Free, Rehash

Free, Rehash

Free diyakini sebagai salah satu metode ampuh dalam memasarkan produk. Tapi bagaimana caranya. Bagaimana supaya Free tidak disalahgunakan oleh customer? Bagaimana supaya Free memberi nilai balik pada produsen?

Free Always Has (Virtual) Limit

Tetap harus ada batasan. Umumnya batasan yang dipakai adalah storage/bandwidth dan fitur. Batasan ini harus terkait dengan layanan utama yang ditawarkan. Google AppEngine membatasi jumlah pemakaian CPU. Flickr membatasi jumlah foto yang tampil. LastFm membatasi free track sampai 30 lagu. Kursus bahasa jepang online yang dulu pernah saya ikuti hanya memberikan free basic course saja.

Supaya kita ingat value dari Free, kita harus bisa melihat keadaan tanpa Free. Inilah tujuan menempatkan batasan freedom.

Free is Not (Really) Free

Terkadang ada yang harus ditukarkan untuk mendapatkan produk gratis. Menyambung kursus bahasa jepang di atas, yang gratis adalah podcast. Selanjutnya transkrip dan media kit lain hanya bisa didapatkan di websitenya. Natural, karena keterbatasan media podcast. But still, kita harus menukar akses ke transkrip tersebut dengan kunjungan  ke website terkait.

Dalam kasus layanan telco, kita seringkali menukar data diri dengan diskon panggilan dan ongkos SMS.

On Blog and Free

Menarik jika kita tarik konsepnya ke blog. Selama ini kita memberikan semuanya pada pembaca, namun kadangkala kita gagal mengambil nilai baliknya. Batasan apa yang bisa kita pakai dalam menerapkan konsep Free ke blogging. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan:

  • Login to view. Pengguna hanya bisa membaca jika dia login. Ada beberapa plugin yang bisa dipakai untuk keperluan ini. Nilai baliknya adalah user acquisition.
  • Summary atau full feed. Masih valid tidak ya? Summary seperti GigaOm yang diarahkan ke premium subscription tampaknya layak diadikan contoh. Premium subscription jadi nilai balik yang kita andalkan.

On Music and Free

Harga CD lokal 40 ribu. ketika saya punya CD, berarti saya punya hak penuh untuk me-rip CD tersebut dan menaruh kontennya di media penyimpan lain yang saya miliki. Total freedom.

Dari konsep ini semestinya kita bisa menentukan harga konten digital yang pantas. 40 ribu sudah make sense bagi saya. Isinya 12 lagu. Berarti eceran satu lagu dihargai 3333 rupiah. See, kita sudah bisa “beat up” Apple store dengan harga seperti ini. Total freedom for 3333 rupiah only.

Makna Free tidak sama dengan harga nol rupiah. Free adalah persepsi. Ada batasan harga di mana kita tak akan mempertanyakannya lagi. Cheap enough equals free. Akan jadi lebih baik lagi jika kita bisa menghilangkan segala jenis hassle pembayarannya.

Apakah 3333 rupiah itu sudah “Free” bagimu? Blogmu “Free”?

Comments are closed.