Japan E-commerce

Japan E-commerce

Sebulan lagi, saya bakal genap setahun tinggal dan bekerja di Jepang. Apa yang kira-kira sudah saya pelajari sejauh ini? Yang jelas bukan bahasa Jepang ­čśÇ

Mobil dari perusahaan logistik Kuroneko (kucing hitam) Yamato

For everything else, there’s Rakuten

Kalau mencari buku, musik, video, action figure, memang ada situs-situs spesifik yang bisa dikunjungi. Tapi untuk sisanya, beberapa pilihan pasti tersedia di Rakuten. Ditambah dengan jangkauan harga yang murah banget sampai agak mahal.

Rakuten jadi semacam Bhinneka untuk e-commerce. Mungkin kita tidak bisa membandingkan secara spesifik satu jenis produk, tapi kita bisa bandingkan untuk mencari tahu apakah ada yang lebih murah. Atau, yang agak mahal apakah lebih bagus. Katalognya sangat besar.

Paypal is common, and everything else is well established

Banyak yang serba berkonsep layanan mandiri di Jepang. Mungkin tumbuh dari semangat efisiensinya di segala bidang. Di indonesia, fotokopi bisa dijadikan mata pekerjaan. Sementara di sini, fotokopi dioperasikan secara mandiri oleh pemakai. Layaknya vending machine, mesin fotokopi (sekaligus printer dokumen dan foto) bisa dipakai dengan koin atau e-wallet (kartu atau keitai).
Dengan kultur semacam ini, alat pembayaran online seperti paypal bisa dipersepsikan sebagai alat tukar lain dalam dunia serba layanan-mandiri tersebut.

Tak berarti metode pembayaran lain tak populer. Transfer lewat bank juga cukup standar walau rasionya sangat kecil dibandingkan pemakaian Paypal/CC (pengamatan pribadi). Selain itu masih ada pembayaran offline dan semi-online, seperti COD dan lewat konbini (convenience store). Beli barang online, lalu bayar saat barang datang atau bayar tunai di konbini. Convenience indeed.

Cheap, scheduled and trackable

Hal lain yang membuat belanja online begitu menyenangkan di Jepang adalah kenyamanan logistik. Logistik ditawarkan dengan harga dokumen (amplop) dan paket. Jadi merchant bisa menekan harga shipping sampai setipis mungkin ┬ásupaya tidak jadi penghalang transaksi pembelian. Kisaran ongkosnya sekitar 110 yen (flat rate all japan destination) sampai dengan 3000-an yen (30kg – terjauh). Dengan model subsidi silang, banyak merchant yang menawarkan flat rate untuk semua tujuan paket. Jika dikurskan ke rupiah memang masih mahal ongkos kirim di Jepang, tapi jika dilihat rasionya dengan harga barang maka ongkos kirim tersebut seringkali terlihat jadi recehan. Harga kaos termurah mungkin 1000-an yen, ongkos kirim ke semua destinasi 100 yen. Satu koin.

Belum lagi pengirimannya bisa dijadwalkan. Mau diterima hari apa (setidaknya seminggu setelah ketersediaan barang), dan di jangkauan jam berapa. Untuk jomblo, bisa minta dikirim ke kosan malam hari saat sudah pulang dari kerja.

Local Chances

Mengingat kondisi transportasi Jakarta yang memalukan jika dibandingkan dengan Tokyo, harusnya e-commerce bisa jadi solusi yang sangat nyaman untuk berbelanja. Begitu banyak pain point yang bisa diatasi lewat e-commerce. Harusnya e-commerce justru bisa lebih berkembang di Jakarta, tapi kenyataan tidak.

4 Tahun Kemudian

Yang barusan kamu baca adalah draft 4 tahun yang lalu.┬áSekarang lanskap commerce di Indonesia sudah diledakkan oleh Toped dan Bukalapak. Semakin banyak yang melakukan transaksi onlen baik melalui transaksi jual beli barang atau jual beli jasa. Bagi saya, sepertinya Go Food adalah layanan yang paling revolusioner ­čśÇ

Di Jepang, saya makin banyak tahu pelbagai macam situs tersedia untuk berbagai macam keperluan. Termasuk jasa delivery makanan yang minimum order dan ongkos antarnya membuat enggan pesan antar kecuali super malas.

Namun, yang terpenting adalah poin loyalti. Ada di mana-mana. Baik yang memakai sistem elektronik, atau sistem stempel. Beli dompet untuk menampung sederet kartu loyalti adalah mutlak. Apakah poinnya terasa? Tidak perlu menunggu setahun untuk mengikuti undian. Untuk sistem poin yang menduduki peringkat atas, poin bisa dipakai dan dikumpulkan tidak hanya di satu tempat. Dan tidak terbatas onlen atau offlen. Inilah kenapa belanja itu jadi lebih sepeti hiburan. Proses memilih dan memilah bisa memberikan kepuasan tersendiri.

Fakta lain adalah marketing yang meriah. Selalu saja ada sale. Apalagi untuk offline. Setiap bulan selalu ada tema yang dirayakan semua orang. Januari, tahun baru. Februari, valentine (cewek membelikan coklat untuk cowok). Maret, white day (cowok membelikan coklat untuk cewek). April, Sakura/Spring season. Dan seterusnya sampai musim Natal bulan Desember. Karena kompak seantero Jepang, tentu saja sangat efektif dalam mempengaruhi calon pembeli untuk berbelanja.

Jadi, lebih enak mana belanja offlen dibanding onlen. Walau judul artikel ini mencantumkan kata “e-commerce”, sebenarnya belanja offlen itu juga punya pengalaman yang susah dikopi. Kalau sedang┬ásumpek, keputusan paling jitu adalah masuk ke toko pernak-pernik 100 yen kemudian belanja barang-barang gak perlu tapi perlu. Puas bisa dapat banyak item tapi cuma keluar duit sedikit. ­čśÇ

Thumbs up buat pemain lokal. Titik yang Anda buat akan disambung di masa depan.

Times up. Walau tidak harus berangkat setengah lima pagi, masih harus bangun agak pagi supaya tidak ketinggalan kereta. Commuting di mana-mana sama ­čśÇ

Comments are closed.