You Don’t Want To Fight Piracy

You Don’t Want To Fight Piracy

Saya percaya Anda tak ingin berperang dengan pembajakan. Tidak dengan cara yang terpikir oleh Anda saat ini.

Bits Tend to Be Free

Ada kecenderungan bagi bit untuk tersebar sebagaimana informasi selalu ingin terdistribusi dari satu orang ke orang lain. Ada kecenderungan bagi semua hal berbau digital untuk berubah menjadi gratis. Pertambahan kekuatan prosesor dan harganya yang cenderung terbagi dua tiap 18 bulan menjadi bukti akan hal ini.

You Don’t Want to Talk About Piracy in Developing Countries

Tidak dengan tujuan yang Anda pikirkan saat ini. Membatasi akses konsumen pada hal-hal yang mereka butuhkan sama saja seperti menjual layanan berlangganan internet yang tak pernah bisa terbeli oleh khalayak ramai. Apa yang Anda rasakan ketika Anda mampu membeli komputer tercanggih dan termahal tapi tak pernah mampu mengakses Detik.com? I can hear you scream: internet should be cheap! Tapi tidak pernah ada yang aturan yang mengharuskan terjadi kondisi seperti itu bukan?

Are We Not Being Evil?

Kita berharap dan terkadang memaksa konsumen lewat iklan untuk membeli produk kita, namun kita tidak pernah memikirkan harga yang bisa mereka jangkau. Kita jengkel karena hanya konsumen segmen A dan B saja yang membeli produk kita, padahal konsumen kelas C jumlahnya jauh berlipat ganda. Sementara di lain pihak kita tak pernah mengkondisikan konsumen kelas C supaya dapat membeli barang kita. Mirip dengan kondisi marahnya kita saat konsumen lebih memilih produk dari Cina daripada produk nasional.

Piracy Is A Tough Competitor

Pembajakan punya sisi kuat dibidang distribusi. Di mana pun Anda berada, di mall, di pinggir jalan, di bawah jembatan, Anda bisa menjumpainya. Anda tak akan menjumpai toko kaset  dan CD di tempat-tempat tersebut.

Pembajak punya customer service yang bagus. Mencoba sebelum membeli bukan monopoli toko besar semata. Produk bisa dicoba di tempat dan jika ternyata rusak setelah dibawa ke rumah maka kita bisa menukarkannya dengan produk yang sama – tanpa biaya tambahan.

Pembajak tahu apa yang diinginkan konsumen. Bagi konsumen kadangkala kualitas bisa dinomorduakan karena mereka mengejar keterkinian. Barang terbaru selalu ada walau tidak dalam kondisi prima, sementara itu barang lama dengan kondisi bagus juga tetap tersedia. Bungkus plastik pun ternyata bisa efektif diterima karena mereka tahu konsumen berfokus pada konten. Detil lain tak begitu penting.

Finally, you just can’t beat the price. It’s either very cheap or even better, FREE.

Don’t Be Stubborn and Stupid. Be Smart Like Apple

Apple tahu bahwa harga satu album music itu mahal. Oleh karena itu iTunes store menciptakan ilusi murahnya membeli lagu single. Kita mungkin tidak sadar bahwa tagihan kita di akhir bulan melebihi tagihan seandainya kita hanya bisa membeli album. Ternyata ujung-ujungnya kita malah lebih murah hati dalam membelanjakan uang. Alih-alih rugi, iTunes store justru Berjaya. Jauh lebih sukses daripada toko CD pada umumnya.

What Ifs

Andaikan kita bisa menonton film baru gratis di bioskop sekali seminggu, apakah kita masih berpikir untuk membeli DVD film bajakan?

Jika setiap stasiun radio hanya memutar musik saja setiap saatnya, apakah kita masih berpikir untuk mendowload mp3?

Bagaimana jika pembajakan bisa dimanfaatkan daripada diperangi? Seperti yang bisa kita pelajari dari film Confucius: Selesaikanlah semuanya tanpa melakukan apapun

Comments are closed.