Lagi-Lagi Agregator

Lagi-Lagi Agregator

Masih, saya masih menyimpan ide agregator untuk blog sejak beberapa tahun lalu. Dulu mencari sumber berita itu susah akibat  tidak sempat mengeksplorasi seluruh internet dalam kapasitas terbatas kita. Jadi mengumpulkan beberapa blog atau penerbit berita lain dalam satu website itu tergolong masih punya value tinggi. Tidak seperti sekarang, adanya Twitter menyebabkan proses penemuan sumber berita menjadi lebih mudah. Tak perlu mencari bahkan, berita akan dihantarkan langsung di depan kita. Kita tinggal pilih mana yang menarik, klik dan kemudian membacanya.

Keep On Piling

Kita kita cukup savvy dengan teknologi dan menjadi fans berat RSS, sumber berita tersebut bisa dimasukkan ke dalam feed reader. Hanya perlu beberapa kali bertemu dengan sumber berita menarik yang sama sehingga kita yakin untuk menjadikannya salah satu sumber informasi dalam koran pribadi kita (feed reader). Proses mengumpulkan informasi ini terus berlangsung sehingga agregator menjadi kehilangan fungsi. Tidak kehilangan fungsi, tapi mengalami masalah karena faktor skala jumlah data.

Search, Don’t Sort.

Jika jumlah data terlalu banyak, opsi yang masuk akal adalah melakukan pencarian alih-alih menelusuri data satu per satu guna menemukan apa yang ingin kita akses. Die grid die. Die list die. Karena inilah GMail lebih cocok bagi kita. Jika data sudah menumpuk maka akan diperlukan fitur tambahan untuk mengaksesnya.

Tasteful Topping

Di Twitter kita mengenal Retweet. Retweet adalah sarana menemukan jarum dalam tumpukan jerami.

Di Slashdot kita mengenal karma untuk artikel dan komentar. Komentar dengan karma kecil akan otomatis tidak ditampilkan by default.

Di situs macam Scriptlance atau GetAFrelancer, ada fitur rating bagi coder dan project owner.

PriceArea.com mengumpulkan berbagai informasi dari situs-situs e-commerce. Di atasnya ditambahkan fitur pencarian.

StackOverflow.com menjadi agregator pertanyaan teknis. Di dalamnya ditambahkan fitur vote untuk menandai jawaban yang paling manjur.

Banyak sekali layanan yang berbasis agregator. Perbedaannya hanya topping apa yang ditawarkan di atasnya. Topping inilah yang menjadi pemanis dan pembeda dari konsep agregasi yang diterapkan tiap-tiap layanan.

Coba sebutkan situs-situs lain yang basisnya agreagasi. Craiglist? Urbanesia? Autosally?

PS:

BTW, blog itu juga salah satu bentuk agregasi lho. Tinggal pilih topping untuk membuatnya beda dengan yang lain. I don’t intend to make this aggregating things sound easy, but it is somewhere we can start from 😉

Foto oleh Herman Saksono

Comments are closed.