Gimme The Badges!

Gimme The Badges!

Badge! Gimme more badges! Entah karena penasaran atau kita secara sederhana tak mampu menahan diri untuk memanfaatkan kelemahan sistem, terciptalah “profesi” jumper. Badge bisa diperoleh tanpa datang ke venue terkait. Super duper crazy awesome near impossble swarm pun bisa terlaksana. Semua demi tampilnya badge langka di profile kita yang jarang dibuka orang itu.

Badge is the new currency

Mungkin Anda jadi bingung. Dulu attention disebut sebagai currency di dunia web. Eyeballs menjadi mata uang yang setara dengan uang di dunia nyata, dengan kurs yang juga senantiasa fluktuatif. Sekarang jadi tampak jelas, attention hanya satu jenis mata uang. Berlaku di “negara” tertentu dan tampak terpuruk nilainya.

Atensi atau perhatian susah diukur dan masih jauh dari tujuan akhir pemilik produk: konversi. Anda bisa saja melihat website atau iklan produk. Then what? Engagement-lah yang dicari. Eh salah, yang dicari penyerahan diri pada suatu produk. Kesediaan untuk bergabung dalam tribe produk dan mengiyakan rekomendasi (bujukan) yang diajukan oleh produsen. In the end, it’s always about sales 😀

So, where’s the badge again? Badge adalah bentuk imbalan terbaru, berharga namun tifak setara secara ekonomis dengan uang. Badge adalah cara untuk menghargai pengorbanan kita dalam mencapai suatu titik tertentu. Badge adalah indikasi langkah pertama dari voluntary engagement.

How the badge works?

Nilai badge dan collectible pattern achievement ini akan terus valid selama bersifat non financial. Harus dijaga keseimbangan antara tidak berharga dan cukup berharga. Saat badge mulai terukur dengan rupiah, efeknya akan otomatis turun. Seperti ketika Anda mengumpulkan stempel demi segelas kopi atau piring cantik.

Badge harusnya tak bisa luntur atau ditukar dengan barang. Badge harusnya hanya memberikan keistimewaan dan kebanggaan. Kita tidak menukarnya dengan sesuatu namun pihak lain dengan sendirinya akan memberikan hal-hal istimewa pada kita.

Open or Close Badge?

Badge adalah closed system. Tidak bisa dibawa kemana-mana dan tidak punya standarisasi nilai di antara satu sama lain kecuali dalam konteks komunitas produk yang sama. Flawed tapi justru di sini lah kunci keberhasilan badge: ekslusifitas. Namun model tertutup ini tak akan bertahan lama. Lingkungan tertutup akan membuat penghuninya bosan. Akan muncul kebutuhan akan keterbukaan. Entah demi portabilitas data atau interoperabilitas (yang seringkali overhyped)

Dengan adanya GameCenter dan OpenFeint dan Badgeville, badge akan terdemokratisasi (jadi umum). Sistem penghargaan badge akan tersedia di mana-mana dan bisa kita bawa kemana-mana. Namun Sebagian besar orang akan berada dalam sistem penilaian yang sama. Kompetisi terlalu sengit sehingga tak lagi menyenangkan untuk diikuti. Seperti halnya game pada umumnya, yang terlalu susah malah tidak mengasikkan. It needs to challenge you, within your possible boundary.

Nah, sekarang siapa mau menyumbang cerita pemakaian sistem badge di Indonesia?

Comments are closed.