OpenGraph, Evil Or No Evil?

OpenGraph, Evil Or No Evil?


Masih ingat tentunya dengan kata satu ini: OpenGraph. OpenGraph adalah salah satu rilis terbaru dari Facebook. Berwujud suatu protokol terbuka yang menfasilitasi penambahan metadata pada konten yang berelasi dengan produk di dunia nyata. Jika kita kemarin berkutat dengan Page demi menghadirkan representasi produk kita di dalam Facebook, kini membuat lebih banyak representasi produk tanpa menambah sekian banyak Page.

Ya, combo dari OpenGraph adalah Facebook Like. Like kini sudah naik pangkat menjadi salah satu first level citizen dalam Facebook. Jika kita kemarin hanya bisa Like pada foto atau status, kini kita juga bisa menggunakannya pada Page — menggantikan “Become Fans”. Dan karena OpenGraph sebenarnya bisa dikatakan mewakili sebuah Page, kita juga bisa melakukan Like pada konten yang mendukung OpenGraph. Ini berarti semua halaman di luar Facebook bisa mendapatkan Like. It doesn’t need to be inside Facebook.

Top To Bottom Semantic Work

Usaha menerapkan semantic web tidak dimulai dengan OpenGraph. Di masa sebelumnya telah banyak usaha yang dilakukan untuk mewujudkan semantic web. Salah satunya adalah membentuk kosakata yang bisa dipakai untuk mendefinisikan entitas dan relasi antar entitas. Usaha-usaha tersebut sampai sekarang tidak banyak membuahkan hasil sebab ada mata rantai yang hilang: mass adoption

Jika kita ingin menikmati semantic web, maka harus ada cukup banyak konten/entitas yang ditempeli dengan informasi semantik. Tanpa cukup konten, tak banyak yang bisa dilakukan oleh mesin dan tak banyak pula yang bisa dinikmati manusia.

OpenGraph adalah inisiatif top to bottom. Dari pihak dengan pengaruh besar ke arah konsumer. Dengan merilis Facebook Like dan mensyaratkan OpenGraph, Facebook akan bisa “memaksa” cukup banyak orang untuk melengkapi informasi semantik pada kontennya.

Who Get The Most Benefit?

Yang paling jelas mendapatkan keuntungan adalah Facebook. Dengan OpenGraph, akan semakin banyak pula konten yang dikenali Facebook. Aplikasi Facebook semacam Flixter, Goodread, dan lain-lain boleh minggir karena Facebook bisa menangani langsung interaksi konsumer dan produk. Beberapa fungsi layanan pihak ketiga mungkin tidak bisa diganti, tapi yang Facebook butuhkan hanya relasi konsumer dan produk. Dengan ini, ad platformnya akan jauh lebih sakti daripada Adsense.

Google dan institusi lain juga bisa diuntungkan. Karena OpenGraph bisa dikonsumsi siapa saja, tinggal kreativitas yang bisa menentukan apakah pihak selain Facebook bisa mendapatkan benefit dengan ketersediaan informasi semantik.

Yang terakhir dan berada di ujung rantai adalah kita para konsumer. Kita bergantung banyak pada langkah yang diambil Facebook dan pemain-pemain besar lain. Dengan traksi yang cukup dari the big guys, kemungkinan kita juga bisa take part dalam memperkaya bentuk-bentuk pemanfaatan OpenGraph.

When all likes lead to Facebook, and liking requires a Facebook account, and Facebook gets to hoard all of the metadata and likes around the interactions between people and content, it depletes the ecosystem of potential and chaos

. Chris Messina khawatir, dengan mengalirnya informasi Likes ke Facebook dan hanya Facebook, ekosistem web akan terganggu. Karena akan ada ketergantungan pada Facebook demi mendapatkan informasi yang harusnya bersifat terbuka ini. Bagaimana jika yang lain turut serta, Google Pagerank misalnya? Mungkin semua orang harus mendaftar ke Google supaya bisa dimasukkan ke dalam search engine dan mendapatkan hasil pencarian. Unlikely, tapi bisa saja bola ini menggelinding ke sana.

So, What To Do?

Terlalu dini untuk khawatir. Let’s go wrong and fix it later. Kita perlu mengeksplorasi sejauh mana OpenGraph bisa kita bawa. Inisiasinya sendiri sudah menarik dan kelihatan manfaatnya. Jangan sampai kita berhenti sebelum melangkah.

Demi kewaspadaan, kita bisa menengok OpenLike. Seperti Status.net, OpenLike adalah inisiasi terbuka yang memberikan keleluasaan pada Anda untuk menentukan siapa yang akan menyimpan data Like yang kita produksi.

Comments are closed.