via influencer dibanding brand ambass offline.. ngak ada yang tau :D

Cesar
Cesar

bwehehe.. agree sir.. xD

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

hmmm mungkin lebih baik dibaca di sini, kalau tidak kelewat panjang dan diprotes Pitra D;

"apa mungkin influencer tidak terpuaskan jadi ngak ada passion?"
Bukan.. influencer biasanya seperti yang dibilang ramya yang hanya "aji mumpung" me-monetize social medianya. Jadi passion pas mereka endorse (berbayar) produk / web / jasa / atau apalah sama sekali tidak keluar.

Bedakan nada dari orang yang benar-benar perduli (mempunyai passion) akan sebuah produk dan nada dari orang yang mendukung sebuah produk hanya karena dibayar

Arham Blogpreneur
Arham Blogpreneur

Maksudnya? "consumer evangelism" mohon pencerahannya bang pandu :)

"Tidak ada nada yang penuh passion ketika mendukung" yang ini kenapa yah? apa mungkin influencer tidak terpuaskan jadi ngak ada passion?

Toni
Toni

@ilman
Seperti halnya blogger, sepertinya perlu juga dibentuk asosiasi influencer untuk mengakomodasi influencer di pelbagai daerah. Bisa disingkat Asoii! (Asosiasi Influencer Indonesia) :D

Pandu Truhandito
Pandu Truhandito

"lebih tinggi nilainya (di social media) dari orang lain caranya gimana ya?"

Sayangnya masih belum ada indikator yang tetap. Klout.com memiliki angka yang mereka bentuk sendiri sebagai sebuah indikator "influencer". Sayang, lingkupnya hanya di twitter

Saya rasa kriteria "berhasil atau tidak" tergantung dari hasil dari campaign itu sendiri dan bukan dari cara / medium / isi dari penyampaian campaign tersebut.

Jadi relevan ataupun tidak relevan messagenya, kalau hasilnya bagus, bisa dibilang sukses.

Arham
Arham

Sebenarnya, apakah memang tidak terlalu banyak atau memang tidak tau banyak? karena technorati atau semacam indo.. metric memang tak mewakili sepenuhnya influencer.

Arham
Arham

ditunggu traktirannya pit :D

Ivan
Ivan

@Pitra - Harga ya tergantung ... celebriti kelas A, B, atau C. Hehehe :) Mana ada pasaran atau bursanya... Lha Anda pasang bandrol berapa? :)