Browsed by
Category: Enterprise

Anything related to enterprise world. Cloud computing, acquisition, etc

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

image

Kenapa Facebook ingin membuat smartphone? Mungkin karena merasa punya value seperti google account atau itunes account. Bahwa ada banyak layanan lain yang ber-evolusi di sekitarnya.

Google

Google walau punya banyak tapi tak seluruhnya integrated. Tapi beberapa di antaranya menjadi core of our life. Eg: search, gmail, docs, calendar. Ketika Android muncul di tangan kita, atribut-atribut online kita mulai tersinkronisasi ke smartphone. Magic happens. The cloud is in our hand.

Apple iTunes

Itunes account? Tak banyak yang bisa saya bilang karena saya tak punya. Bagi banyak orang itunes is music dan itunes is app. Mac is itunes. Bagi warga klub apple, valuenya tak dipertanyakan. iPhone yang berkutat seputar aplikasi dan music. Perangkat bergerak ini  menjadi center of apple user’s life.

Facebook

Bagaimana dengan Facebook? Tampaknya Facebook juga ingin menjadi pusat hidup kita. Sudah banyak kegiatan kita yang terkait demgan Facebook. Tak semua dari kita, paling tidak yang sering memperbarui status, foto dan komentar. Facebook punya jaringan pertemanan. Bagi beberapa orang, ini adalah jaringan sesungguhnya dan bukan sekedar atribut sosial. Jaringan ini adalah potensi besar untuk direalisasikan lebih jauh. Sudah berhasil dengan game. Hal lain yang lebih riil dalam aktifitas sehari-hari pasti bisa mengikuti jalan yang sama.

Tapi apa iya Facebook punya cukup value untuk dijadikan core sebuah smartphone? Cukup dengan jaringan pertemanan? Bahkan bagi pemain mafia wars die-hard pun belum tentu berminat dengan facebook phone.

iPhone dan Android is about OS (and hardware) differences. App doesn’t really matter anymore. Kalau Facebook, mau bikin diferensiasi di mana? Apa core value-nya? Apa bisa jadi center of our life?

Bagaimana menurutmu? Facebok sudah punya alasan cukup untuk membangun smartphone? Mozilla memurutmu juga harus bangun smartphone juga?

Banting Setir atau Tranformasi Terencana?

Banting Setir atau Tranformasi Terencana?

Ketika mendengar BazaarVoice dan produk tentang database reviewnya, saya membayangkan BazaarVoice ini dulunya pasti perusahaan kecil dengan ide sederhana. Dalam bayangan saya, perusahaan kecil tersebut terpelanting menjadi perusahaan jutaan dolar setelah tiba-tiba semua orang memerlukan produknya. Klien besar pun bisa ditepuk dengan mudah karena besaran database review yang dimiliki cukup signifikan dan relevan.

Saya belum mendapat cerita lengkap tentang perusahaan ini. Sejauh ini dari profil yang tercatat di VentureBeat dan CrunchBase, kita bisa melihat BazaarVoice sudah beberapa kali mendapatkan funding yang lumayan besar. Saya jadi agak ragu apakah besarnya perusahaan ini terjadi karena ada faktor keberuntungan atau memang benar-benar terencana.

Dari segi nama, BazaarVoice bisa diartikan suara pasar. Bazaar mengingatkan saya pada Bazaar and Cathedral The Cathedral and the Bazaar, esay tentang Open Source tulisan Richard Stallman Eric S. Raymond. Baazar menggambarkan proses bottom up, atau lebih populer dengan istilah user generated content. Dalam model Bazaar, partisipasi partisipan di dalamnya turut menentukan hasil akhir sebuah produk. Dalam konteks product review, penilaian dari pemakai suatu produk turut menentukan nilai akhir produk tersebut di mata konsumen.

Memilih kata Bazaar membuat saya lebih yakin bahwa perusahaan ini sudah dikonsep sedari awal untuk menaggregasi ulasan produk langsung dari para penggunanya. Dimulai dari tahun 2005, saya tidak tahu siapa target utama BazaarVoice ini. Apakah korporasi besar penjual produk online atau calon konsumen produk itu sendiri secara individual?

Jika targetnya adalah individu berarti sudah ada pergeseran besar dalam strategi bisnisnya. Klien BazaarVoice saat ini termasuk Bestbuy dan Walmart Costco. Dan kemungkinan besar Target, karena Target akan segera memperbarui platformnya dengan produk IBM (yang kompatibel dengan BazaarVoice).

Membayangkan transformasi semacam itu pasti membuat darah founder dan calon founder menjadi bergejolak. Yes, kita bisa bertransformasi dari consumer oriented product ke business oriented product. All you need is scale. Data kecil yang tak tampak terlalu berguna, jika terkumpul dalam jumlah besar ternyata akan punya nilai baru. Komentar produk jika dikumpulkan akan menjadi database mumpuni untuk pengambilan keputusan. Korporasi menginginkan data ini dalam rangka memberikan fasiltas pada konsumen, dan tak selalu digunakan sebagai komponen intelejensi bisnis.

Apakah Anda cukup sabar dan berencana mengikuti jejak BazaarVoice. Mulai dari barang sampah kali ya?

Posted with WordPress for BlackBerry (diperiksa di dekstop).

Startup Goes to Enterprise Market, How.

Startup Goes to Enterprise Market, How.

Startup selalu mulai dari sesuatu yang kecil. Jarang ada yang langsung menembak segmen enterprise karena segmen ini punya karakteristik tersendiri. Kebutuhan yang muncul dari segmen enterprise sebenarnya tidak jauh berbeda dari yang ada di segmen lain. Jika sebuah toko online memerlukan sarana pencatatan transaksi dan perhitungan laba rugi, segmen enterprise juga memerlukan hal sama. Tapi tentunya dengan beberapa atribut tambahan.

Scalability

Segmen enterprise tidak bermain dalam ukuran kecil. Jika kita ingin memasukkan produk ke dalam segmen enterprise berarti prosuk kita harus siap menangani data dalam jumlah besar. Masalah yang sebelumnya bisa diselesaikan dengan mudah lewat query SQL harus ditulis ulang demi menjaga performa saat bertemu jutaan record. Map reduce, perhitungan non realtime tiba-tiba jadi masuk akal. Jika sebelumnya data hanya ada di satu server, setelah masuk segmen enterprise data bsia tersebar di beberapa pulau atau benua. Produk yang sebelumya mumpuni di LAN menjadi hang setelah masuk segmen enterprise.

Industry Standard

Dunia enterprise adalah juga sebuah tribe. Enterprise punya bahasanya sendiri dalam berinteraksi satu sama lain. ISO menjadi acuan umum banyak organisasi. Di bidang finansial ada standar tersendiri, contohnya IFRS (International Financial Reporting Standard). Di dunia penerbitan buku ada sertifikasi Book Industry Study Group. Di dunia e-commerce ada PA-DSS yang mengawal keamanan transaksi elektronik. Semua standar ini mempengaruhi karakteristik yang harus dipenuhi oleh suatu produk yang akan masuk ke dalam segmen enterprise. Tidak hanya mampu memenuhi kapasitas tapi juga harus industry compliance.

Still, Start Small

Salesforce juga dimulai dari garasi dan tidak sebesar sekarang. Ada masa di mana Salesforce bertransformasi menjadi apa yang ada sekarang ini. Untuk masuk ke dalam segmen enterprise kita tetap harus berangkat dari pain point seperti biasa. Dalam perjalanan lebih jauh di dunia enterprise kita akan menemui pain point versi enterprise. Di titik itulah produk harus mulai bertransformasi. Di titik itulah produk mulai harus mempertimbangkan stack-stack yang juga enterprise ready sebagai pondasi. Tidak harus selalu proprietary, tapi harus selalu ditantangkan dengan faktor kecepatan transformassi dan biaya. Bisa dimulai dengan Eucalyptus, dan berujung di VMWare vSphere, misalnya dalam urusan scalability.

Are you ready?

Google dan Zynga, Ada Apa?

Google dan Zynga, Ada Apa?

Google ternyata berinvestasi $100+ mio di Zynga. Agak mengagetkan karena kita tak pernah dengar sebelumnya dan kita belum pernah melihat bahwa Google melirik-lirik area game. Facebook yang juga punya deal dengan Zynga sudah lama kita dengar beritanya. Demikian pula dengan Yahoo yang tersirat lewat game-game Zynga yang dipajang di Yahoo! Pulse. Apakah Google ingin meluncurkan website game yang akan dijual seperti MatchMoveGames (hint: KompasGames, DetikGames)?

Secret Recipe

Seperti yang kemarin sempat kita obrolkan di artikel tentang Woot. Menyalin sebuah kisah sukses itu tidak mudah. Kita bisa saja meniru semua komponen sebuah produk sama persis, atau mungkin lebih bagus tapi belum tentu kisah sukses akan berpindah ke tangan kita. Google yang sedemikian besar dan kaya mestinya tak masalah untuk sekedar meniru Zynga. Seperti juga Amazon dengan Zappos. Tapi kunci suksesnya mungkin tak terletak di komponen produknya, atau jumlah inventorinya. Zappos is about happyness. Hal ini tidak bisa disalin dengan mudah. Ada banyak kombinasi yang memang hanya terjadi lewat keberuntungan (preparation + opportunity) tertentu. Berbagai kombinasi faktor ini jadi secret recipe. Google ingin resep rahasia ini.

The Next Big Thing

Permainan adalah esensi dari banyak aktivitas. Kita bisa saja bilang bahwa Augmented reality dan Location Based Service (LBS) adalah the next big thing, tapi tetap saja kita perlu melapisinya dengan permainan. Jika tidak, akan sulit dilakukan interaksi dengan pengguna. Hal ini sudah terbukti dengan FourSquare, dan GetGlue. Badges di Foursquare dan GetGlue (semantic related) membuat misi yang semula mustahil atau membosankan menjadi executable.

Sementara game itu sendiri juga jadi kandidat sebagai the next big thing. Game online sudah lama ada dan sudah punya jaringan sosial tersendiri dalam satu game tersebut. Beberapa perusahaan besar seperti Blizzard, Microsoft (via XBOX) juga punya komunitas kuat. Namun gugusan pulau game ini belum terkoneksi satu sama lain. Google, yang sepertinya tak terlalu berbakat di dunia social, mungkin hendak mencoba sekali lagi terjun ke pasar ini.

The Usual Suspect?

Dengan rumor akan diluncurkannya Google Me, investasi ke Zynga ini jadi make sense. Banyak yang menduga Zynga akan jadi bagian penting dalam Google Me. Games memang bisa menarik banyak orang, namun jika yang dimaksud Google adalah game yang sama dengan apa yang ada di Facebook dan Yahoo!, tampaknya Google Me tak akan punya banyak value. Lagipula beberapa game Zynga pasti sudah diikat kontrak ekslusif beberapa tahun oleh Facebook.

Bagaimana dengan Chrome Games? Bisa jadi Zynga akan dibuka platformnya lewat Google Me dan diintegrasikan di chrome sebagai bagian dari Chrome App Store.

Kira-kira, apa yang terlihat dari kacamata Google sewaktu menatap Zynga?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Sudah tahu kan Woot telah dibeli oleh Amazon? Setelah Zappos, Woot yang juga terkenal dengan ciri khasnya kini menjadi bagian Amazon. Dua-duanya, Zappos dan Woot bergerak pada area yang sejajar dengan Amazon: jual beli. Apa sih kira-kira makna pembelian dua perusahaan unik ini bagi Amazon?

Less Unsold Inventory

Ini yang pertama terlintas di kepala saya. definitely not the best guess, tapi bisa make sense. Zappos dan Woot bisa jadi channel extra yang saling bersinergi dalam rangka meningkatnya sales Amazon. Woot terutama bisa jadi paltform untuk menjual barang yang kurang laku dan mengendon lama di gudang. Caranya? Woot sudah jago menjual barang-barang dengan strategi khas Woot. Menjual inventori Amazon tak akan jadi masalah besar. tentu saja tidak semua jenis inventori.

Hype Channel

Selain berfungis sebagai kanal penjualan ekstra bagi inventori Amazon, Woot juga bisa jadi kandidat kanal hype yang mumpuni. One Day, One Deal bisa dijadikan platform untuk memberikan teaser produk pada konsumen. Taruhlah ada produk baru yang akan segera dirilis ke pasar publik. Amazon bisa memanfaatkan Woot untuk sarana kampanye mengenalkan produk tersebut ke konsumen dalam packaging yang ekslusif. Tidak hanya bermanfaat bagi Amazon, jasa hype channel ini juga bisa dijual ke pihak luar walau mungkin akan jadi sedikit income extra. Pretty much like Twitter’s Promoted Trending Topics.

Business is A Game of Scaling

Bisnis adalah proses menemukan suatu model ekonomi yang mampu menghasilkan revenue lewat strategi tertentu. Jika model yang bisa membeirkan revenue ini sudah ditemukan maka kegiatan selanjutnya adalah proses mereplikasi model ini untuk melipatgandakan revenue. Woot dan Zappos adalah model ekonomi yang sudah terbukti bisa menghasilkan revenue. Dengan resource yang dimiliki Amazon, melakukan scaling atas model ekonomi Wot dan Zappos adalah hal yang memungkinkan. Double the sales force, double the market reach, double the shipping power, double everything and let’s see if the revenue doubles as well.

Kita tutup artikel ini dengan video monyet nge-rap dari Woot saat dibeli oleh Amazon.

Google Has It All, But

Google Has It All, But

Saya bukan orang yang sangat up to date soal gadget. Well, saya baca beritanya tapi kalau soal experiencing the real device itu lain cerita. Ketelatan saya ini juga berlaku untuk Google Latitude, baru belakangan ini saya bisa mencoba karena ada gadget agak pintar yang bisa dimuati Google Latitude. Apakah Google Latitude sangat mengagumkan?

Untuk gadget yang tidak punya GPS, Google Latitude masih bisa berjalan dengan cukup baik. Tergantung kartu telco yang Anda pilih, posisi realtime bisa diplot dengan presisi lumayan tinggi. Lebih banyak BTS, lebih besar presisi yang Anda dapat.

Google Latitude menjadi sebuah layer tambahan pada Google Map, selain layer satelite dan traffic view. Seperti layaknya Google Map di desktop, Anda bisa menjadi jalur mencapai tempat tertentu. Dan karena Google Latitude sudah mengetahui posiis realtime Anda, Anda bisa menggunakannya sebagai titik awal untuk mencapai suatu tempat. Dan karena posisi kita bisa terupdate secara realtime, Google Latitude ini bisa dipakai seperti perangkat GPS untuk navigasi itu. That’s not all. Karena posisi teman-teman kita di Latitude juga terupdate secara realtime (by their choice), kita jadi mudah untuk mengatur kopdar.

Now, let’s visit Google latest rumour: Google Me. Apa sih yang bisa dilakukan Facebook tapi tidak bisa dilakukan Google? Apa yang bisa dilakukan Twitter yang tidak bisa dilakukan Google?

Latitude, by far is an awesome infrastructure for location based service. Google punya lebih dulu dari pada geolocation support dari Twitter. Google sudah punya petanya, informasi lalu lintass bahkan streetview. Untuk location based service, Google jauh lebih siap dari banyak nominasi yang lain.

Facebook stream? Friendfeed model is not a rocket science for Google (founder Friendfeed adalah jebolan Google). Walaupun Google sepertinya lebih tertarik ke masalah yang lebih pelik (mungkin karena Google cenderung selalu mengambil pendekatan akademis): realtime collaboration a.k.a Google Wave. Facebook Video, Google punya Youtube yang tiap iterasi tampak lebih menarik. Photos, Picasa tak terlalu tak terlalu populer tapi dekstop app-nya punya banyak kelebihan untuk masalah koleksi foto. Tambahan fitur face recognition beberapa waktu lalu di Picasa 3 jadi salah satu killer feature yang bisa banyak membantu kegiatan koleksi foto. Kita bisa punya virtual album berdasar wajah.

Apalagi yang diperlukan untuk social network? Network graph, Google punya social graph yang terintegrasi dengan layanan searchnya. Integrasi dengan layanan di luar Google juga tersedia lewat Buzz, albeit not much. Social graph ini juga menjadi lebih luas ketika pengguna melengkapi akun-akun social media dan social networknya di Google Profile.

Apa sih ya yang ditunggu Google? Mungkin Google sadar sekedar meniru Facebook tak akan memenangkan banyak orang. Mungkin Google masih menunggu saat yang tepat dan tiba-tiba: BOOM! Semua layanan Google yang sekarang tercerai berai di pelbagai segmen mulai terintegrasi satu persatu membentuk Google World. Google Me, all of google prop for me.

Punya bahan masak yang langka membuat koki punya dua pilihan. Pertama, memakai resep sama untuk membuat masakan dengan bahan terbaik demi memunculkan citarasa baru. Atau kedua, membuat resep yang sama sekali baru.

Menurutmu Google pilih yang mana?

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Tanggal 22 Juni kemarin saya mendapat undangan untuk hadir di acara peluncuran produk Google. Tidak dituliskan produk apa yang akan diluncurkan. Dan tenyata setelah sampai di sana saya baru sadar ini adalah “chrome party”. Tradisi yang mirip dengan peluncuran Ubuntu terbaru atau Firefox paling gres. Jika Firefox dan Ubuntu sudah punya representasi resmi di Indonesia, lain halnya dengan Chrome.

Chrome Resmi Masuk Indonesia

Ruangan di chrome party diset seperti galeri. Tidak ada lukisan yang dipajang namun sebagai gantinya kita bisa melihat theme Chrome bernuansa lokal yang ditempel di dinding lorong masuk ruangan. Peserta chrome party juga mendapat kesempatan difoto dengan frame Chrome yang memuat halaman Youtube. Hasilnya kita seperti sedang tampil dalam video Youtube, dalam Google Chrome browser.

Ditandai dengan theme sepert Bambang Pamungkas, Benny & Mice, Dian Sastro dan Darbots, Chrome meresmikan eksistensi dirinya dalam komunitas internet Indonesia. Beberapa situs besar juga digandeng lewat penyediaan extension, antara lain: Kaskus, Kapan Lagi, Detik, dan 21Cineplex. berbagai tema lokal tersebut bisa diunduh di halaman resmi Chrome untuk Indonesia: http://google.co.id/chrome

We Are Here Not For Market Domination

Paling tidak begitulah kata Product Manager Chrome untuk South Asia. Dan ini bukan cerita baru. Beberapa kali saya dengar ambisinya memang bukan market domination — walau hasil akhirnya adalah market domination juga. Google is trying to is push the culture and technology. Dengan menciptakan product baru yang keren dan beberapa kali mengubah standar, Google mendorong iklim kompetisi dan akhirnya meningkatkan kualitas standar sebuah lini produk. Google Mail dengan kemampuan offline, javascript intensive, conversation UI dll membuat produsen browser sadar bahwa dengan support teknologi yang baik akan dihasilkan produk yang baik juga. Konsumen juga secara tidak langsung teredukasi untuk meninggalkan browser purbakala. This is how they kill IE6.

Lalu untuk pasar Indonesia, apa yang hendak disampaikan? Mungkin sekedar memberi tahu para pengguna internet bahwa jika mereka sudah akrab dengan GMail, mereka mestinya mencoba Chrome. Chrome is as good as GMail. Google tahu bahwa banyak di antara kita yang tidak bisa membedakan mail client dengan outlook atau gmail atau yahoo mail. Dan juga tak bisa membedakan antara internet, search engine dan browser. Chrome is now your internet 😀

Next Step For Google?

Dominasi Indonesia di dunia intenet internasional sudah sangat terkenal. Langkah perkenalan browser ini hanya testing the water. Google pastinya punya banyak rencana untuk tapping Indonesian market. It’s no brainer. Pemasaran Chrome secara resmi di Indonesia akan menjadi salah satu channel Google dalam mendalami secara langsung market di Indonesia. Dan karena mobile internet sedang tren juga, next step rasanya bakal jadi obvious: Android. Dan layaknya seperti yang dilakukan Google dengan Chrome, Android akan di-push bukan sebagai henpon atau gadget lain tapi sebagai the mobile internet itself.

BTW, hari ini kabarnya jadi hari resmi dimana media partner Google akan promo Chrome versi Indonesia.

PS:

Tema lokal bisa diunduh di https://tools.google.com/chrome/intl/id/themes/index.html

Chrome juga sudah dibundel lewat modem AHA, lho.

Google I/O, Wassup?

Google I/O, Wassup?

Google I/O sudah selesai beberapa waktu lalu. Dalam waktu 2 hari, Google memanjakan peserta Google I/O dengan 3 buah handset gratis dan juga keynote dan sesi teknis tentang beberapa hal terkini tentang Google. Keynote-nya tidak benar-benar mengguncang, beberapa orang malah agak kecewa karena ekpektasinya tak terpenuhi. Nevertheless, mari kita coba lihat beberapa yang menarik atau yang berpotensi menarik di masa depan terkait Google I/O.

App Engine for Business and Cloud Portability

Mahal. Begitulah kesan saya setelah mendengarkan keynotenya. Well, dunia bisnis memang tak pernah murah. Dengan tambahan SLA, enkripsi  lewat HTTPS, dan juga SQL rasanya sudah bisa jadi jaminan yang mencukupi bagi instansi bisnis yang ingin mencoba App Engine. Kalau tak salah tarifnya bakal dipasang di $8 / user month, flat. Jadi tidak perlu lagi memikirkan quota CPU, storage atau bandwidth lagi. Untuk CPU rasanya bakal tetap ada batas namun tidak akan sepelit edisi free-nya.

Dalam rangka mengobarkan konsep openness  — sebagai strategi untuk menggaet pendukung filosofi openness, dan juga sekaligus “menyerang” Apple — Google menyuguhkan API standar lewat Roo (Spring) dan GWT. Dengan tawaran ini, diharapkan pengguna tidak akan lagi pernah terkurung (locked-in) dalam satu cloud karena keputusan awal yang dibuat saat memilih arsitektur sistem. Supaya solusi ini lebih bersifat end-to-end, Google menggandeng VMWare sebagai partner.

Konsep openness semacam ini sebenarnya bermata dua. Di satu sisi ini menandakan keyakinan diri akan kualitas dan menghilangkan keengganan pengguna yang ingin coba-coba. Namun di sisi lain ini berarti pengguna yang sedikit kecewa bisa segera langsung pindah tanpa banyak pertimbangan (biasanya orang malas pindah karena proses migrasi justru memberikan masalah).

Frozen Yoghurt (Froyo)

Kalau kalian sudah menyimak Temanmacet edisi spesial Google I/O, kalian akan tahu bahwa salah satu hal penting di Froyo adalah keberadaan JIT (Just In Time compiler). Kode yang biasanya dieksekusi dalam bentuk bytecode (berada di tengah-tengah antara high level dan low level language), kini akan di-compile oleh JIT menjadi bahasa mesin (low level). Akibatnya tentu saja proses eksekusi jadi lebih cepat karena overhead eksekusi bytecode bisa dikurangi.

Yang juga cukup menakjubkan adalah konsep instalasi aplikasi. Biasanya kita mendownload aplikasi ke PC atau Mac, lalu mentransfer aplikasi tersebut lewat kabel data ke device kita. Itu masa lalu. Kini, saat kita menekan tombol “Download”, aplikasi akan dikirim langsung ke device kita Over The Air. Pop! Tiba-tiba saja aplikasi tersebut muncul di Nexus One (tergantung koneksi).

Tak mau kalah dengan iAd, Android juga akan mendukung iklan dalam aplikasi. Dengan konsep openness, iklan yang dilayani akan bervariasi. Baik dari segi visual atau sumber. Dari segi visual, iklan bisa berbentuk teks sederhana sampai dengan rich media yang terintegrasi dengan fitur “call”, “map” dan tentunya mendukung Flash. Selain dari inventori Google, iklan juga akan disediakan lewat DoubleClick. Contextual? You bet. It’s Google’s game you know.

Google TV

Selama ini saya baru kenal Boxee, XBMC dan Windows Media Center. UI Google TV lebih mirip Windows Media Center. Daftar aplikasi dilist secara vertikal dan detilnya berada di sebalah kanan. Aplikasi bisa diinstall lewat OTA, sama dengan yang tersedia di Froyo.

Jika Boxee dan Wndows Media Center masih memerlukan sebuah PC, Google TV nantinya bakal bisa dinikmati secara instan tanpa PC. Akhir tahun ini Sony dan Logitech akan mulai menjual TV terinstall dengan Google TV dan juga tersedia perangkat tambahan terpisah bagi yang tak ingin berganti TV. Android pastinya bakal jadi software yang mengisi Sony/Google TV, dan mungkin juga berlaku hal yang sama untuk Logitech.

Google TV ini nantinya akan bisa dikontrol lewat handset Android. Spesifikasi remote kontrol ini akan dibuat publik sehingga developer bisa berkreasi menciptakan pengalaman interaksi dengan Google TV sesuai selera. lagi-lagi Google berjualan konsep openness.

Tapi openness hanya satu sisi menarik saja. Yang disrupting adalah contextual TV. Slogannya adalah TV meets Web. Web Meets TV. Web masuk TV menjadi instan, no boot or whatsoever. It is always playing something (begitu menyala, selalu ada show yang diputar). Sementara di sisi lain, TV menjadi media dua arah. Pengguna akan punya lebih banyak kontrol atas apa yang ingin dikonsumsinya. Dan TV pun menjadi kontekstual karena teknologi Web.

Bisakah Anda bayangkan jika TV mengerti Anda? Related show, iklan yang sesuai suasana hati. Bagi penonton, televisi bakal jadi media yang totally entertaining. Bagi pengiklan, it is like dream come true. Akhirnya mereka bisa meraih penonton dan menyuguhkan apa yang penonton inginkan. Huzzah untuk kenaikan konversi iklan!

Tak tanggung-tanggung, untuk urusan Google TV ini (dan juga beberapa hal lain, eg: HTML 5), Google menggandeng sejumlah partner besar. Tapi khusus untuk Google TV, saya tak melihat ada partner konten. Did I miss it?

Plasa.com: Jalan Masih Panjang

Plasa.com: Jalan Masih Panjang

Akhirnya si raksasa keluar juga dari lubangnya, mungkin si Toni bisa sedikit lega, menarik nafas panjang, sambil mengambil camilan untuk menaikkan berat badan. 🙂

Seperti yang kita ketahui, Plasa.com merupakan upaya Telkom untuk menguasai dunia maya dengan anggaran yang tidak tanggung-tanggung. Dana sebesar 2 juta dollar (dan 2 juta dollar lagi) untuk sebuah portal memang sangatlah besar, terutama bagi para start-up yang masih garuk-garuk kepala mencari sokongan modal.

Menanggapi pertanyaan Media Ide tentang Plasa.com yang baru, mungkin yang paling tepat adalah Jalannya masih panjang.

Mengapa demikian? Karena market Indonesia baik penjual maupun pembeli masih perlu diedukasi. Buktinya sebagai portal yang lahir kembali sebagai sebuah online marketplace, dan mampu membeli blocking time siaran televisi untuk acara peluncuran, Plasa.com masih belum berani mengandalkan revenue dari sisi e-commerce. Bukankah Plasa.com sudah seharusnya membangun trust dari awal? Walaupun tampaknya sudah lumayan dengan adanya toko-toko ternama di deretan merchant Plasa.com.

Bila kembali lagi ke advertising sebagai senjata utama untuk revenue, maka Plasa.com bukanlah e-commerce, melainkan sebuah publikasi, layaknya media online lainnya (online news portal or magazine misalnya).

Lanjut ke segi tampilan, apa mungkin karena kurangnya barang yang diperdagangkan, Plasa.com jadinya tidak semarak online marketplace pada umumnya. Tampilannya masih setengah publikasi dan kurang adanya ide belanja yang menarik atau promo-promo yang terkait lainnya.

Untuk sebuah online marketplace, navigasi yang ditawarkan juga sangatlah payah untuk menjelajahi halaman-halaman barang. Tampaknya karena yang digaet juga sebagian besar toko ternama, seperti Gramedia atau Pasaraya, mungkin mereka diharuskan menyodorkan nama toko terlebih dahulu, bukannya barang dagangan.

Meluncur ke menu lainnya, tampaknya Plasa.com bukanlah sekedar e-commerce platform, melainkan masih ada news, yaitu agregasi berita dari portal berita lokal. Selain itu Plasa.com juga masih mempertahankan komunitas yang merupakan asal usul Plasa.com sebelumnya, yaitu … err… segala sesuatu termasuk forum, komunitas, dan layanan email.

Mengingat beberapa layanan e-commerce yang sudah ada, seperti eBay atau Amazon, mereka terus berusaha meningkatkan kenikmatan berbelanja dengan jutaan barang, penjual, dan pembeli. Satu set tool untuk navigasi, harus dirancang sedemikian rupa agar semua pihak merasa puas dan enak untuk digunakan. Shopping behavior dari pembeli baju, lain dengan pembeli komputer atau laptop. Sedangkan Plasa.com masih harus mengurus komunitas, dan agregasi content? Terdengar terlampau banyak hal yang perlu ditangani.

Angka 2 juta 4 juta dollar memang sempat membuat ciut hati para pemain e-commerce lainnya, namun seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa jalan yang ditempuh masih panjang. Bukan berarti apa yang dilakukan Plasa.com sekarang ini salah, tapi ini adalah sebuah langkah dari suatu proses. Yang juga bisa berarti belum ada pemenang, sehingga pemain lainnya seperti Tokopedia, BukaLapak yang baru muncul, dan Juale yang giat seminar masih mempunyai kesempatan yang terbuka lebar.

Telkom + Toko Ternama + Selebriti + TV Launching + US$ 4 Juta = A Great Mix, but too early to tell — 6 Bulan lagi?

Catatan: Tanggal 1 April nanti, Plasa.com akan mulai menambahkan merchant SME atau UKM. Moga-moga tambah meriah.

Apa komentarmu?

Apa yang kita inginkan dari WebOS dan Webtop?

Apa yang kita inginkan dari WebOS dan Webtop?

Kita mulai dulu dari definisi WebOS. Yang saya maksud dengan Web OS adalah produk-produk seperti ChromeOS, dan Jolicloud. EyeOS dan GHOST tidak termasuk dalam cakupan definisi ini karena dua yang terakhir ini lebih menurut saya lebih pas untuk masuk dalam kategori Web Desktop (Webtop).

Function over Fashion

Tak bisa kita pungkiri. Cloud adalah salah satu trend saat ini. Walau mungkin fasenya sudah masuk bagian graph laggard, ditandai dengan begitu menyatunya cloud dalam keseharian kita. Dengan semboyan sekedar berada di cloud, suatu produk web OS bisa dikatakan lebih condong ke arah fashion. Being fashionable is cool, but what really counts in the end of the day is how much productivity we can achieve. Web OS tidak harus sekedar keren, bisa mengemulasi desktop dalam web namun berat dan ternyata fiturnya tak seberapa. Padahal kompleksitas aktivitas kita makin bertambah tiap harinya. Siapa yang tidak ingin bisa melakukan editing gambar langsung di dalam dashboard WordPress?

Saya bukan fan Webtop karena mereka berusaha reinventing the wheel (jika kita lihat dari perspektif fungsi). Yang saya cari adalah bagaimana cara menggunakan aplikasi secara lebih efektif, dengan nilai tambah cloud-enabled. Memunculkan kembali taskbar, start button, aplikasi word processor baru dan lain-lain bukanlah yang saya cari.

Less Distraction

Siapa yang tidak senang dengan setting minimalis. Saat pertama kali mendapati komputer yang baru diinstall OS kita senang karena tampilannya baru, mengkilat dan banyak hal yang bisa dieksplorasi. Namun tak beberapa lama, kita akan segera menambahkan berbagai perkakas baru karena tidak semua hal yang hendak kita lakukan bisa difasilitasi oleh instalasi awal tersebut. Ujungnya kita akan berhadapan dengan sistem yang kian lambat dan menu yang begitu panjang dan susah di-browse. Di saat seperti itu kita kembali mendambakan instalasi dasar yang hanya berisi yang penting-penting saja.

Chrome browser hits the sweet spot here. Chrome menyajikan browser dengan porsi terbesar pada tab, bahkan area caption window dan menu pun direduksi. Yang tersisa adalah tombol navigasi, bookmark dan kotak URL. Mereduksi menu menjadi dua tombol dan meletakkannya di luar pola F membuat user kian fokus pada halaman web yang sedang dimuat. Di bagian atas window hanya terdapat tab saja, pandangan mata tidak harus dibingungkan oleh hal lain. Kita tidak harus ‘ngoyo’ menempatkan pandangan di antara kotak URL dan warna-warni halaman web. Lepas padangan ke atas, batasnya adalah tepian layar.

New Paradigm, More Productivity

Web OS sepertinya memang membawa paradigma baru dalam pemodelan dekstop. Desktop komputer yang selama ini kita kenal memang dibangun mirip dengan perilaku desktop sesungguhnya. Berkas bisa dipindahkan dengan drag and drog dan ditaruh di mana pun. Mudah memang namun hasilnya tak selalu baik. Seringkali kita kaget dengan desktop yang berantakan dan sama sekali tak pernah kita tengok. Hey, we only works with windows. Kapan terakhir kali Anda lihat wallpaper di desktop?

Seperti yang sempat saya singgung di atas, harusnya yang ditemukan adalah how to do things better. Lepaskan metafora desktop yang selama ini kita pakai. Ambil metafora baru yang disediakan oleh cloud: always on, available everywhere, anytime. Mungkin shell/desktop harus bisa dinamis menyesuaikan dengan aktivitas pengguna. Expand the Photoshop into a fullblown desktop?

Menurutmu, seperti apa Web OS atau Webtop yang ideal?