Berbicara Facebook ‘Like’ yang Baru

Berbicara Facebook ‘Like’ yang Baru

Pengumuman Facebook yang terakhir membahas tentang versi terbaru Facebook ‘Like‘. Fitur yang diadopsi dari akuisisi Friendfeed ini, dikembangkan lebih jauh untuk menjadi lebih universal. Apa bagusnya dan bagaimana masa depannya?

Copywriting Rules!

Sebelumnya Facebook Pages menggunakan kata “Fan” untuk interaksi. Terdengar OK saja setelah sekian lama dipakai, tapi masih ada ganjalan dengan artinya secara harafiah. Fan lebih condong ke arah selebriti dengan pengikutnya, mungkin juga cocok dengan suatu brand yang menunjukan fanatisme. Tapi kata ‘Fan‘ sendiri terasa lebih berat dan selalu terbanyak akan adanya komitmen. Dengan ‘Like‘, Facebook Pages jadi lebih masuk akal dan kuran adanya komitmen. Bagus untuk pengguna.

More Stuffs on Facebook

Sebagai sebuah situs jejaring sosial terbesar, Facebook punya banyak audience yang kiranya perlu dipuaskan. Selama ini Facebook sangat tergantung dengan status update penggunanya, dan konten yang di share ke dalam Facebook. Dengan jumlah pengguna yang begitu banyak, Facebook dengan cerdas memanfaatkan aset utamanya, untuk menarik content baru ke dalam Facebook. Hal ini tentunya membuat pengguna lebih mempunyai pilihan untuk nongkrong di Facebook, yang tentunya berujung dengan waktu yang diluangkan lebih lama, lebih banyak interaksi, lebih banyak halaman, dan revenue iklan.

More Junk on Facebook

Dengan semakin banyak content yang di share di Facebook, juga akan semakin banyak noise di Facebook. Noise tidak hanya spam, tapi content normal yang belum tentu kita sukai atau minati. Karena banyak mata memandangi Facebook tiap saat, membuat Facebook jadi target empuk untuk … semua hal.

Future Possibilities

Facebook ‘Like‘ pada dasarnya merupakan penandaan sebuah aksi bagi pengguna untuk mengkonfirmasi content yang disukai, dengan kata lain bagus atau berkualitas. Tunggu! Bukankan itu yang kita lakukan di situs social bookmarking? Seperti Delicious, Digg, dan beberapa situs lainnya? Mungkin belum setara dalam perbandingan, tapi bukan tidak mungkin Facebook nantinya menambahkan fitur untuk mengatur content yang sudah di-‘Like‘. Begitu hal itu terjadi, Facebook akan setara dengan beberapa situs social bookmarking lainnya.

Bagaimana kalau Facebook melawan Google? Bukan tidak mungkin lho! Karena setiap aksi Like bisa dianggap sebuah konfirmasi akan hal yang disukai atau berkualitas. Jadi secara teori tidak jauh berbeda dengan link antar situs, yang berkaitan dengan algoritma PageRank Google. Dari serangkaian content yang di-Like bisa ditelusuri content apa yang berkualitas, laris, bahkan masih bisa berkaitan dengan social graph yang ada di Facebook.

Apa dipilih siapa, di mana, pria/wanita, umur berapa, kapan, dan pantas untuk siapa. Cukup sudah!

Challenges Ahead

Kemungkin Facebook untuk berkembang masih terbuka lebar, namun Facebook harus was-was akan content yang menggangu. Tidak hanya content kotor, tapi juga content yang diakali oleh penggunanya agar cepat populer, seperti yang dilakukan Digg untuk menentukan apa yang pantas di halaman depan.

Bagi developer, mengadopsoi Facebook tidak semudah membuat link di satu halaman. Jauh lebih kompleks, yang juga berarti traksi untuk proses adopsi yang lebih tinggi.

Selain itu, Facebook lebih mengandalkan penggunanya untuk menerima rekomendasi content baru, atau lebih pasig bila dibanding Google dengan crawler-nya yang selalu aktif mengindeks halaman baru. Bagaiman bila Google juga mengindeks halaman Facebook? Google masih lebih depan dari Facebook?

Comments are closed.