Browsed by
Month: March 2012

Social Media App No More

Social Media App No More

Dilepasnya 18 orang pegawai Seesmic memberikan sinyal yang cukup kuat. Bahwa model bisnis social media client app itu antara susah dan tidak ada. Walaupun basis penggunanya besar, profitnya sangat susah untuk diperoleh. Mengolah konten 140 karakter menjadi revenue pun juga susah dilakukan. Tidak banyak yang bisa memberikan nilai tambah pada pemakai aplikasi tersebut. List, mute, search, that’s it. Ada juga yang mencoba berbeda seperti aplikasi Bottlenose. Yang memberikan konteks pada lini masa. Berharap menjadi nilai tambah dari sekedar melihat dan membaca.

Kenapa Iklan Tidak Berjalan?

Yang lain, surut. Dibeli AOL (Brizzly), pindah kuadran ke pay-only a.k.a enterprise (CoTweet) atau mengambang “menunggu keberuntungan” sebelum kehabisan napas. Model bisnis default biasanya adalah iklan. Namun sampai sekian tahun tak seorangpun bisa menemukan bentuk iklan yang tepat untuk lini masa. Pernahkan Anda melihat twitter client dengan iklan? Saya tak bisa mengingat.

Seharusnya nilai pasang iklan di aplikasi seperti ini bisa sangat tinggi karena aplikasi selalu dibuka dan kerap di baca. Apa karena linimasa terlalu cepat untuk dianalisa? Tidak juga karena bisa disampling. Atau karena sudah terbukti konversinya kecil?

In stream app memang pelik, tapi model iklan tradisional tetap bisa dipakai. Sesuai policy twitter:

You may advertise in close proximity to the Twitter timeline (e.g., banner ads above or below timeline), but there must be a clear separation between Twitter content and your advertisements.

Why? Lebih ke persoalan teknis atau legal terms (dengan Ad network)?

App on App

App on App adalah salah satu cara memonetasi data dan pengguna. Karena seringkali orang lain punya ide yang lebih cerdas dari kita. Karena kita tidak tahu apa saja yang dibutuhkan pengguna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Crowdsourcing growth, dan kalau bisa crowdsourcing revenue <insert grin here>.

Ingat OneForty? OneForty dulu berniat menjadi app marketplace untuk Twitter. Sekarang sudah pivot ke bisnis enterprise dengan pitch: Social Business Hub.

We’re a buyers’ guide for businesses who want to invest wisely in doing social right.

Saya sedang mencoba membaca pitch itu lagi dan lagi, tidak mengerti juga. Seharusnya App on App itu bisnis yang mudah karena kita hanya menyediakan platform lalu memanggil developer untuk mengisi marketplace. Tapi bagian rumitnya adalah proses memanggil developer ke dalam ekosistem kita. Hint: Playbook.

What’s for the future?

Apakah akan terjadi konvergensi ke model enterprise? Kalau iya, kasihan pengguna non enterprise. Walau sering susah disuruh bayar, pengguna non enterprise adalah motor inovasi. Bayarnya tidak pakai uang, tapi dengan kerelaan menjadi kelinci percobaan atau menjadi hype machine. Banyak yang sudah berinvestasi waktu dan komitmen untuk memakai satu aplikasi tertentu namun di kemudian hari ditinggalkan karena aplikasi terkait banting setir ke model bisnis enterprise.

Perlu iterasi kembali bagaimana supaya sekian juta pengguna gratisan ini bisa dimonetisasi. Attention economy is just a fad at the moment. It falls on your L of P/L. On server billing and development cost that never stop.

Sebentar lagi, mungkin akan muncul paradigma: Money-first development. Sudah ada tanda-tanda dengan maraknya twit: bangun bisnis, bukan startup.

PS:

Bottlenose tahu, yang berharga bagi Anda adalah waktu.

Photo by joodi
It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

bcolbow:

If you’re going to successfully evolve into a new medium you can’t just add gimmicks, you have to substantially upgrade the user experience. If you asked anyone 15 years ago what the future of music looked like they would have told you that it was about fidelity, listening to an album would sound like you were at a concert or in the center of the orchestra pit. But that hasn’t been the case, in fact the overall quality of the music we listen to has gone down. The experience of being able to fit your entire music collection in your pocket, or stream any song to your phone leapfrogged any fidelity improvements other formats like DVD audio could make.

Oh no. Ini bukan artikel orisinil. Ini reblog. Memancing diskusi. Apakah kamu puas dengan majalah digital yang ada sekarang ini? Puas? Baca majalah digital saja jarang? 😀

PS:

Beberapa tahun lalu kita heboh dengan e-paper. Kenapa tidak ada yang melahirkan ulang e-paper ya? Tidak ekonomis dibanding versi digital dalam tablet?

Photo: blackbiscuits

Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Yang begitu jelas seringkali tak pernah terpikir. Oleh karena itu ada anjuran untuk selalu think out of the box. Apa yang jelas dari yang tak jelas? Contoh kali ini adalah website. Silahkan diambil tipe website apapun. Blog, situs e-commerce, dan lain-lain.

The First 7 Seconds

Procter & Gamble pernah membuat sebuah jabatan yang dinamakan Director of First Moment of Truth.P&G percaya bahwa keputusan untuk membeli terjadi dalam jangka 3 sampai 7 detik pertama saat calon pembeli melihat sebuah produk. Jika Anda sempat membaca buku Blink (Malcom Gladwell), maka langkah P&G ini sejalan dengan pendapat Malcolm Gladwell tentang pentingnya rapid recognition dalam proses pengambilan keputusan. Posisi Director FMOT pun diciptakan untuk memulai perang antar merk di rak-rak toko.

Adapting to Online Strategy

Membuat keputusan membeli hanyalah satu fase dalam sekian proses dalam rangka memindahkan barang di rak ke rumah pembeli. Jika kita telaah lebih jauh, ada proses yang terletak sebelum FMOT dan juga proses setelah FMOT. Jika Anda kerap membuat goal di dalam aplikasi analitik situs Anda, FMOT atau serangkaian funnel lain ini pasti sudah ada di sana. Hal inilah yang kerap tak kita pahami atau terlewatkan. Bahwa ada rangkaian Moment of Truth yang bisa kita pakai untuk menganalisa dan mengembangkan performa situs kita.

Funnels

Secara generik, funnel (corong) untuk terjadinya konversi (pembelian, komentar, sharing) dalam situs kita bisa didetilkan dalam tiga fase. Yang pertama tentunya adalah traffic. Tanpa input tak akan ada output. Fase ini disebut Zero Moment of Truth (ZMoT). Terjadi sebelum pembeli melihat produk kita. Di sini letak peran SEO, SEM dan sosial media.

Fase kedua, adalah First Moment of Truth. Berdefinisi sama dengan konsep FMOT P&G, terjadi saat pembeli pertama bertemu dengan produk Anda secara langsung. Saat inilah produk Anda berbicara. Jika produk Anda mampu membuktikan ide yang Anda sebar sebelumnya atau bahkan lebih baik maka pembeli akan bergeser ke fase selanjutnya: Konversi.

Tahap terakhir. Second Moment of Truth (atau Last Moment of Truth), menentukan apakah pembeli akan membawa produk Anda pulang. Petugas di PoS akan punya peran penting tersendiri. Jika terlalu lama mungkin produk akan batal dibeli. Jika kartu kredit ternyata tak membawa diskon dan malah memberi beban, barang pun tak akan dibeli. Dalam e-commerce Second Moment of Truth adalan checkout. Apakah biaya shipping murah? Apakah saya bisa membayar dengan mudah. Transfer bisa jadi opsi termudah bagi pembeli namun bisa jadi yang tersulit bagi situs e-commerce. Follow the money.

Numbers

Logis, atau bahkan mungkin klise. Tapi pembagian dalam langkah seperti di atas seringkali terlupa. Kita terjebak dalam jargon usability, responsive, mobile first dan lain-lain. Kita terjebak di FMoT sementara ZMoT gagal total. Semakin sukses ZMoT semakin besar pula peluang kita untuk mensukseskan FMoT. Semakin banyak guinea pig, semakin akurat pula eksperimen kita.

No more black magic. When in doubt, use numbers.

Photo by Jenn and Tony Bot

To check-in or not to check-in

To check-in or not to check-in

Now that Loopt (dubbed as the father/mother of LBS) has been bought. Gowalla shut down. Who will be the king of LBS? Are those company buying smaller player are hurting the innovation? Talent got acquired but for sure there won’t be any output within a short time. The lean experiments have to be scaled up, to match acquirer massive user base.

The only big players left is Foursquare — are they relieved and clapping? — (and SCVNGR?). And merchants are not really flying it. Remind me again, why this service is so sexy in the first place?

What spice are we missing? Is it the same spice missing in semantic web? Real world value? Have we been using incorrect misleading approach for this problem?

Jot down your doubt (or belief)!

Photo by: Reavel