Work On Why

Work On Why


Saya punya produk keren yang bisa mengarsipkan timeline Anda, mengelompokkannya dalam kluster entitas seperti Google, iPhone, etc. Anda mau membeli produk saya?

Sebagian mungkin ingin mencoba, sebagian lagi bertanya: kenapa harus membeli?

Kenapa Anda membeli produk Apple? Karena produknya bersinar, enak dipakai dan keren? Memang benar. Tapi itu rasionalisasi. Kalau ada produk tanpa logo Apple namun sama bagusnya dengan produk Apple, apakah Anda masih mau membelinya?

Kenapa saya memakai Linux setiap saat? Karena Linux membuat saya jadi benar-benar powerful. Ini juga sebenarnya rasionalisasi. Ada banyak produk lain yang juga bisa membuat saya powerful. Mac OSX juga turunan Unix.

Masih ingat bahwa konsumen sebenarnya sudah membuat keputusan membeli produk bahkan sebelum dia melihat produk Anda?

Perilaku manusia ditentukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “Why”. Proses rasionalisasi lewat bahasa dan logika dilakukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “How” dan “What”. Why terletak di bagian paling dalam, How diluar Why dan What berada di lapisan paling luar.

Kebiasaan kita berpikir adalah memulai dengan What, kemudian How, barulah terakhir menjawab pertanyaan Why. Why tidak bisa dijawab dengan rumus matematika karena Why adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab secara rasional. Kenapa ada orang yang tak pernah mau masuk jalur busway, dan ada orang yang terkadang masuk jalur busway?

Jawabannya adalah bukan karena jalur busway itu berbahaya bagi kendaraan lain. Bagaimana jika jalur tersebut kosong, atau belum terpakai? Kenapa orang tetap saja tidak mau masuk jalur tersebut? Karena Anda percaya bahwa Anda memang tidak boleh lewat situ.

Ada keputusan-keputusan kita yang bahkan kita sendiri tidak bisa menjelaskannya. Satu-satunya kalimat yang kita pakai adalah: because it feels right.

Ada yang disebut pemimpin (memegang kekuasaan) dan ada yang disebut orang yang memimpin (menginspirasi). Orang yang memimpin, seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Linus Torvalds menginspirasi kita. Kita membeli produknya bukan karena fitur tapi karena kita percaya pada mimpinya.

Kita membeli mimpi mereka. Selalu.

Tak percaya? Coba saksikan penjelasan yang lebih renyah di presentasi TED ini.

PS:
Thanks a bunch to @ronaldwidha of temanmacet.com for pointing me to this awesome material. You should really follow him and his awesome tech podcast.

Comments are closed.