Browsed by
Author: Ivan

No longer in Chicago, but already home in Surabaya. No longer employed, but building a team. No longer talking, but also doing.
Building a Policy

Building a Policy

Yang paling kita takuti adalah sistem hukum Indonesia, terkait dengan mindset para business owner, terutama yang sudah berumur. Yaitu tentang pandangan mereka terhadap user review. Beberapa menganggap ini sebagai momok yang dengan mudahnya dimanfaatkan oleh lawan bisnis.

Begitulah kutipan dari wawancara tentang peluncuran Goorme. Pembaca Andre P. Siregar (harusnya namaku juga Siregar lho.) bertanya bagaimana kewajiban / tanggung jawab sebuah perusahaan mengenai hal ini.

Read More Read More

Internet and Communities

Internet and Communities

Internet is a beautiful thing – Episode Naruto terbaru baru saja ditampilkan di stasiun televisi di Jepang. Tidak lama setelah usai, sudah dikemas ulang dan disebarkan lewat torrent. Episode terbaru tersebut mulai diunduh oleh ribuat orang, seeders and leechers, tapi banyak penggemar yang berdomisili di Amerika Serikat tidak bisa berbahasa Jepang. Selang satu hari, seorang fan Naruto keturunan Jepang yang tinggal di Los Angeles tleah selesai dengan subtitle episode Naruto tersebut, dalam bahasa Inggris.

Sekarang semua bisa menikmati episode Naruto terbaru, berkat beberapa aktifis sukarela, lewat internet. Indah bukan?

Read More Read More

Plasa.com: Jalan Masih Panjang

Plasa.com: Jalan Masih Panjang

Akhirnya si raksasa keluar juga dari lubangnya, mungkin si Toni bisa sedikit lega, menarik nafas panjang, sambil mengambil camilan untuk menaikkan berat badan. 🙂

Seperti yang kita ketahui, Plasa.com merupakan upaya Telkom untuk menguasai dunia maya dengan anggaran yang tidak tanggung-tanggung. Dana sebesar 2 juta dollar (dan 2 juta dollar lagi) untuk sebuah portal memang sangatlah besar, terutama bagi para start-up yang masih garuk-garuk kepala mencari sokongan modal.

Menanggapi pertanyaan Media Ide tentang Plasa.com yang baru, mungkin yang paling tepat adalah Jalannya masih panjang.

Mengapa demikian? Karena market Indonesia baik penjual maupun pembeli masih perlu diedukasi. Buktinya sebagai portal yang lahir kembali sebagai sebuah online marketplace, dan mampu membeli blocking time siaran televisi untuk acara peluncuran, Plasa.com masih belum berani mengandalkan revenue dari sisi e-commerce. Bukankah Plasa.com sudah seharusnya membangun trust dari awal? Walaupun tampaknya sudah lumayan dengan adanya toko-toko ternama di deretan merchant Plasa.com.

Bila kembali lagi ke advertising sebagai senjata utama untuk revenue, maka Plasa.com bukanlah e-commerce, melainkan sebuah publikasi, layaknya media online lainnya (online news portal or magazine misalnya).

Lanjut ke segi tampilan, apa mungkin karena kurangnya barang yang diperdagangkan, Plasa.com jadinya tidak semarak online marketplace pada umumnya. Tampilannya masih setengah publikasi dan kurang adanya ide belanja yang menarik atau promo-promo yang terkait lainnya.

Untuk sebuah online marketplace, navigasi yang ditawarkan juga sangatlah payah untuk menjelajahi halaman-halaman barang. Tampaknya karena yang digaet juga sebagian besar toko ternama, seperti Gramedia atau Pasaraya, mungkin mereka diharuskan menyodorkan nama toko terlebih dahulu, bukannya barang dagangan.

Meluncur ke menu lainnya, tampaknya Plasa.com bukanlah sekedar e-commerce platform, melainkan masih ada news, yaitu agregasi berita dari portal berita lokal. Selain itu Plasa.com juga masih mempertahankan komunitas yang merupakan asal usul Plasa.com sebelumnya, yaitu … err… segala sesuatu termasuk forum, komunitas, dan layanan email.

Mengingat beberapa layanan e-commerce yang sudah ada, seperti eBay atau Amazon, mereka terus berusaha meningkatkan kenikmatan berbelanja dengan jutaan barang, penjual, dan pembeli. Satu set tool untuk navigasi, harus dirancang sedemikian rupa agar semua pihak merasa puas dan enak untuk digunakan. Shopping behavior dari pembeli baju, lain dengan pembeli komputer atau laptop. Sedangkan Plasa.com masih harus mengurus komunitas, dan agregasi content? Terdengar terlampau banyak hal yang perlu ditangani.

Angka 2 juta 4 juta dollar memang sempat membuat ciut hati para pemain e-commerce lainnya, namun seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa jalan yang ditempuh masih panjang. Bukan berarti apa yang dilakukan Plasa.com sekarang ini salah, tapi ini adalah sebuah langkah dari suatu proses. Yang juga bisa berarti belum ada pemenang, sehingga pemain lainnya seperti Tokopedia, BukaLapak yang baru muncul, dan Juale yang giat seminar masih mempunyai kesempatan yang terbuka lebar.

Telkom + Toko Ternama + Selebriti + TV Launching + US$ 4 Juta = A Great Mix, but too early to tell — 6 Bulan lagi?

Catatan: Tanggal 1 April nanti, Plasa.com akan mulai menambahkan merchant SME atau UKM. Moga-moga tambah meriah.

Apa komentarmu?

Beberapa Skenario Transaksi Online

Beberapa Skenario Transaksi Online

Seseorang membeli sesuatu lewat Internet. Anggap saja transaksi primitif tanpa penengah, tanpa marketplace. Secara normal, setelah transaksi disetujui, pembayaran dilakukan, pesanan dikirim, pesanan diterima, maka transaksi boleh dinyatakan sukses.

Dalam prakteknya, bisa terjadi beberapa skenario, yang boleh dianggap sebagai penipuan atau celah dari proses yang telah ada.

Read More Read More

Facebook Fan Page Strategy: Lack of Goals

Facebook Fan Page Strategy: Lack of Goals

Sekarang mungkin kata “Facebook Fan Page” bukan lagi hal baru. Popularitas Facebook di Indonesia yang notabene berjumlah sangat besar itu, semakin memikat para brand owner (termasuk personal branding) untuk berpartisipasi.

Bentuk dari partisipasi tersebut juga bermacam-macam. Beberapa dengan kreatif melakukan kampanye social media, tapi juga tidak banyak yang tidak terlalu sukses dengan aksinya di Facebook.

Read More Read More

It Started with an Idea

It Started with an Idea

Artikel berikut ini merupakan tulisan dari William Tanuwijaya (Tokopedia), sebagai serangkaian kampanye untuk meramaikan COMPFEST 2010.

It can happen anytime, anywhere.

Biasanya perjalanan panjang start-up dimulai dari ide yang bisa jadi muncul kapan saja, entah itu saat makan siang, atau bahkan saat naik ojek. Saat ide-ide itu muncul, seberapa kecil hingga seberapa gila ide tersebut, tidak ada salahnya untuk selalu dicatat. Setelah beberapa waktu, coba baca kembali catatan tersebut, barangkali dari ide-ide yang ada, satu diantaranya bisa menjadi tiket membangun sebuah startup yang sukses.

Don’t be afraid to reinvent the wheel

Jangan takut jika ide kamu dikritisi sebagai ide yang sudah usang. Ingat, Google bukan search engine pertama di dunia, Facebook pun bukan social network pertama di dunia. Jika duo Sergey Brin – Larry Page, dan Mark Zuckerberg tidak takut untuk reinvent the wheel, para founder Tokopedia pun tidak takut untuk membangun sebuah situs e-commerce yang “katanya” sudah sering gagal di pasar Indonesia. So, as long as you believe in the idea, fight for it!

Hence, create your own unique positioning

Tidak masalah untuk reinvent the wheel, namun tetap harus bisa menciptakan positioning yang membedakan kamu dengan para pemain-lama di bidang yang dimasuki. Facebook misalnya menjadi sangat populer dengan fitur tag-photo dan Facebook-apps nya; sementara Google memperkenalkan algoritma pagerank yang menjadikan hasil pencariannya lebih relevan dari para pendahulunya. Tokopedia sendiri bertaruh di konsep online marketplace dimana transaksi terjadi langsung di situsnya yang memposisikan Tokopedia berbeda dibanding para pendahulunya yang umumnya lebih berfungsi sebagai classified-ads dimana transaksi terjadi di luar situs.

Never stop believing

Perjalanan panjang ini tidak akan mudah. Halangan dan tantangan akan selalu datang di setiap tahapan, mulai dari pencarian ide, dana investasi, pengembangan, pemasaran, fund-raising, hingga operasional harian. Para co-founder Tokopedia misalnya butuh waktu 2 tahun, hingga mimpinya terwujud. Andai kami menyerah pada halangan / penolakan pertama, tentu tidak akan ada tokopedia.com di hari ini. Pada banyak kasus, bukan seberapa brilliant ide yang ada yang menjadikannya berhasil, tapi seberapa kuat determinasi dan keyakinan atas ide itu sendiri. So, never stop believing!


Dalam semangat berbagi, rekan saya sesama co-founder Tokopedia, Leon, akan hadir berbagi pengalaman di COMPFEST 2010, mengisi seminar dengan tema “How to build startups!” pada tanggal 9 May 2010, 15.30 WIB.

9 Cara UKM Melihat Social Media

9 Cara UKM Melihat Social Media

Siapapun Anda, entah freelancer atau start-up owners, yang pernah menawarkan jasa atau layanan kepada barisan UKM, tentunya akan mengalami hal-hal yang sama. Yang intinya pebisnis UKM secara umum, terutama yang sudah mapan, menunjukan tanda-tanda kurangnya rasa tertarik, kepercayaan, pengertian, atau kepastian, bahwa UKM bisa mengambil keuntungan dengan memanfaatkan internet, atau khususnya social media.

Beberapa survey terakhir, meskipun dengan responden non-Indonesia, juga menunjukkan bahwa layanan seperti Twitter tidak begitu bermanfaat untuk bisnisnya.

Begitu juga dengan artikel terkahir di majalah InfoKomputer, tentang kiprah LewatMana dan Urbanesia, yang menunjukkan suatu persetujuan bahwa adanya tantangan besar untuk menawarkan layanan (web) kepada para UKM.

Dari beberapa pengalaman yang saya dapat di pasar, juga terdapat reaksi yang sama. Setelah dikumpulkan dan disaring, berikut adalah beberapa kesimpulan bagaimana UKM yang masih tradisional melihat peluang pemasaran lewat Internet, terutama dengan memanfaatkan social media.

Read More Read More

How Narrow is Narrow?

How Narrow is Narrow?

Berangkat dari fakta bahwa dalam persaingan kita tidak akan pernah menguasai pasar sepenuhnya (kecuali monopoli, yang sudah tidak ada lagi persaingan.), kita berusaha bergeliatan mengatasi keadaan. Dalam dunia internet, kita juga tidak bisa membuat suatu layanan yang memuaskan semua orang, dari berbagai kalangan dengan berbagai macam minat.

Oleh karena itu, salah satu cara adalah dengan mempersempit topik atau pasar, dengan kata lain melakukan segmentasi. Dari begitu banyak topik yang bisa dibahas dalam suatu surat kabar, kita mempersempit pilihan kita pada suatu topik, atau industri.

Dengan topik yang lebih sempit, kita mempunyai beberapa keuntungan. Satu di antaranya adalah kita bisa menarget komunitas niche. Dengan cara ini kita bisa menyesuaikan bahasa (marketing) kita dan menitik-beratkan pengeluaran biaya iklan.

Read More Read More

About Us: Building Trust

About Us: Building Trust

Industri Internet Indonesia mulai berkembang, dan pengguna kita mulai dewasa dengan beranjak ke macam penggunaan Internet yang lebih serius, seperti transaksi jual beli, hal-hal yang melibatkan keamanan data, atau kepentingan privacy.

Dengan konsekuensi persaingan yang semakin sengit, sebagai penyedia layanan kita juga harus peka akan hal ini. Kadang kala kita lalai akan hal-hal sepele yang sangat membantu reputasi kita di dunia maya.

Salah satunya adalah halaman “About” atau “Contact” yang sangatlah umum di sebuah peta situs. Mengapa demikian penting?

Read More Read More