Browsed by
Author: Toni

Happy Tokyo gaijin. Will code for food.
Japan E-commerce

Japan E-commerce

Sebulan lagi, saya bakal genap setahun tinggal dan bekerja di Jepang. Apa yang kira-kira sudah saya pelajari sejauh ini? Yang jelas bukan bahasa Jepang 😀

Mobil dari perusahaan logistik Kuroneko (kucing hitam) Yamato

For everything else, there’s Rakuten

Kalau mencari buku, musik, video, action figure, memang ada situs-situs spesifik yang bisa dikunjungi. Tapi untuk sisanya, beberapa pilihan pasti tersedia di Rakuten. Ditambah dengan jangkauan harga yang murah banget sampai agak mahal.

Rakuten jadi semacam Bhinneka untuk e-commerce. Mungkin kita tidak bisa membandingkan secara spesifik satu jenis produk, tapi kita bisa bandingkan untuk mencari tahu apakah ada yang lebih murah. Atau, yang agak mahal apakah lebih bagus. Katalognya sangat besar.

Paypal is common, and everything else is well established

Banyak yang serba berkonsep layanan mandiri di Jepang. Mungkin tumbuh dari semangat efisiensinya di segala bidang. Di indonesia, fotokopi bisa dijadikan mata pekerjaan. Sementara di sini, fotokopi dioperasikan secara mandiri oleh pemakai. Layaknya vending machine, mesin fotokopi (sekaligus printer dokumen dan foto) bisa dipakai dengan koin atau e-wallet (kartu atau keitai).
Dengan kultur semacam ini, alat pembayaran online seperti paypal bisa dipersepsikan sebagai alat tukar lain dalam dunia serba layanan-mandiri tersebut.

Tak berarti metode pembayaran lain tak populer. Transfer lewat bank juga cukup standar walau rasionya sangat kecil dibandingkan pemakaian Paypal/CC (pengamatan pribadi). Selain itu masih ada pembayaran offline dan semi-online, seperti COD dan lewat konbini (convenience store). Beli barang online, lalu bayar saat barang datang atau bayar tunai di konbini. Convenience indeed.

Cheap, scheduled and trackable

Hal lain yang membuat belanja online begitu menyenangkan di Jepang adalah kenyamanan logistik. Logistik ditawarkan dengan harga dokumen (amplop) dan paket. Jadi merchant bisa menekan harga shipping sampai setipis mungkin  supaya tidak jadi penghalang transaksi pembelian. Kisaran ongkosnya sekitar 110 yen (flat rate all japan destination) sampai dengan 3000-an yen (30kg – terjauh). Dengan model subsidi silang, banyak merchant yang menawarkan flat rate untuk semua tujuan paket. Jika dikurskan ke rupiah memang masih mahal ongkos kirim di Jepang, tapi jika dilihat rasionya dengan harga barang maka ongkos kirim tersebut seringkali terlihat jadi recehan. Harga kaos termurah mungkin 1000-an yen, ongkos kirim ke semua destinasi 100 yen. Satu koin.

Belum lagi pengirimannya bisa dijadwalkan. Mau diterima hari apa (setidaknya seminggu setelah ketersediaan barang), dan di jangkauan jam berapa. Untuk jomblo, bisa minta dikirim ke kosan malam hari saat sudah pulang dari kerja.

Local Chances

Mengingat kondisi transportasi Jakarta yang memalukan jika dibandingkan dengan Tokyo, harusnya e-commerce bisa jadi solusi yang sangat nyaman untuk berbelanja. Begitu banyak pain point yang bisa diatasi lewat e-commerce. Harusnya e-commerce justru bisa lebih berkembang di Jakarta, tapi kenyataan tidak.

4 Tahun Kemudian

Yang barusan kamu baca adalah draft 4 tahun yang lalu. Sekarang lanskap commerce di Indonesia sudah diledakkan oleh Toped dan Bukalapak. Semakin banyak yang melakukan transaksi onlen baik melalui transaksi jual beli barang atau jual beli jasa. Bagi saya, sepertinya Go Food adalah layanan yang paling revolusioner 😀

Di Jepang, saya makin banyak tahu pelbagai macam situs tersedia untuk berbagai macam keperluan. Termasuk jasa delivery makanan yang minimum order dan ongkos antarnya membuat enggan pesan antar kecuali super malas.

Namun, yang terpenting adalah poin loyalti. Ada di mana-mana. Baik yang memakai sistem elektronik, atau sistem stempel. Beli dompet untuk menampung sederet kartu loyalti adalah mutlak. Apakah poinnya terasa? Tidak perlu menunggu setahun untuk mengikuti undian. Untuk sistem poin yang menduduki peringkat atas, poin bisa dipakai dan dikumpulkan tidak hanya di satu tempat. Dan tidak terbatas onlen atau offlen. Inilah kenapa belanja itu jadi lebih sepeti hiburan. Proses memilih dan memilah bisa memberikan kepuasan tersendiri.

Fakta lain adalah marketing yang meriah. Selalu saja ada sale. Apalagi untuk offline. Setiap bulan selalu ada tema yang dirayakan semua orang. Januari, tahun baru. Februari, valentine (cewek membelikan coklat untuk cowok). Maret, white day (cowok membelikan coklat untuk cewek). April, Sakura/Spring season. Dan seterusnya sampai musim Natal bulan Desember. Karena kompak seantero Jepang, tentu saja sangat efektif dalam mempengaruhi calon pembeli untuk berbelanja.

Jadi, lebih enak mana belanja offlen dibanding onlen. Walau judul artikel ini mencantumkan kata “e-commerce”, sebenarnya belanja offlen itu juga punya pengalaman yang susah dikopi. Kalau sedang sumpek, keputusan paling jitu adalah masuk ke toko pernak-pernik 100 yen kemudian belanja barang-barang gak perlu tapi perlu. Puas bisa dapat banyak item tapi cuma keluar duit sedikit. 😀

Thumbs up buat pemain lokal. Titik yang Anda buat akan disambung di masa depan.

Times up. Walau tidak harus berangkat setengah lima pagi, masih harus bangun agak pagi supaya tidak ketinggalan kereta. Commuting di mana-mana sama 😀

Thin Client 2.0

Thin Client 2.0

Ketika semua komputasi bisa di-offload ke penyedia layanan komputasi, apa yang akan terjadi? Atarimae da! Tentu saja, hal-hal yang sangat menarik! Setelah membaca artikel ini (Amazon sedang head-to-head dengan VMWare di pasar desktop virtual), saya merasa super-excited. Hal ini, ditambah dengan Gaikai, OTOY, dll (lots will follow suit for sure) akan membuat semua jadi streamable. All of us will end up holding thin clients, exciting!

Upgrade no more

Well, setidaknya kita tak perlu lagi membuat anggaran untuk mengganti laptop/tablet/desktop kita dengan perngakat terbaru tiap 1-3 tahun sekali. Semua aplikasi dan data akan kita taruh di cloud. Upgrade OS dan penambahan fitur akan dikelola olah penyedia layanan. Buat kita, buka dan pakai. Begitu saja. Anggaran pembaruan perangkat keras akan dialihkan ke biaya berlangganan. Akan terasa mahal pada awalnya tapi juga akan sepadan dengan lebih minimalnya pengelolaan manual. Perlu main game dengan kebutuhan spesifikasi dewa? Just flip the switch and play. Tidak perlu pasang GPU, ganti processor, dan membeli memory baru. Full of joy!

New form factor!

About time! Saat mungkin kita cuma bisa bertemu smartphone dengan layar melengkung. Namun dengan berkurangnya kebutuhan processing power di perangkat kita maka akan ada pergeseran spesifikasi dasar perangkat semacam ini. A new form factor may rise soon! Dan bukan sekedar di dimensi resolusi.

Ditambah Internet of Things, banyak sensor yang saat ini builtin di smartphone akan jadi modular. Mungkin bisa direduksi jadi sekedar display and mini storage. Mungkin akhirnya bisa jadi gelang keren yang sering kita bayangkan.

 

More possibilites, a new open field for innovation (and of course, consumerism)! Are you ready? Start your engine early dammit! 😛

Marketplace Chicken and Egg Problem

Marketplace Chicken and Egg Problem

Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison ...
Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison to a chicken’s egg. (Photo credit: Wikipedia)

Ini materi tahun 2012 sebenarnya tapi tetap ingin ditulis supaya tak terbuang percuma. Rumus umum tapi seringkali terlupa karena gegap gempita peluncuran produk atau panik tiba-tiba karena kemunculan kompetitor. Saya sebut chicken and egg problem karena memang tidak ada titik pasti di mana kita harus memulai. You can start anywhere but make sure to iterate.

It got to be purple!

Yes, no brainer lah ya kalau mau jualan apapun memang harus punya produk keren dulu. Tapi masalahnya kan kita belum tahu siapa sebenarnya konsumen kita. Apakah yang mirip dengan kita, teman kita, atau teman dari teman kita? Yang memulai dari titik ini biasanya memulai dengan produk yang ia sukai. Belum tentu keren bagi orang lain tapi ya we need to start somewhere.

Know your customer!

Masih ingat fish where the fish are? Tentu saja jika ingin mendapatkan ikan harus memancing di tempat yang ada ikannya. Barang yang kita jual boleh saja keren dan harganya miring, tapi kalau tidak ada yang tahu atau yang tahu justru yang tidak minat dengan barang tersebut ya wassalam. “Ikan” bisa dicari di Facebook, Google atau tempat lain yang menawarkan iklan berbasis segmentasi. Tapi hati-hati, jangan gegabah, karena sekali ikan gagal dipancing maka akan sulit untuk didatangkan lagi. Ikan sekarang pintar-pintar.

Measure and iterate!

Tetaplah bereksperimen untuk mendapatkan kombinasi terbaik dari barang dan segmen konsumen. Your goal is not to serve your ideal. Your goal is profit. Kalau harus pivot, ya lakukan pivot. Tapi jangan asal. Ukur dan ulang ukur. Pastikan kita paham kenapa kita ambil sebuah langkah dan bagaimana mengukur kesuksesannya.

Nah, itu rumus umumnya. Sekarang mari dibahas apa yang kira-kira dicari penjual dan pembeli.

Penjual mencari pembeli

Oh ya jelas ini. Tapi yang biasanya masih mencari adalah yang tak punya banyak pembeli. Yang sudah punya merek biasanya tak ngoyo karena pembeli sudah tahu di mana mencari mereka. Pain point merchant yang bergabung di marketplace adalah kurang pembeli. Ngapain saya pajang barang di situ kalau gak ada yang beli? Jadi ya pastikan marketplace yang dibuka banyak selalu banyak pembelinya. Ingat, pembeli ya, bukan visitor.

Pembeli mencari pembanding

Menyediakan yang dicari tidaklah cukup. Pembeli menunggu sampai merasa mantap (atau impulsif) untuk membeli. Karenanya, jangan lupa sediakan pembanding berupa variasi piihan atau spesifikasi yang lebih informatif. Jika hal ini tak berhasil membuahkan konversi, mungkin kita harus cek harga. Kalau mahal ya jangan berharap banyak yang beli. Rumus gampang-gampang susah. Tapi jual murah tak berarti harus rugi. Ingat FREE.

Last but not least, jika Anda akan menendang 2013 dengan sebuah startup baru, jangan lupa baca artikel pedas ini. Selamat tahun baru 2013!
Second Screen App

Second Screen App

Second screen app, adalah aplikasi yang terpasang di layar tambahan yang berfungsi untuk memberikan added-value atau pengalaman ekstra pada konten pada layar utama.

Xbox SmartGlass

SmartGlass, IntoNow adalah salah satu contohnya. Masih belum paham juga? :headdesk: Oke, lihat video ini sampai habis lalu baca paragraf berikutnya

Perlu Gitu?

Ya tergantung mau pakai contoh kasus yang mana. Nonton bioskop tentu saja tidak perlu pakai second screen app. Tapi konten seperti pertandingan, atau serial televisi, bisa ditemani second screen app. Apapun yang bisa disela, berarti bisa ditemani dan diperkaya dengan second screen app.
Sudah sejak lama kita nge-tweet sambil nonton TV kan? Well, Twitter bisa jadi second screen app juga. Tapi, yang saya maksud dengan second screen app bukan app semacam Twitter. It has to be something richer.

It’s no men’s land

Iya, belum ada definisi eksak tentang apa saja yang harus dipenuhi oleh aplikasi sehingga bisa disebut second screen app. Adalah tanah tak bertuan, sama dengan SmartTV atau teknologi Augmented Reality yang belum punya contoh ideal. Tidak ada aplikasi yang sepenuhnya memuaskan (breath-taking), namun dari beberapa aplikasi yang sudah muncul, ada beberapa elemen yang dominan. Mungkin ini akan jadi tren di masa depan.

Literally, A second screen.

Karena memang layar utama kurang besar atau kurang pas untuk ditempeli dengan perkakas tambahan, maka layar kedua diperlukan. XBOX SmartGlass dan WiiU (bisa) memisahkan kontrol/pengaturan tambahan ke layar kedua. Layar kedua menjadi remote plus plus.

It’s boring, but yes it needs to be social

Mantra lama, tapi memang “social” ini bisa dihajar-tempelkan ke apa saja. Tarik semua elemen social media dan social network ke dalam aplikasi layar kedua yang selalu up-to-date dengan layar pertama. Dicontohkan di IntoNow, kita bisa membincangkan apa saja tentang acara yang kita lihat di linimasa twitter.

Navigating on TV sucks!

Layar besar memang susah dinavigasi. Beberapa tahun ini kita tak pernah lupa untuk membawa/menggenggam gadget dalam semua aktivitas kita. Portable, tapi tidak bodoh seperti remote. Sudah sangat pas untuk menelusuri direktori informasi, kecuali mengkonsumsi media secara megah. Zeebox mengerti hal ini dan menempatkan dirinya sebagai nahkoda konten. GetGlue, Gomiso juga sebenarnya bisa masuk di kategori ini.

It’s not easy to make one. You don’t say?

Iya, pendekatan supaya aplikasinya jadi breath-taking itu rocket science (untuk ukuran saya). IntoNow misalnya bisa mengenali acara hanya dari gambar (dan suara). Tapi tak harus terpaku di rocket science. Seamless memang keren, tapi value layar kedua ini bisa dieksplorasi lebih dominan daripada integrasinya. Bagian seamless itu lama-lama juga pasti jadi pustaka sumber terbuka. Percaya deh.

Epilog

So, yang masih bergelora bikin startup tapi kehabisan ide atau malas ikut komunitas merk gadget, bisa mencoba tantangan ini. Yang ngangur dan tak tahu lagi mau ngapain di internet juga bisa koding untuk mencari jawaban soal second screen app ini. Yakin, yang gatal bukan saya saja.

That one idea

That one idea

Apakah masih ada yang galau dengan startup? Serasa memiliki urusan yang belum selesai karena belum bikin startup? Bukan untuk jadi biliuner tapi sekedar menghilangkan hal yang membuat tidur tak nyaman. Tak bisa disalahkan. Startup itu ibarat teka-teki. Seringkali membuat kita berpikir: aku juga bisa memecahkannya.

One thing, at its best.

Sialnya, ide tak kunjung datang. Atau banyak ide datang tapi tak ada yang tampak cespleng. Semua ide yang datang hanya memenuhi kriteria “bisa dibikin”, tapi gagal menjawab “apa gunanya”.

Mungkin karena kita berpikir terlalu muluk. Karena ego dan gengsi, malu jika cuma keluar dengan aplikasi yang minim jargon teknologi atau fitur. Yang kita belum sadar, tren “there’s an app for that” sudah mulai menjangkiti dunia layanan web.

Mantranya masih sama: do it better (more effective and efficient), namun kali ini skalanya bisa satu fitur saja. Dan pengguna pun tak akan ragu untuk kembali ke layanan yang sama.

Ingat, semua aktivitas kita hanya berupa perulangan dari deretan aktivitas kecil yang setara dengan satu fitur. Urutan aktivitas tiap orang akan berbeda. Jadi tak usah sok pintar dengan menawarkan sederet aktivitas dalam satu layanan — kecuali deretan itu sudah jadi standar umum.

Create new value.

Ide di belakang instacanvas dan printerous sejalan dengan yang saya bicarakan barusan. Dengan tambahan penting: keberadaan layanan tersebut memberikan nilai baru pada hal yang sebelumnya tak terlalu bernilai.

Social, itu nilai yang diusung sejak awal web 2.0. Kini makna baru yang dikejar adalah personal — what’s in it for me. Narsis sudah dekat dengan tanggal kadaluarsa.

Make is easy, make it dirt cheap.

Karena faktor inilah Moo (semacam kartunama.net) jadi populer — membuat kartunama jadi terlalu mudah dan terlalu murah (well, ongkos kirim selalu mengganjal sih). Saya merasakan “getar” yang sama saat mencoba printerous (noo, ini bukan iklan — hanya contoh). Selain sejalan faktor “Creating new value” dengan mengguna ulang gambar instagram, proses mendaftar sampai checkout pun sangat mudah. Dan harganya (cukup) murah — sementara ongkos kirim masih digratiskan. Alur pemakaian layanan sangat minimalis dan tak menyisakan ruang bagi pengguna untuk mengeluh. Which is awesome — no unnecessary clutter.

It has to pay the bill, bro.

Bikin startup sekedar untuk pembuktian diri atau menjawab penasaran memang tak salah. Tapi tak inginkah kita menjawab teka-teki terbesarnya: “Apakah startup bisa membayar tagihanmu?”? Tidak harus tagihan, tapi something to put your mind and heart at ease. Yang bikin lo merasakan damai. Sometimes, most of the time, it’s all about bills.

Taruh poin ini di daftar paling atas. Jadikan pondasi, lalu bangun infrastruktur  teknologi dan operasi di sekitarnya. Jangan dibalik unless you can afford it.

 

Startup doesn’t matter, DIY culture does

Startup doesn’t matter, DIY culture does

Circa 2009-2010, Indonesia terkena demam yang bersumber dari Silicon Valley. Bocah nakal yang membangun Digg jadi role model. Sosok sempurna, pemberontak, yang tak mau mendengar kata orang lain. Impossible is possible. Dan berbagai ide konyol extra ordinary pun bermunculan. It’s about being cool. And hopefully a billionaire in the next morning.

DIY — Do It Yourself — adalah akar dari startup. It’s about scratching your own itch karena solusi yang ada tak dirasa mencukupi. Mulai dari membuat sesuatu yang baru atau menjadi gila dengan jalan re-inventing the wheel.

Growing up sucks.

Perkembangan dari tren hobi di garasi (2008) menjadi tren unit bisnis yang waspada finansial (2012) — pergeseran definisi startup — adalah hal yang patut diacungi jempol. Tapi bersama dengan pergeseran ini, rasanya kultur DIY juga jadi menyurut. Well, mungkin “pehobi garasi” jadi banyak yang menyadari bahwa starting-up itu tak sekedar membangun website. Seminar startup sudah menampar dengan keras, investor akan tertawa dalam hati: holy crap, what this person is trying to pull out with this silly idea.

Tren baru adalah memulai perusahaan sendiri. Banyak investor yang mulai mendanai perusahaan lokal. Kita pun merasa lebih dekat dengan citra Silicon Valley. Sementara itu, di akarnya kita justru tercerabut. Kita malah kehilangan spiritnya — kultur DIY. Kita seperti tercuci otaknya dan menghentikan semua ide jika tak mengarah ke model-model startup.

Should I blame mobile trend?

Web was the norm. Mashups were the the cool buzzword. Nowadays, people gravitates toward mobile app — so said where the money is. Developers gravitate to the end of the spectrum and only an a small fraction focuses on developing the platform.

Kalau tren mobile tak datang, evolusi web bakal lebih gila karena jadi single platform tanpa saingan. Kini, bahkan next trend pun diperkirakan lebih cenderung mengarah ke mobile. Mobile is the future.

I miss those geeks with those fool ideas. Tunggu, tunggu. Kita (pernah) punya kultur (web) DIY?

PS:

Kalau ada seminar startup atau developer conference, mbok yao undang-undang orang macam Ariya Hidayat.

Bro, kulturnya bro.

Foto oleh jimgris

Make it count!

Make it count!

RonaldWidha ini memang nyebelin. Pas ketika saya senang dengan naiknya nilai pagespeed, dia datang dengan twit di seperti ini:

Sad But True

Sebel, tapi pertanyaan itu memang ada benarnya. Terlalu sering kita berfokus pada kehebohan teknologi. Biar keren, Apache diganti Nginx. Aplikasi di-cache dengan Memcache. Oh, databasenya Nosql, pakai mongodb. Setelah itu, pusing karena tidak ada revenue dari apliasu aplikasi.

In the end, bisnis ya ujungnya harus profit. Kalau ingin nambah fitur atau ganti stack biar keren, hmm, tidak tega saya ngomongnya.

Fast is Better Than Slow

Google bilang seperti itu. Nalarnya simpel. Semakin cepat hasil pencarian muncul, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan tiap detik (secara keseluruhan). Efek lain seperti kepuasan pengguna, adalah alat bantu ukur dan bukan tujuan. Revenue harus 1 billion dollar, kepuasan pelanggan (kalau bisa) 100 persen.

Revenue per Line of Code?

Mengukurnya hanya bisa dilakukan jika kode sudah diluncurkan (deployed). Dan tidak mudah karena ada banyak faktor yang berpengaruh ke revenue. Mengklaim bahwa revenue 1 billion dollar terjadi karena ganti stack bisa memancing pertumpahan darah argumentasi.

Cost per Line of Code?

Saya lebih cenderung memilih unit ukur ini untuk menafsir keefektifan sumber kode. Berapa uang yang dikeluarkan untuk menghasilkan kode tersebut. Berapa orang, berapa jam. Dan supaya masuk akal, unit ukuran lain juga harus ada untuk dijadikan guideline kode seperti apa yang layak diukur. Seperti, berapa tes yang gagal, seberapa jauh menyimpang dari standar penulisan kode, dsb.

Focus on high leverage activities

Saya dapat kalimat ini di linimasa. Intinya, apapun aktifitas atau fitur yang anda tambahkan, pastinya hasilnya adalah termasuk highest impact. Daftar highest impact tentunya akan berbeda-beda di tiap tempat. Cara penyusunan daftar inilah yang perlu jam terbang tinggi. Beberapa bisa jadi simpel, tapi pada orang tertentu kadang tak tampak masuk akal. Coba saya baca versi panjang kalimat tersebut di Quora.

Jadi, whatever it is the code you’ll write. Make it count!

Photo by latemodelresto

Creativity Requires A Box

Creativity Requires A Box

Yoi. Kreativitas itu butuh kotak. Bukan sebagai wadah, tapi sebagai pemicu. Karena itulah kita kenal dengan konsep: Think out of the box.

Think out of the box.

Aneh memang. Creative juice kita selalu dipasung dengan syarat. Andai koneksi cepat. Andai payment gateway sudah mendukung. Dan andai-andai yang lain.

The truth is, ketika semua andai-andai itu sudah jadi kenyataan, mood kreatif kita justru hilang. Sialan kan? Atau shame on you?

Take me as an example. Dulu saya berandai-andai. Andai koneksi di Jogja itu kencang (circa 2004-2008) tentunya saya bisa berkontribusi banyak ke proyek open source. Sekarang, koneksi saya sudah berlipat jauh lebih baik dari saat itu, namun belum satu patch atau pet project baru pun saya mulai. Where’s the energy?

I have lost what once was my “box”.

Solve Nobody’s Problem.

Sebelum tulisan ini diberi label “curhat”, mari kita hubungkan dengan isu startup. Mudah-mudahan masih relevan.

Startup atau perusahaan perintis (Perutis?) selalu menjawab masalah (pain point) yang tak pernah eksis atau tak disadari keberadaannya. Segala macam andai-andai yang kita punya — dan hal-hal lain yang mempertanyakannya — adalah pain point. Inilah yang jadi basis Square, IKEA, KickStarter, dan lain-lain.

Startup answers pain point or creating a workaround for it.

WIRED FOR SCARCITY.

Tampaknya, otak manusia ini sudah di-hardwired untuk bereaksi terhadap kelangkaan. BBM langka. Ozon menipis. Salju mencair (es berkurang).

Begitu dihadapkan dengan abundance, otak kita mati. Kita tak lagi melihat masalah. Padahal, dibalik abundace pasti ada scarcity yang lain. BBM murah, konsumsi meningkat. Udara bersih berkurang, TPS capacity menurun. The problem is still there but our brain refuse to see it.

We just need to change our “box”, or put the box back. We need to see more than what meets the eye.

Note to Self.

Solving first world problem is not easy. Start with something small. No, smaller that what you are thinking now! Make yourself feels great, celebrate small wins. Then, without knowing it, you’ll have something listed on NASDAQ. And marries your girlfriend the next day! Or, settling down on beautiful beach house with your lovely wife and adorable boy and daughter (geek-daddy version).

Let’s put back the creativity box.

Photo by Dragan*
Social Media App No More

Social Media App No More

Dilepasnya 18 orang pegawai Seesmic memberikan sinyal yang cukup kuat. Bahwa model bisnis social media client app itu antara susah dan tidak ada. Walaupun basis penggunanya besar, profitnya sangat susah untuk diperoleh. Mengolah konten 140 karakter menjadi revenue pun juga susah dilakukan. Tidak banyak yang bisa memberikan nilai tambah pada pemakai aplikasi tersebut. List, mute, search, that’s it. Ada juga yang mencoba berbeda seperti aplikasi Bottlenose. Yang memberikan konteks pada lini masa. Berharap menjadi nilai tambah dari sekedar melihat dan membaca.

Kenapa Iklan Tidak Berjalan?

Yang lain, surut. Dibeli AOL (Brizzly), pindah kuadran ke pay-only a.k.a enterprise (CoTweet) atau mengambang “menunggu keberuntungan” sebelum kehabisan napas. Model bisnis default biasanya adalah iklan. Namun sampai sekian tahun tak seorangpun bisa menemukan bentuk iklan yang tepat untuk lini masa. Pernahkan Anda melihat twitter client dengan iklan? Saya tak bisa mengingat.

Seharusnya nilai pasang iklan di aplikasi seperti ini bisa sangat tinggi karena aplikasi selalu dibuka dan kerap di baca. Apa karena linimasa terlalu cepat untuk dianalisa? Tidak juga karena bisa disampling. Atau karena sudah terbukti konversinya kecil?

In stream app memang pelik, tapi model iklan tradisional tetap bisa dipakai. Sesuai policy twitter:

You may advertise in close proximity to the Twitter timeline (e.g., banner ads above or below timeline), but there must be a clear separation between Twitter content and your advertisements.

Why? Lebih ke persoalan teknis atau legal terms (dengan Ad network)?

App on App

App on App adalah salah satu cara memonetasi data dan pengguna. Karena seringkali orang lain punya ide yang lebih cerdas dari kita. Karena kita tidak tahu apa saja yang dibutuhkan pengguna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Crowdsourcing growth, dan kalau bisa crowdsourcing revenue <insert grin here>.

Ingat OneForty? OneForty dulu berniat menjadi app marketplace untuk Twitter. Sekarang sudah pivot ke bisnis enterprise dengan pitch: Social Business Hub.

We’re a buyers’ guide for businesses who want to invest wisely in doing social right.

Saya sedang mencoba membaca pitch itu lagi dan lagi, tidak mengerti juga. Seharusnya App on App itu bisnis yang mudah karena kita hanya menyediakan platform lalu memanggil developer untuk mengisi marketplace. Tapi bagian rumitnya adalah proses memanggil developer ke dalam ekosistem kita. Hint: Playbook.

What’s for the future?

Apakah akan terjadi konvergensi ke model enterprise? Kalau iya, kasihan pengguna non enterprise. Walau sering susah disuruh bayar, pengguna non enterprise adalah motor inovasi. Bayarnya tidak pakai uang, tapi dengan kerelaan menjadi kelinci percobaan atau menjadi hype machine. Banyak yang sudah berinvestasi waktu dan komitmen untuk memakai satu aplikasi tertentu namun di kemudian hari ditinggalkan karena aplikasi terkait banting setir ke model bisnis enterprise.

Perlu iterasi kembali bagaimana supaya sekian juta pengguna gratisan ini bisa dimonetisasi. Attention economy is just a fad at the moment. It falls on your L of P/L. On server billing and development cost that never stop.

Sebentar lagi, mungkin akan muncul paradigma: Money-first development. Sudah ada tanda-tanda dengan maraknya twit: bangun bisnis, bukan startup.

PS:

Bottlenose tahu, yang berharga bagi Anda adalah waktu.

Photo by joodi