Internet and Communities

Internet and Communities

Internet is a beautiful thing – Episode Naruto terbaru baru saja ditampilkan di stasiun televisi di Jepang. Tidak lama setelah usai, sudah dikemas ulang dan disebarkan lewat torrent. Episode terbaru tersebut mulai diunduh oleh ribuat orang, seeders and leechers, tapi banyak penggemar yang berdomisili di Amerika Serikat tidak bisa berbahasa Jepang. Selang satu hari, seorang fan Naruto keturunan Jepang yang tinggal di Los Angeles tleah selesai dengan subtitle episode Naruto tersebut, dalam bahasa Inggris.

Sekarang semua bisa menikmati episode Naruto terbaru, berkat beberapa aktifis sukarela, lewat internet. Indah bukan?

Internet bisa diibaratkan sebuah komunitas global dengan variasi pengguna di seluruh belahan bumi. Namun dalam perjalanannya, sebuah komunitas tidak selalu berjalan mulus. Karena memang komposisi yang dimiliki selalu mengalami variasi antara good people and bad people. Tidak semua juga berpartisipasi, bahkan mayoritas hanya menikmati. Mungkin pengelompokan berikut bisa dijadikan pertimbangan:

1. Watchers & Listeners – Kelompok ini adalah pengguna awam, cenderung pasif dan tidak banyak melakukan kontribusi (seperti kamu yang rajin membaca, tanpa pernah berkomentar. :)) Jumlahnya mungkin sekitar 90% pengguna.

2. Active Users – Kelompok kedua ini adalah pengguna yang aktif, tapi masih dalam skala kecil. Mungkin berkomentar atau melakukan review di situs online review. Jumlahnya mungkin hanya 9% pengguna.

3. Contributors – Grup ini memegang peranan penting, karena tanpanya, grup pertama dan kedua tidak bisa beraktifitas. Grup ini mungkin hanya berjumlah 1% saja.

Dari 3 macam pengguna di atas, masih ada beberapa pemeran tambahan, yaitu:

4. Trolls – Ini adalah kelompok perusak. Selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Entah dalam bentuk spam, scam, atau tindakan yang tidak pantas dilakukan dimedia umum.

5. Celebrities – Dalam suatu komunitas selalu ada sosok yang selalu dipuja. Sosok ini bukan berarti selebriti beneran, bintang film atau penyanyi. Namun cukup berpengaruh dengan jumlah pengikut yang banyak.

6. Leaders – Mirip dengan kelompok selebriti, tapi bedanya adalah kelompok ini mempunya profesi beneran. Bukan hanya sekedar pengguna yang mempunyai banyak pengikut. Mungkin karena posisinya atau profesinya yang memang perlu personal branding yang kuat.

Kira-kira begitulah gambaran komunitas pengguna Internet. Dari awalnya internet dimulai, selalu diawali dengan sekelompok orang yang mau berbagi. Dengan semakin banyak pengguna, dan karena Internet memang bermanfaat, semakin banyak yang berpartisipasi.

Social media mungkin adalah istilah yang sedang nge-tren saat ini. Mengambil istilah “sosial” yang berkaitan dengan perilaku manusia. Namun bila diamati lebih jauh, fenomena ini sudah terjadi sejak awalnya internet. Misalnya email yang menghubungkan satu pengguna dengan pengguna lainnya. Bahkan algoritma PageRank Google juga mengambil keterkaitan antar satu situs/halaman dengan situs lain.

Social Problems?

Masalahnya, Internet yang sekarang jauh lebih mudah dipergunakan. Seperti layanan microblogging, yang dipermudah menjadi 140 karakter saja. Yang tadinya masih berusaha mikir untuk sebuah artikel blog, kini cukup ngoceh tweet and send. Halangan untuk berpartisipasi jadih jauh lebih minim, dibanding Internet di era lalu.

Hal ini membuat kreasi content jadi jauh lebih mudah, lebih gampang untuk berpartisipasi. Tapi karena lebih gampang itulah, semakin mudah juga bagi para Trolls (kelompok #4 di atas) untuk melakukan aksinya.

Komunitas yang ideal tentunya akan mengurangi semua hal tersebut, baik dari pihak admin atau aksi sosial dari penggunanya sendiri, sepertiĀ  “Mark as Spam“. Selain itu, komunitas yang populer dan matang, selalu ada elemen-elemen tersebut. Semua orang selalu mau populer di social media, dengan alasan ekonomi pada umumnya. Tidak bisa dihindari dan masih wajar-wajar saja, selama prakteknya tidak menganggu.

How to Manage the Community?

Beberapa komunitas, seperti Kaskus, lebih memilih jalur bebas. Bebas dalam berekspresi, bahkan mengatur format tulisan. Kebebasan ini membuat komunitas jadi lebih berkembang dalam kuantitas. Namun bagi sebagian orang, Kaskus bukanlah sebuah komunitas yang diinginkan. Terlalu banyak noise atau hal-hal yang lebih menganggu.

Komunitas lain lebih memilih kualitas daripada kuantitas, bila komentar yang ada tidak sesuai dengan topik, maka akan dialihkan atau dihapus. Satu langkah tepat bila bertujuan membuat suatu komunitas yang nyaman, tapi kebebasan untuk “numpang promosi” jadi hilang.

Internet sudah seperti itu dari awalnya. Dari komunitas yang sudah berkembang (populer) selalu ada pengelompokan tersebut. Tergantung bagaimana kita mengatur komunitas tersebut, akan membawa dampak yang berbeda. Dengan lebih mudah berinteraksi, akan lebih mudah dirusak (spam), dan selalu ada untuk yang mau jadi populer, dan alasan ekonomi selalu banyak berperan.

Internet as a community – it’s been like that, and will always be. Agree?

Comments are closed.