Browsed by
Month: February 2011

I Confess. I Play Cityville

I Confess. I Play Cityville

Beberapa minggu lalu saya melakukan kejahatan luar biasa. Akhirnya saya mendaftar di Cityville — game di Facebook itu bukannya negatif?. Apa sih Farmville, Mafiawars, blah blah blah. Buat apa sih main gituan? Setelah bermain Gamedev studio, dan Oregon trail akhirnya saya ketagihan untuk main game lain. Saya bukan avid gamer, jadi yang saya cari adalah game yang sederhana namun cukup fun.

Tak salah, game ini cukup adiktif. Supaya saya dan Anda tak merasa bersalah saat bermain game ini, mari kita cari apa yang bisa kita pelajari dari Cityville. Kita tidak sekedar bermain, kita juga belajar kok 😀

In-Game Guide

Fitur ini sangat membantu saya sebagai newbie. Tiap bagian dashboard diterangkan fungsi dan cara bacanya. Tutorial diletakkan sebagai bagian dari gameplay awal. Manual tidak diperlukan karena sudah built-in dalam produk. Tidak banyak produk yang mengadopsi pendekatan semacam ini karena ada extra mile yang harus ditempuh –walau terkadang harga extra mile ini tak terlalu mahal. Padahal efeknya luar biasa.

Kecuali Anda membeli lego atau gunpla, Anda tak ingin berlama-lama merakit atau membaca manual sebelum menggunakan produk yang Anda beli. Produk yang self-explanatory akan sangat menarik konsumen.

What’s Next?

Salah satu hal yang membuat game menarik adalah tantangannya. Tiap level yang disusun sedemikian rupa untuk kita lalui. Dalam game tipe fighting, kita harus mengalahkan sejumlah jagoan dengan tingkat kesaktian yang terus naik. Demikian pula dalam Cityville. Kita tidak akan bingung apa yang harus dilakukan karena sistem akan memberi tahu prestasi-prestasi apa yang bisa kita raih selanjutnya. It keep us away from boredom by offerring multiple goals to complete. Tidak ada lagi kebingungan, habis ini ngapain?

Never Ending Story

Teman baru saya minggu ini sudah level 62, wilayah kotanya sudah luas sekali. Yet, belum ada tanda-tanda bakal segera bertemu game over. Cityville tampaknya memang tidak didesain untuk selesai. Sama nasib atau strateginya dengan beberapa manga sukses seperti Naruto, Bleach dan One Piece. Begitu menemui tanda-tanda kesuksesan, cerita akan dibikin ulang untuk mengakomodasi produksi sampai beberapa tahun ke depan.

Kebosanan pasti akan muncul di suatu titik. Tapi saya rasa kebosanan itu muncul karena tidak ada teman bermain. Seperti yang kita tahu, Cityville ini adalah game jaringan. Hanya seru jika dimainkan bersama-sama. Saat ada teman yang sudah lelah, yang lain pun akan merasa kurang fun. Seperti bermain Counter Strike sendirian. Apa sih serunya?

Tapi saat kebosanan datang, akan ada pemain baru. Si non beliefer yang akhirnya mengerti esensi (baca: adiksi) bermain Cityville. Dan siklus pun berulang lagi. Cityville jadi seru kembali. Rinse and repeat.

Coda

SCVNGR punya daftar tersendiri tentang apa saja yang bisa dijadikan game mechanics – walau akhirnya tak bisa mencegah saya dari rasa bosan. Badgeville punya game mechanics yang dijual sebagai produk. Kampanye online juga seringkali dan harus memakai game mechanisc supaya sukses. Bagaimana dengan produk Anda? Apakah memerlukan game mechanics? Jangan salah, produk serius pun bisa mendapatkan keuntungan dari implementasi game mechanics.

So, are you ready to play?

Your Next Startup Ideas

Your Next Startup Ideas


Dengan gegap gempita startup di ranah dalam negeri, di antara kita mungkin sudah kehabisan ide tentang produk yang ingin dibangun. Mungkin karena idenya belum matang atau sudah didahului orang. Bagi yang sedang mencari ide produk baru, dibawah ini saya coba identifikasi beberapa cara mendapatkannya.

Good artist copy, great artist steal

Cara termudah untuk mendapatkan ide produk adalah dengan menyalin apa yang sudah ada. Tak perlu susah, lihat saja produk populer yang Anda suka lalu bangun ulang di dalam negeri. Jika beruntung, Anda akan bisa memanfaatkan sentimen lokal termasuk rasa nasionalisme kita yang terkenal itu untuk membuat produk tersebut lebih bisa diterima konsumen lokal daripada produk orisinilnya yang berasal dari luar negeri. Jika tidak maka Anda harus berusaha agak keras untuk mengadaptasi produk tersebut supaya lebih bisa mengakomodasi kebutuhan konsumen lokal secara lebih spesifik.

Urbanesia, Koprol dan Gantibaju masuk dalam kategori ini.

Inverts control

Pola ini pernah saya singgung sebelumnya. Web 2.0 adalah tentang pembalikan kontrol. Membuat konsumen berkuasa atas apa yang diinginkannya. Apa yang ingin dilihat, kapan dan di mana dilihat. Termasuk di dalamnya mengkomoditaskan proses pembuatan konten (democrating content creation). User loves to be in control. That’s how Youtube did it. Youtube inverted television. Digg inverted newspaper.

Cari proses atau produk yang masih satu arah. Balik prosesnya dan jadikan produk baru.

Revamps in bleeding edge

Beberapa web mail client sucks. Beberapa karena kurang berguna akibat ketinggalan jaman dibanding gaya kerja kita. Produk-produk semacam ini harus dikenalkan dengan teknologi baru. Ada banyak teknologi baru yang bisa membuat produk dinosaurus tersebut lebih cocok dengan ritme produktivitas kita. Kirim newsletter tak harus bingung dengan mail merge, ada Mailchimp.

Apa lagi yang bisa dibuat lebih produktif dengan adanya offline storage, desktop notification, web workers, etc dalam HTML 5?

Embrace and expand

Siapa bilang checkin itu harus terkait lokasi? Semestinya check-in juga bisa untuk menandai proses menonton film, membaca buku, bermain game, dll. Kalau tak bisa mengalahkan Foursquare dan Gowalla di LBS, kembangkan konsep check-in ke bidang lain. Getglue dan gomiso mencoba hal ini dengan produk check-in ke film, buku, dll.

Ingin lebih jauh lagi? Jangan berhenti di check-in. check-in bisa mengumpulkan orang dalam satu topic dan waktu, what’s next? Ini peluang di mana produk Anda bisa masuk.

Start with what itch you most

Ini tips abadi yang bisa Anda dapatkan dari founder manapun. Jika kita memulai dari apa yang kita butuhkan, ada kemungkinan besar produk tersebut akan bisa melihat sinar matahari. Akan ada passion yangmengawal, dan ada kebutuhan yang menentukan arah produk. Self fulfilling, tak perlu tergantung pihak manapun.

Coba sebut produk lokal dan tentukan masuk di mana? Menarik juga kalau kita bisa dilihat statistiknya.

Menagih Janji Location Based Service

Menagih Janji Location Based Service

Location Based Service, pertama kita kenal lewat FourSquare. Yang kita dengar, seorang pengunjung rutin pub mendapatkan gelar Mayor karena frekuensi kunjungannya. Dan dengan gelar Mayor pub ini maka dia berhak akan reward sejumlah beberapa dollar atau layanan ekstra lain. Idealnya seperti itu, namun sejauh ini rasanya kita tak banyak mendapatkan manfaat kecuali kesenangan di milis dan mendapatkan badges dari layanan LBS ini.

Sebenarnya apa saja yang dijanjikan LBS dan bagaimana kenyataannya sampai hari ini?

Reward for Loyal Customer

Well, sebenarnya ini tidak dijanjikan oleh LBS langsung namun oleh para merchant yang memakai LBS untuk memasarkan atau menambah experience di produknya. Tapi ternyata sampai sekarang tidak banyak atau hampir tidak ada yang bisa memanfaatkan LBS dan memenuhi janji memanjakan loyal customer. Entah pendekatan pemakain LBS yang kurang tepat sehingga tidak ada pengunjung yang berpartisipasi dalam kampanye atau LBS memang sama sekali belum memenuhi kriteria layanan yang dicari merchant. Takut dengan jumper?

Connecting Near-by Friends

Salah satu janji LBS yang menarik adalah mempermudahkan pertemuan antar teman. Sering kita tak tahu ternyata teman-teman kita berada di tempat yang sedang kita kunjungi. LBS menjanjikan kita bisa lebih connect dengan teman-teman kita karena posisi tiap-tiap orang bisa terlacak.

Namun yang terjadi adakah kita justru memanfaatkan media lain (Twitter) untuk menyebarkan posisi kita dan mengatur pertemuan dengan teman. LBS tidak jadi core connecting tool. Yang menggagalkan janji LB ini bukan ketiadaan push notification tapi soal integrasinya dengan perangkat bergerak yang kita gunakan. Notifikasi diberikan saat teman kita checkin di suatu tempat namun kita sedang tidak di sana. Informasi ini terkadang jadi tak relevan dan tak tepat timingnya.

Push Near-by Promo

Masih ingat Minority Report? Saat iklan berganti begitu Tom Cruise melewati sebuah koridor. LBS juga punya janji untuk memenuhi kecanggihan itu. Namun lagi-lagi kita jarang mendengar kisahnya apalagi kisah sukses. Dengan berbekal lokasi pengguna, semestinya siapapun sudah bisa melakukan push-promo ke pengunjung yang lewat. Dari segi peminat pengiklan, pasti jumlahnya banyak. Lebih targeted secara lokasi yang berarti begitu bisa ditimbulkan keinginan untuk membeli maka tidak akan ada banyak halangan untuk terjadi konversi. Apa yang membuatnya tidak jalan?

The Game Changer

LBS adalah layanan yang menarik namun lahir prematur. Teknologi pendukungnya ada tapi belum benar-benar sempurna dan mencapai citical mass. Ada dua hal utama yang menghambat perkembangannya. Pertama dari sisi teknologi. GPS dan alat penentu lokasi lain belum terlekat secara default ke tiap perangkat bergerak. Pun terekat, konsumsi dayanya sering membuat orang sengaja mematikan fitur tersebut.

Saya membayangkan nantinya ada NFC (Near Field Communication) dengan dukungan range yang lebih dari 10cm. Terinstall di masing-masing merchant dan perangkat bergerak kita. Menjadi semacam sensor saat kita mendekat dan mengirimkan notifikasi tak mengganggu tentang diskon atau sisa reward point kita.

Faktor kedua yang menghambat perkembangan LBS adalah privasi. Auto-checkin pernah diperkenalkan oleh beberapa aplikasi LBS namun pemakainya masih agak enggan karena ada kekhawatiran tentang terbaginya data yang harusnya privat. Ada yang pakai? Data lokasi sepertinya perlu dibungkus dengan semacam OAuth dan merchant akan berperan sebagai aplikasi yang meminta permisi ke tiap akses lokasi. Dengan demikian kita bsia mengendalikan siapa saja yang otomatis bisa mengetahui lokasi kita.

Tanpa auto-checkin, LBS rasanya bak WiFi yang harus kita set setiap kali hendak dipakai. Menyebalkan, namun untungnya tidak demikian. Begitu kita datang, koneksi WiFi sudah langsung on dan kita bisa segera mengupdate status Facebook.

PS:

  • Sepertinya saya sempat mendengar ada Telco yang sudah melakukan push-promo berbasis lokasi. Ada yang bisa membantu dengan informasi lebih lanjut?