No Need To Go Global. Global Goes Local.

No Need To Go Global. Global Goes Local.

Orientasi kita sejak dulu adalah ekspor, ekspor, ekspor. Jika kita melakukan impor berarti ada yang salah dengan kebijakan dan keadaan ekonomi dalam negeri. Hal serupa juga terjadi dalam konteks online. Umumnya pengusaha online selalu menarget pasar luar negeri. Tak salah juga karena pasar lokal ternyata masih belum siap, terukur dari besar pasar dan kemampuan mengakses produk. Baru-baru ini saja kita mulai bisa menikmati kondisi pasar yang kondusif bagi pengusaha online.

Where Are We?

Saat ini kondisi kita sama-sama well-informed dengan teman-teman di luar Indonesia. Blog dan Twitter menjadi alat pertukaran informasi dan berkecepatan tinggi yang sangat efektif. Begitu efektifnya sehingga kita khawatir jika tidak bisa mengakses kanal informasi ini. We are afraid to miss the trending topic when the earth stop spinning :D.

Akibat keberadaan kanal ini kondisi kita menjadi sejajar. Tidak dalam semua hal namun dalam hal akses informasi yang bisa dipakai untuk menentukan langkah atau membentuk ide usaha baru. Perusahaan perintis baru di luar bisa segera kita intip dan kita salin konsepnya. Kemudian dibawa ke kancah lokal, diadaptasi dan dijalankan dengan nilai-nilai yang relevan dengan Indonesia. Tidak semua bekerja sesuai harapan tapi setidaknya kita punya bahan untuk trial dan error di pasar lokal.

No Need To Go Global

Tak perlu lagi menarget pasar di luar negeri. Bahkan untuk urusan e-commerce pun pasar dalam negeri sudah mulai menunjukkan potensinya. Seiring dengan bertumbuhnya pemain-pemain lokal, menurunnya harga akses dan alat akses baik mobile maupun stationary, masuknya Facebook dan Twitter ke kanal mainstream dalam negeri, pasar-pasar pun mulai terbuka.

It’s big and about to get bigger! Tak percaya? Tanya SaGad.

How Many Copies Is Enough?

Berapa banyak pemain e-commerce di dalam negeri? Banyak. Tidak sangat “banyak” tapi cukup mengagumkan “banyak”. Dan yang cukup mengherankan adalah semuanya running, dengan niche-nya masing-masing. Beberapa tahun lalu, kita mungkin sempat mencibir ke layanan tiruan frenster. Hanya meniru. Kini sudah banyak tiruan dari pelbagai macam hal. Kita tak sering mencibir lagi. Copying is not (so) humiliating. Kita mulai menghargai usaha dibaliknya. Pasar kita begitu besar, satu salinan belumlah cukup. Keep duplicating!

Beware Of The Global Player

Terbukanya pasar dan munculnya pemain-pemain lokal tak pelak menjadi indikator bagi orang-orang di luar Indonesia tentang potensi yang ada di sini. Indonesia, India dan China sudah terkenal dengna sumber tenaga murah. Kemarin mereka melakukan outsource ke lokal. Kini, membuka kantor baru tampak lebih ekonomis dan menjanjikan. Bangun saja pabrik di tengah-tengah konsumen. Hemat, murah, profit!

Dengan mengetahui kelemahan pemain lokal di bidang pendanaan dan pengalaman, pemain luar membawa tongkat yang lebih besar (bigger stick) untuk masuk ke dalam negeri. Dana yang cukup, model bisnis yang teruji dan partner lokal menjadi killer combo.

Jadi, pindahkan pantat Anda lebih cepat! “Belanda” sudah datang.

Comments are closed.