Browsed by
Author: Toni

Happy Tokyo gaijin. Will code for food.
It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

bcolbow:

If you’re going to successfully evolve into a new medium you can’t just add gimmicks, you have to substantially upgrade the user experience. If you asked anyone 15 years ago what the future of music looked like they would have told you that it was about fidelity, listening to an album would sound like you were at a concert or in the center of the orchestra pit. But that hasn’t been the case, in fact the overall quality of the music we listen to has gone down. The experience of being able to fit your entire music collection in your pocket, or stream any song to your phone leapfrogged any fidelity improvements other formats like DVD audio could make.

Oh no. Ini bukan artikel orisinil. Ini reblog. Memancing diskusi. Apakah kamu puas dengan majalah digital yang ada sekarang ini? Puas? Baca majalah digital saja jarang? 😀

PS:

Beberapa tahun lalu kita heboh dengan e-paper. Kenapa tidak ada yang melahirkan ulang e-paper ya? Tidak ekonomis dibanding versi digital dalam tablet?

Photo: blackbiscuits

Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Yang begitu jelas seringkali tak pernah terpikir. Oleh karena itu ada anjuran untuk selalu think out of the box. Apa yang jelas dari yang tak jelas? Contoh kali ini adalah website. Silahkan diambil tipe website apapun. Blog, situs e-commerce, dan lain-lain.

The First 7 Seconds

Procter & Gamble pernah membuat sebuah jabatan yang dinamakan Director of First Moment of Truth.P&G percaya bahwa keputusan untuk membeli terjadi dalam jangka 3 sampai 7 detik pertama saat calon pembeli melihat sebuah produk. Jika Anda sempat membaca buku Blink (Malcom Gladwell), maka langkah P&G ini sejalan dengan pendapat Malcolm Gladwell tentang pentingnya rapid recognition dalam proses pengambilan keputusan. Posisi Director FMOT pun diciptakan untuk memulai perang antar merk di rak-rak toko.

Adapting to Online Strategy

Membuat keputusan membeli hanyalah satu fase dalam sekian proses dalam rangka memindahkan barang di rak ke rumah pembeli. Jika kita telaah lebih jauh, ada proses yang terletak sebelum FMOT dan juga proses setelah FMOT. Jika Anda kerap membuat goal di dalam aplikasi analitik situs Anda, FMOT atau serangkaian funnel lain ini pasti sudah ada di sana. Hal inilah yang kerap tak kita pahami atau terlewatkan. Bahwa ada rangkaian Moment of Truth yang bisa kita pakai untuk menganalisa dan mengembangkan performa situs kita.

Funnels

Secara generik, funnel (corong) untuk terjadinya konversi (pembelian, komentar, sharing) dalam situs kita bisa didetilkan dalam tiga fase. Yang pertama tentunya adalah traffic. Tanpa input tak akan ada output. Fase ini disebut Zero Moment of Truth (ZMoT). Terjadi sebelum pembeli melihat produk kita. Di sini letak peran SEO, SEM dan sosial media.

Fase kedua, adalah First Moment of Truth. Berdefinisi sama dengan konsep FMOT P&G, terjadi saat pembeli pertama bertemu dengan produk Anda secara langsung. Saat inilah produk Anda berbicara. Jika produk Anda mampu membuktikan ide yang Anda sebar sebelumnya atau bahkan lebih baik maka pembeli akan bergeser ke fase selanjutnya: Konversi.

Tahap terakhir. Second Moment of Truth (atau Last Moment of Truth), menentukan apakah pembeli akan membawa produk Anda pulang. Petugas di PoS akan punya peran penting tersendiri. Jika terlalu lama mungkin produk akan batal dibeli. Jika kartu kredit ternyata tak membawa diskon dan malah memberi beban, barang pun tak akan dibeli. Dalam e-commerce Second Moment of Truth adalan checkout. Apakah biaya shipping murah? Apakah saya bisa membayar dengan mudah. Transfer bisa jadi opsi termudah bagi pembeli namun bisa jadi yang tersulit bagi situs e-commerce. Follow the money.

Numbers

Logis, atau bahkan mungkin klise. Tapi pembagian dalam langkah seperti di atas seringkali terlupa. Kita terjebak dalam jargon usability, responsive, mobile first dan lain-lain. Kita terjebak di FMoT sementara ZMoT gagal total. Semakin sukses ZMoT semakin besar pula peluang kita untuk mensukseskan FMoT. Semakin banyak guinea pig, semakin akurat pula eksperimen kita.

No more black magic. When in doubt, use numbers.

Photo by Jenn and Tony Bot

To check-in or not to check-in

To check-in or not to check-in

Now that Loopt (dubbed as the father/mother of LBS) has been bought. Gowalla shut down. Who will be the king of LBS? Are those company buying smaller player are hurting the innovation? Talent got acquired but for sure there won’t be any output within a short time. The lean experiments have to be scaled up, to match acquirer massive user base.

The only big players left is Foursquare — are they relieved and clapping? — (and SCVNGR?). And merchants are not really flying it. Remind me again, why this service is so sexy in the first place?

What spice are we missing? Is it the same spice missing in semantic web? Real world value? Have we been using incorrect misleading approach for this problem?

Jot down your doubt (or belief)!

Photo by: Reavel

Brinx My Identity Anywhere!

Brinx My Identity Anywhere!

Bagaimana kalau url shortener itu bisa dikasih branding macam punya hootsuite, dkk. Asik kan ya? Kita bisa pasang foto kita di situ. Kalau di-RT/retweet, wajah rupawan kita bisa terbawa ke timeline orang. Jodoh lebih dekat jadinya. Terbayang tidak manfaatnya?!

Dan ternyata bisa loh kita memiliki branding di-link seperti itu. Dengan tampilan yang “gak malu-maluin” pula. Oh, pengen banget rasanya saya ngeplak yang bikin layanan ini. Ide sederhana, tapi segar dan cespleng banget. Cocok sangat buat menambahkan khasanah sisi di prisma identitas kita. Yes peeps, identity is a prism.

Brinx.it! Bawa deh identitasku ini! Tampilkan citra personalku dan citra produkku ke mana saja. Sedolar sebulan. OH MY GOD! Kayak gak bayar aja ini.

Sorry for my overwhelming words. It’s just too awesome to miss. You can even have your custom domain instead of brinx.it. It just so YOU. You can tweak your branded link as much as you want. You can write your own HTML if you feel default theme is annoyingly too great.

Have it your way. Brinx it on!

The Art of Selling Is Repeating Order

The Art of Selling Is Repeating Order

Well, kira-kira sih begitu. Repeat order memang jadi tujuan akhir. Menjual itu mudah. Gratis, murah banget, mahal banget, loss leader, bundling, dan lain-lain. Banyak cara bisa dilakukan untuk mendapatkan penjualan pertama. Termasuk groupon, yang kabarnya dan memicu repeat order. Layanan lain yang serupa punya masalah yang sama.

Bagaimana supaya bisa terjadi repeat order?

Yang pertama jelas soal jenis barangnya. FMCG (Fast Moving Consumer Good), pasti mendapat repeat order. Sisanya? Tergantung dari ke-ungu-an produk. Semakin ungu produk Anda, semakin besar harapan terjadi word of mouth. The holy grail of marketing.

Cara lain? Repeat first order. Tak perlu mendapatkan order lain dari konsumen yang sama. Yang penting dibujuk untuk beli setelah itu kita cari konsumen lain. Groupon lagi 😀

Cara lain lagi? Tidak ada. Cuma itu saja, repeat order pada konsumen yang sama, atau repeat first order pada konsumen yang berbeda-beda.

Photo by: Hunter Nield

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Tulisan menarik dari GetElastic, penyedia platform e-commerce Elastic Path. Platformnya mahal dan memang disarankan untuk pakai jika revenue sudah sampai sekian ribu dolar. Okelah memang serius banget softwarenya.

Back to article. Dari judul sih rada-rada jelas rada-rada ngeblur. Kenapa pertunangan menjadi penting dalam dunia e-commerce? LOL. Kenapa ya poin interaksi penting dalam jual beli online? Kenapa harus ditambah basa basi? Tujuannya sales kan? The sooner the better. Lebih ciamik lagi kalau bisa dapat returning customer.

Dari diagram yang di contohkan, kegiatan jual belinya itu ditaruh di belakang. Hampir sepertiga akhir. Lalu yang bagian depan sepertinya bakar-bakar uang entah untuk apa. Promosi, iklan, likes, download freemium, dll. Apa ya poinnya? Mengenalkan produk? Pasti dong, logical effect. But what is the intention?

Setelah saya ulang membaca, akhirnya ada sedikit titik terang. Because you can’t always sell. Oww, no way. I’m a great salesman. Pssh, ini bukan jualan iklan. Kecuali kita sudah sebesar Amazon, dengan long tail yang panjang dan menggurita, tidak setiap saat terjadi sales. Tidak semua barang cocok dengan keinginan konsumen. Lebih sering lagi tidak cocok dengan tanggal gajiannya. So? Jadi kalau semua kegiatan promo bla bla bla itu langsung kita paksakan untuk menjadi kegiatan jual beli, it means we are pretty much stupid 😀

Our best bet is to let user use our site longer, visit it more often to extend our sales pitch window. They’ll buy only when they feel like buying. Ada orang yang harus muter mangga dua dan ratu plaza dua kali sebelum akhirnya nyaman membeli. Kecuali Anda jualan Ferarri, Anda bisa hiraukan tipe konsumen seperti itu.

Jadi, kalau customer belum mau beli sekarang ya gak papa. Besok dia datang lagi kok. Bisa ditanyai lagi mau beli atau tidak. Seterusnya seperti itu. Dalam case Zynga, mereka mendapatkan kesempatan 3-7 menit sekali sesi untuk melakukan sales pitch. Dan dalam sehari bisa terjadi 7-11 sesi permainan. Panen, ngecek teman, obsesi whohoo, dll. Sehari mereka dapat window sales 77 menit. Dan itu customer yang meminta sales pitch.

Satu lagi yang penting sekali dalam artikel itu adalah tentang cara menempatkan sisi komersil produk kita. Value propotitionnya harus align dengan engagement dan fungsinya adalah meng-enhance. Suka tanam-tanam? Mau tanaman yang keren? Ini aku jual murah loh. Lagi keburu pengen panen? Bisa loh pakai potion ini. The experience is pretty much the same but way much better jika sales pitch kita diterima.

So, so, so? Selanjutnya terserah Anda. Jangan buang-buang duit marketing ya :p *digaplok*

PS:

Ini tulisan pertama NavinoT yang diketik dari Tokyo. Won’t be the last. Merry Christmas buat yang merayakan.

Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.

Minimum Viable Product

Minimum Viable Product


Dari judul mestinya sudah terbayang. Tentang produk, yang minimum. Minimum buat siapa?

Yang punya startup, yang sudah jadi founder atau yang bakal jadi founder, tentunya pernah bertanya kapan produk bisa dirilis. Apakah menganut mantra open source yakni release early release often. Atau memakai perasaan dan tingkat percaya diri. Atau menunggu sampai produk benar-benar matang tanpa ada 1 pixel salah.

Tentunya yang dikehendai adalah produk yang tidak memalukan, cukup berguna, dan tentunya bisa segera dirilis karena tak ingin kehilangan momentum. Kalau bisa sih produk yang langsung sempurna seperti konsep yang sudah kita tulis di kertas. Yang terakhir ini adalah keinginan berbahaya.

Minimum Viable Product is that version of a new product which allows a team to collect the maximum amount of validated learning about customers with the least effort. — Eric Ries, 2009

Yang kita cari seharusnya adalah MVP. Produk yang bisa dipakai untuk mempelajari konsumen yang kita sasar, dengan syarat menghabiskan waktu pengembangan minimal. Contoh yang paling gampang dicerna misalnya saat Bill Gates menelpon produsen Altair bahwa dia sudah membuat program BASIC yang bisa berjalan di komputer Altair. Bill Gates akhirnya mendapatkan pengetahuan (insight) tentang produk seperti apa yang bisa dia jual. — padahal Bill Gates dan Paul Allen belum membuat BASIC. Ide program BASIC ini bisa disebut MVP. It doesn’t even need to be a real product. Tentunya resiko mengikuti model MVP yang seperti jualan asap ini.

Berikut ini adalah tiga hal yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi MVP:

  1. Avoid building products that nobody wants
  2. Maximize the learning per dollar spent
  3. Get the facts before it’s too late

Cukup jelas kan? Jadi saat produk kamu rilis, pastikan kamu bisa menggunakannya untuk validated learning. Don’t let it fail, if happens, for nothing.

Untuk belajar lebih banyak tentang MVP dan konsep Lean Startup yang menaunginya, silakan tonton video di bawah ini. Jangan lupa beli bukunya dan atau belajar online lewat Veri.com. Trust me, Veri ini keren buat belajar.

PS:
Selamat Hari Bloger!

Google+ Recap: The Future is Voice

Google+ Recap: The Future is Voice

Jika Anda mendapati blog ini jarang diupdate, maka Anda benar. Satu dua kali saya mendapati keluhan: “terakhir di-update bulan Juni”. Sangat menarik dan bangga untuk mendapatkan keluhan seperti ini. Jarang-jarang seorang band mendapatkan teriakan “Encore”. Saya tak ingin berbesar kepala, tapi saya anggap saja ini memang teriakan “encore”. I can use anything to boost up my writing mood these days.

The truth is, writing about startups is like playing catching up with something that always running. It will never get done. On a business perspective, this is a very good asset. It made sure you have product to sell for a long period of time. But on other side, it demands a good preparation of fuel. Otherwise, you’ll be left out and losing the momentum. Just like what you see in this blog *big grin*

Fret not. The passion is not dead, yet. I still tweets, and recently plussing a lot as well. I still love to thinker with the same subjects that start this blog: marketing dan tech. I just watched a few episodes of Mad Men. It’s nice, which is a good sign. It’s recommended by people in agencies. Means, I’m still on my track with marketing subject.

Okay, to cure your “missing you” of NavinoT, and to fulfill the ‘encore” screams, here I recap some of (well, we’ll see if I can actually managed to write more than one) my posts in G+.

The Future Is Voice

It is interesting to see how lower economical class ppl have left sms and turn to voice, especially the seniors. It’s pretty much in opposite with the phone habit where ppl are afraid the (long distance or cellular) bill.

Maybe the future should have been voice-enabled technology. The telcos should realigning their data-is-future strategy. Those grassroot had helped blowing up twitter and facebook. Only God knows what they’ll do next.

Do you know any startup targetting seniors?

And I got comment from @amasna. YAY! You know you’re good if @amasna pays you a visit. To convince @amasna (and @richardfang) I told ’em I see the trend on the economy buses. I once afraid on using too much phoning, I still do. But those people I see are not afraid at all. Texting is second. There are two probable cause. One, voice is too cheap to meter than text. Second, the qwerty/keypad is just too small for them.

I consider this trend to be “enlighting”. It is a big shift in consumption behaviour. While youngster has been crowned as the most lucrative consumer, the seniors are a niche market. It will always be there. While young consumers are nasty to please (Oh God, just search Twitter on how they yawn, and curse your good enough product), seniors are easily identified by their physical limits. It’s a clear and well defined consumer. A sitting duck. How’s that sound?

Kalau tidak salah, di luar negeri saya pernah baca ada semacam Yahoo! Pipe untuk layanan voice, dan tahun lalu layanan serupa juga dibuat oleh founder lokal. Dua-duanya saya lupa nama produknya. Ada yang ingat?

PS:

In case you didn’t know, commenting on article will push it up. It’s like “Sundul” in Kaskus and “BUMP” in Koprol. Similar to G+ stream.

Photo: http://www.flickr.com/photos/whatmegsaid/3223533904/

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.